Minggu, 21 Maret 2021

Basis dan Pendekatan Pendidikan Dakwah Multikultural

Khoirotul Nikmah (B01219023)

21 Maret 2020





1.1 Pendahuluan

Pertautan antara Pendidikan dan Multikultural merupakan solusi atas realitas budaya yang beragam sebagai sebuah proses pengembangan seluruh potensi yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran atau agama. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperjuangkan multikulturalisme adalah melalui pendidikan yang berbasis multikultural. Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian besar antar etnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami. Konflik panjang tersebut melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama. Multikultural adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut. Landasan dakwah multikultural dapat ditemukan dalam kitab suci Al-Qur’an yang menegaskan bahwa kemanusiaan yang multikultural adalah kehendak dan sunnatullah dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al-Hujurat: 13)[1] Artikel ini akan membahas tentang pengertian, tujuan, basis pendekatan dakwah multicultural dan moderasi agama dalam fundamental.

1.2 Pembahasan

A.    Pengertian Pendidikan multicultural

Pendidikan multikultural (Multicultural Education) merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992).[2] Pendidikan multikultural berasal dari dua kata pendidikan dan multikultural. Pendidikan merupakan proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran, pelatihan, proses, perbuatan dan cara-cara yang mendidik. Disisi lain Pendidikan adalah Transfer of knowledge atau memindah ilmu pengetahuan. Pendidikan multikultural adalah merupakan suatu wacana yang lintas batas, karena terkait dengan masalah-masalah keadilan sosial (social justice), demokarasi dan hak asasi manusia. tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural.

Istilah pendidikan multikultural dapat digunakan pada tingkat deskriptif dan normative, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan berkaitan dengan masyarakat multikultural. Labih jauh lagi mencakup pengertian tentang pertimbangan terhadap kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi pendidikan dalam masyarakat multikultural. Dalam konteks deskriptif ini, maka kurikulum pendidikan multkultural harus mencakup subjek-subjek seperti : toleransi, tema-tema tentang perbedaan etno-kultural, dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi.[3]

B.     Tujuan Pendidikan dakwah multicultural

Tujuan pendidikan multikultural ada dua, yakni tujuan awal dan tujuan akhir. Tujuan awal merupakan tujuan sementara karena tujuan ini hanya berfungsi sebagai perantara agar tujuan akhirnya tercapai dengan baik. Pada dasarnya tujuan awal pendidikan multikultural yaitu membangun wacana pendidikan, pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan dan mahasiswa jurusan ilmu pendidikan ataupun mahasiswa umum. Harapannya adalah apabila mereka mempunyai wacana pendidikan multikultural yang baik maka kelak mereka tidak hanya mampu untuk menjadi transformator pendidikan multikultural yang mampu menanamkan nilai-nilai pluralisme, humanisme dan demokrasi secara langsung di sekolah kepada para peserta didiknya. Sedangkan tujuan akhir pendidikan multikultural adalah peserta didik tidak hanya mampu memahami dan menguasai materi pelajaran yang dipelajarinya akan tetapi diharapkan juga bahwa para peserta didik akan mempunyai karakter yang kuat untuk selalu bersikap demokratis, pluralis dan humanis. Karena tiga hal tersebut adalah ruh pendidikan multikultural.[4]

C.    Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural QS. Al-Hujarat: 13

“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.[5]

Secara global, ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Berdasarkan kebinekaan tersebut, tidak seorang pun berhak memaksakan keseragaman dalam hal apapun, termasuk dalam aspek keyakinan. Dalam surat Yunus ayat 99-100 Allah menegaskan prinsip dasar tersebut. [6]

{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99) وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (100) }

“Jika seandainya Tuhan Pemelihara kamu menghendaki, tentulah beriman semua yang di bumi seluruhnya. Maka apakah engkau (Nabi Muhammad Saw) memaksa manusia semuanya supaya mereka menjadi orang-orang mukmin? Padahal tidak ada satu jiwa pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kotoran (keguncangan hati atau kemurkaan) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS. Yunus: 99-100).

