Makalah
Retorika
Dalam Konteks Sejarah

Dosen
Pengampu:
Dr.
H. Sunarto AS, M.EI
Kelompok
2:
Khoirotul
Nikmah (B01219023)
Kevin
Naufal Al-Hakim (B01217024)
Adinda
Nurul Izza (B91219081)
KOMUNIKASI
DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
S
U R A B A Y A
2021
Kata
Pengantar
Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Retorika Dalam Konteks
Sejarah”. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu
syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Retorika. Selama penyusunan makalah ini
penulis mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah
ini dapat diselesaikan dalam tepat waktu. Dalam hal ini penulis menyampaikan
ucapan terima kasih atas bimbingan dan bantuan yang telah diberikan oleh:
1.
Bpk. Dr. H. Sunarto AS, M.EI selaku dosen pengampu mata kuliah Retorika.
2.
Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun
materil.
3.
Teman-teman sepejuangan kami.
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak terlepas dari kekurangan. Untuk
itu penulis senantiasa terbuka menerima kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak guna kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini kedepan. Akhir kata
kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini penulis
mengucapkan banyak terimakasih.
Jazakumullah
Khairan Katsiro.
Surabaya,
03 Maret 2021 Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar
2
Daftar Isi
3
Latar Belakang
4
BAB I Retorika Pada Zaman Yunani
5
A. Sejarah
dan Perkembangan
5
B. Ciri
dan Karakteristik
7
BAB II Retorika Pada Zaman Romawi
8
A. Sejarah
dan Perkembangan
8
B. Ciri
dan Karteristik
10
BAB III Retorika Pada Zaman Abad Pertengahan
11
A. Sejarah
dan Perkembangan
11
B. Ciri
dan Karakteristik
12
BAB IV Retorika Pada Zaman Modern
14
A. Sejarah
dan Perkembangan
14
B. Ciri
dan Karakteristik
16
BAB V Penutup
17
A. Kesimpulan
17
B. Saran
17
Daftar Pustaka
18
Latar
Belakang
Retorika
merupakan ilmu yang telah melalui sejarah yang panjang, mulai dari masa Yunani
Kuno, Romawi Kuno, Abad Pertengahan, hingga masa retorika modern. Pengetahuan
tentang sejarah dan perkembangan retorika sangat penting bagi mahasiswa jurusan
ilmu komunikasi yang mempelajari ilmu retorika. Oleh karena itu dalam bab ini
akan diuraikan sejarah dan perkembangan retorika tersebut.
Sejarah
retorika sangat panjang. Retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun sebagai
seni yang dipelajari mulai abad ke-5 Sebelum Masehi (SM) ketika kaum Sophis di
Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan
pengertahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada
kemampuan berpidato. Pemerintah perlu berusaha untuk membujuk rakyat demi
kemenangan dalam pemilihan. Selanjutnya berkembanglah seni pidato yang
membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Khalayak bisa
tertarik dan kemudian terbujuk. Hal itu menunjukkan pentingnya retorika dalam
dunia politik.
Yang
paling menonjol dalam sejarah perkembangan manusia yang erat kaitanya dengan
kegiatan retorika adalah penyebaran agama-agama di negara Mesir, Babylonia dan
Persia yang disebarkan oleh orang-orang yang mempunyai bakat retorika, karena
jika tidak memiliki bakat seperti itu maka akan sulit diterima karena zaman
dahulu tidak ada media massa seperti sekarang. Retorika memiliki banyak sekali
tokoh dan mengalami masa jaya pada zaman Yunani dan Romawi
Tujuan retorika terutama berusaha mempengaruhi audiens
atau komunikan, yang perlu diperhatikan ialah retorika merupakan teknik
pemakaian bahasa secara efektif yang berarti keterampilan atau kemahiran dalam
memilih kata-kata yang dapat mempengaruhi komunikan sesuai dengan kondisi dan
situasi komunikan tersebut. Pada makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang
sejarah retorika dan perkembangan retorika dari zaman klasik sampai zaman
modern.