Ayat di atas menerangkan bahwa jika Allah berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya, maka hal itu akan terlaksana, karena untuk melakukan yang demikian adalah mudah bagi-Nya; tetapi Dia tidak menghendaki yang demikian, Allah berkehendak melaksanakan sunnah-Nya di dalam penciptaan-Nya ini. Tidak seorangpun dapat mengubah sunnah-Nya itu kecuali jika Dia sendiri yang menghendakinya. Di antara sunnah-Nya ialah memberi manusia akal, pikiran, dan perasaan yang membedakannya dengan malaikat dan makhluk-makhluk yang lain. Dengan akal, pikiran, dan perasaan, manusia menjadi makhluk yang berbudaya, dapat membedakan baik dan buruk, baik itu untuk dirinya, untuk orang lain maupun untuk alam semesta. Ayat di atas secara tegas mengisyaratkan bahwa manusia diberi kebebasan beriman atau tidak beriman. Kebebasan tersebut bukanlah bersumber dari kekuatan manusia melainkan anugerah Allah, karena jika Allah, Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu (dalam ayat di atas diisyaratkan dengan kata rabb), menghendaki tentulah beriman semua manusia yang berada di muka bumi seluruhnya. Ini dapat dilakukan-Nya antara lain dengan mencabut kemampuan manusia memilih dan menghiasi jiwa mereka hanya dengan potensi positif saja, tanpa nafsu dan dorongan negatif seperti halnya malaikat, tetapi hal itu tidak dilakukan-Nya, karena tujuan utama manusia diciptakan dengan diberi kebebasan adalah untuk menguji. Tugas para Nabi hanyalah untuk mengajak dan memberikan peringatan tanpa paksaan. Manusia akan dinilai terkait dengan sikap dan respon terhadap seruan para Nabi tersebut.

D.    Moderasi Agama dalam Fundamental dan Pendekatan Dakwah

Dalam moderasi beragama kita dituntut untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan selalu bertindak menjaga akal dan budi serta selalu bertindak adil dan menjaga keseimbangan dalam toleransi beragama, karena moderasi bergama berupaya mewujudkan Indonesia yang toleran, rukun dan damai. Masih menurut Prof Arskal tantangan sosial sekarang dimana hidup yang penuh dengan lautan data informasi, dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit di era pasca kebenaran (post-truth) sehingga banyak dibantu oleh teknologi informasi yang bisa mengakibatkan degradasi nilai dan rasa sosial kemanusiaan. Moderasi agama hadir untuk mengatasi persoalan- persoalan diatas. Hubungannya dengan perguruan tinggi moderasi kelembagaan harus diwujudkan dengan cara mengembangkan institusi menjadi modern namun tetap dapat memperkuat akar dan tradisi islam. Selain itu perguruan tinggi dituntut untuk menciptakan lulusan yang berkualitas, berdaya saing, menguasai iptek dengan tetap merujuk pada nilai-nilai islam.[7]

1.3 Kesimpulan

Dakwah multikultural merupakan upaya dalam menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan. Sedangkan dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog. Basis dakwah multikultural sebenarnya terdapat dalam kitab suci AlQur’an itu sendiri yang menegaskan bahwa fakta multikultural umat manusia yang beragam dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Dengan kesadaran tentang adanya keragaman dan perbedaan itu, umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, sehingga akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan umat manusia dalam berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama. Tantangan sosial sekarang dimana hidup yang penuh dengan lautan data informasi, dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit di era pasca kebenaran (post-truth) sehingga banyak dibantu oleh teknologi informasi yang bisa mengakibatkan degradasi nilai dan rasa sosial kemanusiaan. Moderasi agama hadir untuk mengatasi persoalan- persoalan diatas.



[1]  M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Jakarta: Lentera Hati, 2010), p. 517.

[2] Choirul Mahfud. Pendidikan Multikultural.(Sidoarjo:Pustaka Pelajar,2005). Hal:177

[4] Zakiyuddin Baidhawy, 2005. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural Jakarta: Erlangga,hlm. 109

[5] M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Jakarta: Lentera Hati, 2010), p. 517

[6] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Kebinekaan (Tafsir Al-Qur’an Tematik) (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2011), p. 22.