BAB
I
Retorika
Pada Masa Yunani
A. Sejarah
dan Perkembangan
Retorika
sudah tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad ke 4 dan 5 sebelum Masehi pada
saat kerajaan yunani kuno sudah ada ahli pidato terkenal, seperti Solon yang
hidup pada tahun 640-560 sebelum masehi, Peristratos hidup tahun 600-527
sebelum masehi dan Thenustokles hidup tahun 525-460 sebelum masehi. Pada zaman
Yunani retorika sudah dimanfaatkan oleh politikus dan negarawan untuk mencapai
program kebijakan dan untuk persuasi kepada rakyat agar mendapat dukungan dari
mereka, salah satu diantaranya adalah Perikles yang hidup pada tahun 500-429
sebelum masehi. Para pengagumnya mengatakan bahwa dewi-dewi seni berbicara yang
memiliki daya tarik yang memukau bertahta diatas lidahnya, Perikles sebagai
orang ahli berpidato tidak akan dilupakan oleh bangsa Yunani, berkat pidato
yang disampaikan bagi para pahlawan di kota Athena pidatonya kemudian
diterbitkan. Para orator di Yunani terus bermunculan, pada awalnya para ahli
pidato hanya disampaikan di ruang pengadilan untuk melakukan pembelaan, tetapi
akhirnya digunakan untuk memimpin sebuah negara maka mereka mulai menyusun
pidato menjadi ilmu retorika. Usaha ini pertama kali dilakukan di daerah kulon
Yunani di Silisia, setelah kekuasaan tirani runtuh dan berganti kebebasan
bicara mulai dijunjung tinggi, di abad ini retorika sudah menyaingi ilmu
fisafat dimana retorika menjadi seni membina dan memimpin manusia.
Jalaluddin
Rahmat berpendapat bahwa uraian sistematis retorika diletakan pertama kali oleh
orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni
itu diperintah para tiran. Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun, senang
menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi.
Diktator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi
tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah. Untuk mengambil haknya, pemilik tanah
harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan. Waktu itu, tidak ada
pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus meyakinkan
mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh
kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara.
Untuk
membantu orang memenangkan haknya di pengadilan, Corax menulis makalah
retorika,yang diberi nama Techne Logon (Seni Kata-kata). Walaupun makalah ini
sudah tidak ada, dari parapenulis sezaman, kita bisa mengetahui bahwa dalam
makalah itu ia berbicara tentang “teknik kemungkinan”. Bila kita tidak dapat
memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum. Seorang kaya mencuri dan
dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Dengan teknik kemungkinan, kita
bertanya, “Mungkinkah seorang yang berkecukupan mengorbankan kehormatannya
dengan mencuri? Bukankah, sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diajukan ke
pengadilan karena mencuri”. Sekarang,seorangmiskin mencuri dan diajukan ke
penga-dilan untuk kedua kalinya. Kita bertanya, “la pernah mencuri dan pernah
dihukum. Mana mungkin ia berani melakukan lagi pekerjaan yang sama”. Akhirnya,
retorika memang mirip “ilmu silat lidah”. Di samping teknik kemungkinan, Corax
meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagipidato pada lima bagian:
pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini,
para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.
Sekitar akhir abad ke-5 sebelum masehi muncul lagi
beberapa ahli pidato yang sangat dikagumi seperti, Alkibiades, Theramineses dan
Kritos. Abad ke-5 sampai 2 sebelum Masehi Aristoteles dalam bukunya Rethorika
membedakan jenis pidato:
a) Pidato yudisial (legal) atau forensik, yaitu pidato
mengenai perkara dipengadilan mengenai apa yang telah terjadi dan tidak pernah
terjadi. Pendengarnya para hakim atau juri dalam suatu mahkamah pengadilan.
b) Pidato deliberative atau politik (suasoria), yaitu pidato
yang berisi nasehat yang disampaikan para penasehat mengenai hal-hal yang patut
atau tidak patut dilaksanakan. Para pendengar adalah anggota badan legislatif
atau eksekutif.
c) Pidato epideiktik atau demonstrative, yaitu pidato-pidato
baik untuk pementasan, ucapan- ucapan ibadah maupun bukan ibadah biasanya
berisi kecaman atau pujian mengenai hal- hal yang terjadi sekarang.
Aristoteles dalam karyanya “The Five Canons of Rhetoric”
mengemukakan lima tahap penyusunan pidato:
1. Inventio atau heuresis (penemuan). Pada tahap ini,
pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi
(secara harfiah; pembujukan) yang paling tepat.
2. Dispositio atau taxis atau oikonomia (penyusunan). Pada
tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan.
3. Elocutio atau lexis (gaya). Pada tahap ini, pembicara
memilih kata-kata (diksi) dan menggunakan bahasa yang baik dan tepat untuk
mengemas pesan tersebut.
4. Memoria (memori). Pada tahap ini pembicara harus
mengingat apa yang ingin disampaikan dan yang dikemukakannya, dengan mengatur
bahan-bahan pembicaraannya.
5. Pronuntiatio, aclio atau hypokrisis (penyampaian dan
penyajian). Pada tahap ini, pembicara menyampaikan pesannya secara lisan.
B. Ciri
dan Karakteristik Retorika
1. Berbahasa
Hellenistik.
2. Teori
retorika Aristoteles pada masa Yunani sangat sistematis dan komprehensif.
3. Uraiannya
yang lengkap dan persuasif telah menyebabkan para ahli retorika sesudahnya
tidak menghasilkan karya yang bagus tentang retorika.
4. Penekanan retorika dianggap sebagai semangat yang
berkobar-kobar, kecerdasan pikiran.
BAB
II
Retorika
Pada Zaman Romawi
A. Sejarah
dan Perkembangan
Teori
retorika Aristoteles sangat sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi,
retorika telah memperoleh dasar teoretis yang kokoh. Namun pada sisi lain,
uraiannya yang lengkap dan persuasif telah membungkam para ahli retorika yang
datang sesudahnya. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte
Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika.
Buku Ad Herrenium, yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM, hanya
mensistematisasikan dengan cara Romawi warisan retorika gaya Yunani.
Orang-orang romawi bahkan hanya mengambil segi-segi praktisnya saja. Walaupun
begitu, kekaisaran Romawi bukan saja subur dengan sekolah-sekolah retorika;
tetapi juga kaya dengan orator-orator ulung: Antonius, Crassus, Rufus,
Hortensius. Yang disebut terakhir terkenal begitu piawai dalam berpidato
sehingga para artis berusaha mempelajari gerakan dan cara penyampaiannya
Perkembangan
retorika pada zaman ini terjadi setelah Romawi menguasai Yunani, terjadilah
kontak antara kaum cendikiawan Romawi dan Yunani yang akhirnya mengajar
retorika di Romawi. Orang orang Romawi mempelajari kebudayaan Yunani termasuk
di dalamnya mempelajari retorika, saat itulah ilmu retorika mulai di berikan di
sekolah sekolah Romawi.
Semenjak
kejatuhan kekaisaran Yunani kuno, Eropa tidak lagi mempunyai penguasa yang
dominan. Walaupun demikian, Yunani kuno telah memberi pengaruh yang besar
kepada negara-negara di Eropa pada zaman itu, yaitu melalui peninggalan iptek
dan arsitektur. Pada bidang iptek, Yunani kuno sangat termahsyur akan
kepandaiannya karena banyak sekali ilmuwan maupun filsuf ternama yang menjadi
titik awal perkembangan iptek berasal dari negara tersebut, salah satunya dalam
bidang retorika. Dalam bidang arsitektur pun tak kalah bagusnya, sampai
sekarang pun Yunani tetap terkenal berkat buah karya arsitekturnya yang indah.
Singkat cerita, ketika Yunani kuno telah hancur muncul lah Romawi sebagai
kerajaan yang disegani di Eropa. Romawi tak kehilangan akal untuk memanfaatkan
sisa-sisa kejatuhan Yunani Kuno, yaitu dengan mengirimkan orang-orang pilihan
dari Yunani guna dimanfaatkan baik ilmu dan jasanya bagi Romawi. Livius
Andronicus, adalah seorang Yunani yang dijadikan budak belian bagi Romawi. Ia
memiliki kemampuan yang baik dalam bertutur kata sehingga dijuluki ahli
retorika. Mengetahui kemampuan Livius dalam beretorika, Romawi akhirnya
menjadikannya sebagai pengajar retorika bagi bangsa Romawi. Kelak dari model pengajaran tersebut,
lahirlah para retorika terkenal dari negara Romawi, antara lain Cicero dan
Quintilianus. Mekanisme seperti inilah yang dilakukan bangsa Romawi terhadap
negara jajahannya karena selain merampas gold (harta benda) mereka juga
mencomot orang-orang terbaik dari negara jajahannya.