Minggu, 14 Maret 2021

Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

 KHOIROTUL NIKMAH (B01219023)

BAB I

LATAR BELAKANG

Perkembangan Islam di Indonesia atau di lokalitas yang lain tidak menampak­kan wajah Islam yang sama seperti di tanah kelahirannya, yaitu di tanah Arab. Hal tersebut disebabkan karena sudah terjadi akulturasi ajaran Islam dengan nilai-nilai budaya lokal. Inilah bentuk interkoneksi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal. Dari kajian tersebut, didapati pemahaman Islam yang bermacam-macam sehingga diperlukan suatu konsep dan strategi dakwah yang betul-betul mengena dan diterima masyarakat multikultural seperti Indonesia ini. Ide-ide kreatif dan cara pengemasan dakwah di buat semenarik mungkin agar tidak membuat para pendengar bosan dan tidak menyinggung rasa atau suku lain.

Walisongo dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Tujuan walisanga ini yaitu memasukan unsur syara' yang tidak bertentangan dengan adat.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi

1.      Dakwah

Makna kata dakwah secara istilah menurut beberapa ahli adalah:

a)      Menurut Thoha Yahya Omar. Dakwah, mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan didunia dan akherat.

b)      Menurut Aboebakar Atjeh. Dakwah adalah perintah mengajak seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik.[1]

Perintah dakwah secara baik dan lemah lembut ini telah diperintahkan oleh Allah dalam Q.S An-Nahl: 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Menurut video Habib Zaenal Abidin Al-hamid berkata:

“Siapa yang mengajak orang lain pada agama baik melalui individu, persahabatan atau secara berjama’ah hendaklah meluruskan niatnya hanya semata-mata karna Allah”

 

Ummat Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya ummat yang diturunkan oleh Allah SWT ditengah-tengah manusia, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hukum dakwah sendiri yaitu wajib bagi semua orang.[2]

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S Ali Imran: 110)


2.      Multikultural

Multikultural berasal dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya/kebudayaan), yang 19 secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya.[3] Dialektika ini melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya, verbal, bahasa dan lain-lain. Bagi sebagian orang Multikultur belum sepenuhnya dipandang sebagai suatu pemberian takdir Allah. Terkait dengan hal tersebut Al-Qur’an sudah jelas menyatakan dalam surat Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”[4]

Jadi, yang dimaksud dengan Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah agar dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai.[5]

3.      Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya. Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya. Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.[6]

Perbedaan budaya biasa hanya dikaitkan dengan ras, suku dan agama saja. Padahal perbedaan budaya juga bisa terjadi akibat perbedaan jenis kelamin, pekerjaan dan karakteristik social ekonomi lainya. Istilah-istilah dalam Komunikasi Antar Budaya

a.       Anxiety adalah perasaan gelisah, cemas, dan takut. Sedangkan

b.      uncertainty adalah ketidakmampuan untuk memprediksi atau menjelaskan perilaku orang lain, perasaan, sikap atau nilai- nilai.

Kedua hal ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antarbudaya, mereka terjadi akibat pengaruh psikokultural yang ada didalam diri.[7]

B.     Ruang Lingkup

Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok. Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya. Berikut ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi:

1.      Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik dai dengan madu yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para dai.

2.      Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur dai, materi, metode, media, madu dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.

3.      Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi dai maupun yang menjadi madu melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

4.      Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.

5.      Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.[8]

 

C.    Kesimpulan

Dakwah multicultural adalah mengajak manusia kejalan Allah dengan tidak menghilangkan budaya yang telah ada sebelumnya, karena budaya begitu melekat kuat dan mandarah daging pada setiap individu sehingga dengan berkomunikasi antar budaya menciptakan keamanan dan toleransi yang indah. Adapun ruang lingkup kita sebagai da’I harus mempelajari dan memperhatikan unsur, metode, latar belakang, karakteristik dan problematika mad’u.