Teori
retorika Aristoteles sangat sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi,
retorika telah memperoleh dasar teoretis yang kokoh. Namun pada sisi lain,
uraiannya yang lengkap dan persuasif telah membungkam para ahli retorika yang
datang sesudahnya. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte
Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika.
Buku Ad Herrenium, yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM, hanya
mensistematisasikan dengan Romawi warisan retorika gaya Yunani. Orang-orang romawi
bahkan hanya mengambil segi-segi praktisnya saja. Walaupun begitu, kekaisaran
Romawi bukan saja subur dengan sekolah-sekolah retorika; tetapi juga kaya
dengan orator-orator ulung: Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius. Yang disebut
terakhir terkenal begitu piawai dalam berpidato sehingga para artis berusaha
mempelajari gerakan dan cara penyampaiannya. Kemampuan Hortensius disempurnakan
oleh Cicero. Karena dibesarkan dalam keluarga kaya dan menikah dengan istri
yang memberinya kehormatan dan uang, Cicero muncul sebagai negarawan dan
cendikiawan. Pernah hanya dalam dua tahun (45-44 SM), ia menulis banyak buku
filsafat dan lima buah buku retorika. Dalam teori, ia tidak banyak menampilkan
penemu baru. Ia banyak mengambil gagasan dari Isocrates. Ia percaya bahwa efek
pidato akan baik, bila yang berpidato adalah orang baik juga. The good man
speaks well. Dalam praktek, Cicero betul-betul orator yang sangat berpengaruh.
Caesar,
penguasa Romawi yang ditakuti, Memuji Ciocero, “Anda telah menemukan semua
khazanah retorika, dan Andalah orang pertama yang menggunakan semuanya. Anda
telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai dari kemenangan para jenderal.
Karena sesungguhnya lebih agung memperluas batas-batas kecerdasan manusia
daripada memperluas batas-batas kerajaan Romawi.
B. Ciri-ciri
dan Karakteristik Retorika
1. Romawi
berbahasa latin
2. Orang
Romawi selama 200 tahun setelah buku Aristoteles yang berjudul De Arte
Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika.
Buku Ad Herrenium yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM hanya
menyistematisasikan dengan cara Romawi warisan retorika gaya Yunani.
3. Kekaisaran
Romawi subur dengan sekolah-sekolah retorika, tetapi juga kaya dengan
orator-orator ulung seperti Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius.
4. Teknik
yang digunakan pada zaman ini biasa digunakan oleh orang-orang Yunani Kuno
yaitu dengan dialog dan drama.
BAB
III
Retorika
Pada Zaman Abad Pertengahan
A. Sejarah
dan Perkembangan
Abad pertengahan sering disebut juga abad kegelapan atau
kemunduran retorika, termasuk bagi perkembangan retorika. Ketika agama Kristen
berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang Kristen
pada saat itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang
Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila orang memeluk agama Kristen,
secara otomatis ia akan mampu menyampaikan kebenaran. St. Agustinus, yang telah
mempelajari retorika sebelum masuk Kristen tahun 386, adalah kekecualian pada
masa itu. Dalam On Christian Doctrine (426) ia menjelaskan bahwa para
pengkhotbah harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan yang oleh
Cicero disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen, yakni
mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari teknik penyampaian pesan.
Kaum Muslim menggunakan balaghah sebagai pengganti
retorika. Tetapi warisan retorika Yunani, yang dicampakkan di Eropa pada Abad
Pertengahan, dikaji dengan tekun oleh para ahli balaghah. Namun sayang masih
kurang studi tentang kontribusi balaghah pada retorika modern. Balaghah masih
hanya dipelajari di pesantren-pesantren tradisional. Pada abad pertengahan
retorika semakin tereduksi dan semakin kerdil. Retorika hanya dikaitkan dngan
gaya bahasa dan penyajian saja. Hal ini memunculkan aliran baru yang disebut
dengan Manerisme (Mannerism). Aliran ini sangat mengutamakan gaya bahasa.
Retorika bagi aliran ini tidak lebih dari penggunaan bahasa dengan gaya bahasa
yang indah. Keindahan itu diperoleh melalui permainan bunyi dan irama. Demikian
pentingnya bunyi dan irama bagi aliran baru ini, hingga melahirkan gaya bahasa
yang aneh-aneh.
Retorika pada zaman ini ditandai dengan perubahan sistem
pemerintahan yang berubah dari pemerintahan yang berbentuk republik menjadi
pemerintahan dengan kekuasaan absolute. Kekuasaan berada di tangan Kaisar.
Dengan sistem pemerintahan yang demikian membuat kebebasan berpikir dan
berbicara untuk mempersoalkan dan memperdebatkan hal-hal yang berhubungan
dengan kebijaksanaan pemerintahan tidak ada lagi. Hal itu terjadi pula dalam
sistem peralan, yaitu berubah menjadi lebih bersifat teknik dan terbatas.
Keadaan yang demikian mengakibatkan retorika sebagai wahana untuk kegiatan
pemeritahan tidak mempunyai peranan lagi. Peranan retorika hanya terbatas pada
pembicaraan yang bersifat seremonial saja, umumnya digunakan untuk membicarakan
masalah gaya bahasa saja. Dengan demikian, peranan retorika, baik dalam bidang
pemerintahan maupun dalam peradilan semakin pudar, sehingga retorika tidak lagi
mengalami perkembangan yang menggembirakan.
Terdapat enam langkah pidato pada abad pertengahan ini yaitu:
1.
Exordium : Sebuah pembukaan yang jelas, sopan
tapi singkat
2.
Narratio : Sebuah pernyataan dari fakta awal
yang jelas, dipercaya dan menyenangkan
3.
Propositio : Penyajian kasus
4.
Confirmatio : Penyajian argumen
5.
Refutatio : Penolakan atas keberatan
6.
Peroratio : Ringkasan atau Rangkuman
B.
Ciri
dan Karakteristik Retorika
1.
Retorika
dimasukkan ke dalam jenis seni liberal dan menjadi bagian dari Trivium. Trivium
merupakan seni yang diajarkan di sekolah-sekolah sebagai keterampilan skolastik
yang sangat penting. Trivium memiliki tiga bagian, yakni :
a.
Logika
atau dialektika (berupa kemampuan menalar, dan menemukan kebenaran).
b.
Grammar
(berupa sintaksis, irama , kiasan, dan puisi)
c.
Retorika
(berupa kemampuan mengekspresikan diri dengan bahasa, gaya bahasa, dan
mengorganisasikan tuturan).
2.
Retorika
dipisahkan kemudian digabungkan dengan dialektika. Wacana dialektika
menggunakan bentuk-bentuk introgasi untuk pemeriksaan dengan pertanyaan. Wacana
dialektika juga menggunakan bentuk-bentuk tanya jawab dan menggunakan silogisme
secara sempurna sehingga diperoleh kebenaran untuk mengalahkan lawan.
Sementara, wacana retorika menggunakan bentuk-bentuk pernyataan dan entimen
yang singkat dan jelas yang mengarah pada penilaian. Setelah dipisahkan,
kemudian reorika disatukan amat erat dengan dialektika. Hal ini mengakibatkan
esensi dari retorika tereduksi. Unsur utama dari retorika yakni invensi
(invention) dan organisasi (organitation) dikeluarkan dan dimasukan ke dalam
dialektika. Jadi unsur yang ada pada retorika hanya gaya bahasa (ustyle dan
penyajian delivery). Hal ini menyebabkan makna retorika menjadi lebih sempit
yakni yang hanya berhubungan dengan gaya bahasa dan cara penyajian.
3.
Retorika
dikaitkan dengan kemampuan menulis. Pada abad ini ada kecenderungan tidak
mengutamakan kemampuan berpidato kecuali untuk kotbah-kotbah di gereja. Wacana
politik, pemerintah dan kemasyarakatan banyak dilakukan dalam bentuk wacana
tulis. Karena itu retorika menjadi amat penting dalam kegiatan menulis.
Kemampuan menulis`dibina pada masa ini. Penggunaan retorika dalam bidang
menulis merupakan perkembangan penting retorika pada abad pertengahan ini.
4.