[1] M Ali Aziz, Ilmu Dakwah.Edisi Revisi, (Jakarta : Kencana, 2009), h. 13

[2] Buya yahya, Al-Bahjah TV, “Apa itu dakwah” https://youtu.be/SU0zpR_pcy8

[3] Maksum, Ali.Pluralisme dan Multikulturalisme,(Malang:Aditya Media Publishing.2011).h.143

[5] Acep, Aripudin. Dakwah Antarbudaya.(Bandung : Rosda Karya : 2012) h.19

[6] Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.2.

[7] Wey Project, “Memahami Komunikasi Antar Budaya” https://youtu.be/ts_MNLPzzgk

Rabu, 10 Maret 2021

Sejarah Retorika

 

Makalah

Retorika Dalam Konteks Sejarah

Dosen Pengampu:

Dr. H. Sunarto AS, M.EI

Kelompok 2:

Khoirotul Nikmah                (B01219023)

Kevin Naufal Al-Hakim        (B01217024)

Adinda Nurul Izza                (B91219081)

 

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

S U R A B A Y A

2021

 

 

 

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Retorika Dalam Konteks Sejarah”. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Retorika. Selama penyusunan makalah ini penulis mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan dalam tepat waktu. Dalam hal ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bimbingan dan bantuan yang telah diberikan oleh:

1. Bpk. Dr. H. Sunarto AS, M.EI selaku dosen pengampu mata kuliah Retorika.

2. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materil.

3. Teman-teman sepejuangan kami.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak terlepas dari kekurangan. Untuk itu penulis senantiasa terbuka menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini kedepan. Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini penulis mengucapkan banyak terimakasih.

Jazakumullah Khairan Katsiro.

Surabaya, 03 Maret 2021 Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Kata Pengantar 2

Daftar Isi 3

Latar Belakang 4

BAB I Retorika Pada Zaman Yunani 5

A.    Sejarah dan Perkembangan 5

B.     Ciri dan Karakteristik 7

BAB II Retorika Pada Zaman Romawi 8

A.    Sejarah dan Perkembangan 8

B.     Ciri dan Karteristik 10

BAB III Retorika Pada Zaman Abad Pertengahan 11

A.    Sejarah dan Perkembangan 11

B.     Ciri dan Karakteristik 12

BAB IV Retorika Pada Zaman Modern 14

A.    Sejarah dan Perkembangan 14

B.     Ciri dan Karakteristik 16

BAB V Penutup 17

A.    Kesimpulan 17

B.     Saran 17

Daftar Pustaka 18

 

 

 

 

 

Latar Belakang

Retorika merupakan ilmu yang telah melalui sejarah yang panjang, mulai dari masa Yunani Kuno, Romawi Kuno, Abad Pertengahan, hingga masa retorika modern. Pengetahuan tentang sejarah dan perkembangan retorika sangat penting bagi mahasiswa jurusan ilmu komunikasi yang mempelajari ilmu retorika. Oleh karena itu dalam bab ini akan diuraikan sejarah dan perkembangan retorika tersebut.

Sejarah retorika sangat panjang. Retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun sebagai seni yang dipelajari mulai abad ke-5 Sebelum Masehi (SM) ketika kaum Sophis di Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengertahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah perlu berusaha untuk membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan. Selanjutnya berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Khalayak bisa tertarik dan kemudian terbujuk. Hal itu menunjukkan pentingnya retorika dalam dunia politik.

Yang paling menonjol dalam sejarah perkembangan manusia yang erat kaitanya dengan kegiatan retorika adalah penyebaran agama-agama di negara Mesir, Babylonia dan Persia yang disebarkan oleh orang-orang yang mempunyai bakat retorika, karena jika tidak memiliki bakat seperti itu maka akan sulit diterima karena zaman dahulu tidak ada media massa seperti sekarang. Retorika memiliki banyak sekali tokoh dan mengalami masa jaya pada zaman Yunani dan Romawi

Tujuan retorika terutama berusaha mempengaruhi audiens atau komunikan, yang perlu diperhatikan ialah retorika merupakan teknik pemakaian bahasa secara efektif yang berarti keterampilan atau kemahiran dalam memilih kata-kata yang dapat mempengaruhi komunikan sesuai dengan kondisi dan situasi komunikan tersebut. Pada makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang sejarah retorika dan perkembangan retorika dari zaman klasik sampai zaman modern.