Retorika
hanya menjadi alat utama yang paling penting dalam kotbah-kotbah dan doa-doa
gereja. Teori retorika dalam kotbah cenderung bebas, baik teori retorika klasik
maupun teori yang berkembang pada masa itu.
5.
Retorika
tidak lagi menjadi alat perpolitikan.
6.
Retorika
hanya berupa gaya bahasa dan cara penyajian.
7.
Retorika
pada masa ini memunculkan aliran Manarisme.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa retorika pada
abad pertengahan semakin tereduksi dan kerdil. Hal ini menimbulka atau
memunculkan sebuah aliran baru, yaitu aliran Manerisme (manerism). Aliran ini
sangat mengutamakan gaya bahasa. Retorika bagi aliran ini tidak lebih dari
penggunaan bahasa dengan gaya bahasa yang indah.
BAB IV
Retorika Pada Zaman Modern
A. Sejarah dan Perkembangan
Jalaluddin
Rahmat mengatakan bahwa pada masa keemasan Islam, ketika pemikiran Yunani tidak
memperoleh iklim yang subur di Eropa, maka retorika mendapat tempat yang subur
dalam bahasa Arab yang puistis. la disambut baik oleh bangsa Arab yang secara
tradisional menghargai kefasihan berbicara Buku Nahj Balaghah, Ma'ani dan Bayan.
Akan tetapi setelah zaman keemasan Islam berakhir, perjalanan ilmu ini menjadi
tertegun sebentar, tetapi kemudian bangkit kembali dalam gerakan Renaisance di
Italia. Retorika juga muncul kembali dalam rona baru. Setelah retorika
mengalami kemunduran, maka dalam zaman modern (terutama dalam perkembangan
agama Protestan dan Katholik) banyak muncul ahli-ahli retorika baru. Dalam
perang agama di daratan Eropa pada abad ke 16 ini yang paling terkenal Martin
Luther.
Ada tiga aliran
dalam retorika modern, yaitu:
a)
Epistemologis adalah aliran pertama dalam
retorika modern yang menekankan pada proses psikologis. Epistemologi membahas
“teori pengetahuan”; asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan
manusia. Para pemikir epistemologis berusaha mengkaji retorika klasik dalam
sorotan perkembangan psikologi kognitif, yang membahas proses mental.
b)
Aliran kedua dikenal dengan belles lettres
(Bahasa Perancis yang berarti tulisan yang indah). Retorika belletris sangat
mengutamakan keindahan bahasa, segisegi estetis pesan, kadang-kadang dengan
mengabaikan segi informatifnya. Hugh Blair (1718-1800) menulis Lectures on
Rhetoric and Belles Lettres. Ia menjelaskan hubungan antara retorika, sastra,
dan kritik. Ia memperkenalkan fakultas cita rasa (taste), yaitu kemampuan untuk
memperoleh kenikmatan dari pertemuan dengan apapun yang indah. Cita rasa,
menurut Blair, mencapai kesempurnaan ketika kenikmatan inderawi dipadukan
dengan rasio—ketika rasio dapat menjelaskan sumber-sumber kenikmatan. Aliran
epistemologi dan belles lettres terutama memusatkan perhatian pada persiapan
pidato; pada penyusunan pesan dan penggunaan bahasa.
c)
Aliran ketiga disebut gerakan elokusionis,
menekankan pada teknik penyampaian pidato. Misalnya Gilbert Austin memberikan
petunjuk praktis penyampaian pidato, seperti mengenai bagaimana pembicara
mengarahkan kontak mata kepada pendengar, bagaimana pembicara mengatur
suaranya. James Burgh menjelaskan 71 emosi dan cara mengungkapkannya. Dalam
perkembangannya, gerakan elokusionis dikritik karena terlalu memusatkan
perhatian kepada teknik. Ketika mengikuti kaum elokusionis, pembicara tidak
lagi berbicara dan bergerak secara alami, namun menjadi artifisial. Walau
demikian, kaum elokusionis telah berhasil melakukan penelitian empiris sebelum
merumuskan “resep-resep” penyampaian pidato. Retorika kini tidak lagi ilmu
berdasarkan semata-mata “otak-atik-otak” atau hasil perenungan rasional saja,
namun dirumuskan dari hasil penelitian empiris.