 

 

 

 

BAB I

Retorika Pada Masa Yunani

A.    Sejarah dan Perkembangan

Retorika sudah tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad ke 4 dan 5 sebelum Masehi pada saat kerajaan yunani kuno sudah ada ahli pidato terkenal, seperti Solon yang hidup pada tahun 640-560 sebelum masehi, Peristratos hidup tahun 600-527 sebelum masehi dan Thenustokles hidup tahun 525-460 sebelum masehi. Pada zaman Yunani retorika sudah dimanfaatkan oleh politikus dan negarawan untuk mencapai program kebijakan dan untuk persuasi kepada rakyat agar mendapat dukungan dari mereka, salah satu diantaranya adalah Perikles yang hidup pada tahun 500-429 sebelum masehi. Para pengagumnya mengatakan bahwa dewi-dewi seni berbicara yang memiliki daya tarik yang memukau bertahta diatas lidahnya, Perikles sebagai orang ahli berpidato tidak akan dilupakan oleh bangsa Yunani, berkat pidato yang disampaikan bagi para pahlawan di kota Athena pidatonya kemudian diterbitkan. Para orator di Yunani terus bermunculan, pada awalnya para ahli pidato hanya disampaikan di ruang pengadilan untuk melakukan pembelaan, tetapi akhirnya digunakan untuk memimpin sebuah negara maka mereka mulai menyusun pidato menjadi ilmu retorika. Usaha ini pertama kali dilakukan di daerah kulon Yunani di Silisia, setelah kekuasaan tirani runtuh dan berganti kebebasan bicara mulai dijunjung tinggi, di abad ini retorika sudah menyaingi ilmu fisafat dimana retorika menjadi seni membina dan memimpin manusia.[1]

Jalaluddin Rahmat berpendapat bahwa uraian sistematis retorika diletakan pertama kali oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu diperintah para tiran. Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun, senang menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi. Diktator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah. Untuk mengambil haknya, pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan. Waktu itu, tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus meyakinkan mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara.

Untuk membantu orang memenangkan haknya di pengadilan, Corax menulis makalah retorika,yang diberi nama Techne Logon (Seni Kata-­kata). Walaupun makalah ini sudah tidak ada, dari parapenulis se­zaman, kita bisa mengetahui bahwa dalam makalah itu ia berbicara tentang “teknik kemungkinan”. Bila kita tidak dapat memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum. Seorang kaya mencuri dan dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Dengan teknik kemungkinan, kita bertanya, “Mungkinkah seorang yang berkecukupan mengorbankan kehormatannya dengan mencuri? Bukankah, sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diajukan ke pengadilan karena mencuri”. Sekarang,seorangmiskin mencuri dan diajukan ke penga-dilan untuk kedua kalinya. Kita bertanya, “la pernah mencuri dan pernah dihukum. Mana mungkin ia berani melakukan lagi pekerjaan yang sama”. Akhirnya, retorika me­mang mirip “ilmu silat lidah”. Di samping teknik kemungkinan, Corax meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagipidato pada lima bagian: pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini, para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.[2]

Sekitar akhir abad ke-5 sebelum masehi muncul lagi beberapa ahli pidato yang sangat dikagumi seperti, Alkibiades, Theramineses dan Kritos. Abad ke-5 sampai 2 sebelum Masehi Aristoteles dalam bukunya Rethorika membedakan jenis pidato:

a)      Pidato yudisial (legal) atau forensik, yaitu pidato mengenai perkara dipengadilan mengenai apa yang telah terjadi dan tidak pernah terjadi. Pendengarnya para hakim atau juri dalam suatu mahkamah pengadilan.

b)      Pidato deliberative atau politik (suasoria), yaitu pidato yang berisi nasehat yang disampaikan para penasehat mengenai hal-hal yang patut atau tidak patut dilaksanakan. Para pendengar adalah anggota badan legislatif atau eksekutif.

c)      Pidato epideiktik atau demonstrative, yaitu pidato-pidato baik untuk pementasan, ucapan- ucapan ibadah maupun bukan ibadah biasanya berisi kecaman atau pujian mengenai hal- hal yang terjadi sekarang.