Pada
abad ke-20 retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan
modern, khususnya ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah
retorika pun mulai digeser oleh istilah-istilah lainnya seperti speech, speech
communication, atau public speaking. Sebagian tokoh retorika modern antara lain
adalah James A Winans, Charles Henry Woolbert, William Noorwood Brigance, dan
Alan H Monroe. Monroe banyak meneliti proses motivasi (motivating process).
Kontribusinya yang terbesar adalah dalam hal cara organisasi pesan. Menurut
Monroe, pesan harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya
motivated sequence.
Dalam
hal ini, Asdi S. Dipodjojo mendambakan dalam ungkapannya bahwa pada zaman yang
maju ini alangkah baiknya, jika kemampuan berkomunikasi lisan yang didapatnya
dari pengamatan itu dikembangkan dan disempurnakan dengan harapan agar
komunikasi lisan itu lebih berdaya guna dan berhasil guna, serta diperkenalkan
beberapa macam bentuk dan pengorganisasian kegiatan komunikasi lisan. Dengan
retorika seseorang tidak hanya menjadi mahir berpidato dan mencari kebenaran
tetapi juga bisa keberhasilan negoisasi.
Negara-negara yang berjasa
mengembangkan ilmu retorika pada zaman modern adalah Perancis, Inggris, Amerika
dan Jerman Barat. Berikut ini diuraikan perkembangan di masing-masing negara
tersebut.
B.
Ciri dan Karakteristik Retorika
1. Retorika
telah berekembang pada era modern dan dengan memanfaatkan kajian-kajian empiris
tentang retorika dalam kehidupan
2. Aliran
pertama retorika dalam masa modern, yang menekankan proses psikologis, dikenal
dengan aliran epistemologis.
3. Aliran
retorika modern kedua dikenal sebagai gerakan belles letters. Retorika
belletris sangat mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan,
kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Aliran ketiga disebut
gerakan elokusionis, menekankan pada teknik penyampaian pidato.
4. Pada
abad ke-20, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan
modern, khususnya ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah
retorika pun bergeser menjadi speech, speech communication atau oral
communication atau public speaking.
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah
retorika sangat panjang. Retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun sebagai
seni yang dipelajari mulai abad ke-5 Sebelum Masehi (SM) ketika kaum Sophis di
Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan
pengertahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada
kemampuan berpidato. Retorika sudah tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad
ke 4 dan 5 sebelum Masehi pada saat kerajaan yunani kuno sudah ada ahli pidato
terkenal, seperti Solon yang hidup pada tahun 640-560 sebelum masehi,
Peristratos hidup tahun 600-527 sebelum masehi dan Thenustokles hidup tahun
525-460 sebelum masehi. Pada zaman Romawi, teori retorika Aristoteles sangat
sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi, retorika telah memperoleh dasar
teoretis yang kokoh. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte
Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika. Kemudian pada abad pertengahan sering disebut juga abad
kegelapan atau kemunduran retorika, termasuk bagi perkembangan retorika. Ketika
agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak
orang Kristen pada saat itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh
orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Dan hingga dalam
zaman modern (terutama dalam perkembangan agama Protestan dan Katholik) banyak
muncul ahli-ahli retorika baru.
B.
Saran
Retorika
merupakan hal penting yang harus kita pelajari sebab dengan menguasai retorika
yang bagus kita akan dengan mudah meyakinkan, mempengaruhi dan menyampaikan
maksud kita kepada orang lain, mempertahankan gagasan, ide-ide dengan
menggunakan argumentasi-argumentasi yang logis. Seseorang yang memiliki
kemampuan beretorika dengan bagus ketika ia menjadi seorang pembicara maka ia
akan menarik, tidak membosankan karena ia mampu memahami keadaan para pendengar
serta berbicara dengan tidak bertele-tele, setiap ide dan gagasanya tersusun
dengan rapi sesuai dengan herarkinya.
Daftar
Pustaka
Suisyanto, 2020. Retorika Dakwah dalam
Perspektif Al-Quran. Yogyakarta:
Samudra Biru.
Suisyanto, Retorika Dakwah dalam Perspektif Al-Quran (Yogyakarta:
Samudra Biru, 2020) hal. 10-11