Aristoteles dalam karyanya “The Five Canons of Rhetoric” mengemukakan lima tahap penyusunan pidato:

1.      Inventio atau heuresis (penemuan). Pada tahap ini, pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi (secara harfiah; pembujukan) yang paling tepat.

2.      Dispositio atau taxis atau oikonomia (penyusunan). Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan.

3.      Elocutio atau lexis (gaya). Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata (diksi) dan menggunakan bahasa yang baik dan tepat untuk mengemas pesan tersebut.

4.      Memoria (memori). Pada tahap ini pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikan dan yang dikemukakannya, dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya.

5.      Pronuntiatio, aclio atau hypokrisis (penyampaian dan penyajian). Pada tahap ini, pembicara menyampaikan pesannya secara lisan.

 

B.     Ciri dan Karakteristik Retorika

1.      Berbahasa Hellenistik.

2.      Teori retorika Aristoteles pada masa Yunani sangat sistematis dan komprehensif.

3.      Uraiannya yang lengkap dan persuasif telah menyebabkan para ahli retorika sesudahnya tidak menghasilkan karya yang bagus tentang retorika.

4.      Penekanan retorika dianggap sebagai semangat yang berkobar-kobar, kecerdasan pikiran.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Retorika Pada Zaman Romawi

A.    Sejarah dan Perkembangan

Teori retorika Aristoteles sangat sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi, retorika telah memperoleh dasar teoretis yang kokoh. Namun pada sisi lain, uraiannya yang lengkap dan persuasif telah membungkam para ahli retorika yang datang sesudahnya. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika. Buku Ad Herrenium, yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM, hanya mensistematisasikan dengan cara Romawi warisan retorika gaya Yunani. Orang-orang romawi bahkan hanya mengambil segi-segi praktisnya saja. Walaupun begitu, kekaisaran Romawi bukan saja subur dengan sekolah-sekolah retorika; tetapi juga kaya dengan orator-orator ulung: Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius. Yang disebut terakhir terkenal begitu piawai dalam berpidato sehingga para artis berusaha mempelajari gerakan dan cara penyampaiannya[3]

Perkembangan retorika pada zaman ini terjadi setelah Romawi menguasai Yunani, terjadilah kontak antara kaum cendikiawan Romawi dan Yunani yang akhirnya mengajar retorika di Romawi. Orang orang Romawi mempelajari kebudayaan Yunani termasuk di dalamnya mempelajari retorika, saat itulah ilmu retorika mulai di berikan di sekolah sekolah Romawi.[4]

Semenjak kejatuhan kekaisaran Yunani kuno, Eropa tidak lagi mempunyai penguasa yang dominan. Walaupun demikian, Yunani kuno telah memberi pengaruh yang besar kepada negara-negara di Eropa pada zaman itu, yaitu melalui peninggalan iptek dan arsitektur. Pada bidang iptek, Yunani kuno sangat termahsyur akan kepandaiannya karena banyak sekali ilmuwan maupun filsuf ternama yang menjadi titik awal perkembangan iptek berasal dari negara tersebut, salah satunya dalam bidang retorika. Dalam bidang arsitektur pun tak kalah bagusnya, sampai sekarang pun Yunani tetap terkenal berkat buah karya arsitekturnya yang indah. Singkat cerita, ketika Yunani kuno telah hancur muncul lah Romawi sebagai kerajaan yang disegani di Eropa. Romawi tak kehilangan akal untuk memanfaatkan sisa-sisa kejatuhan Yunani Kuno, yaitu dengan mengirimkan orang-orang pilihan dari Yunani guna dimanfaatkan baik ilmu dan jasanya bagi Romawi. Livius Andronicus, adalah seorang Yunani yang dijadikan budak belian bagi Romawi. Ia memiliki kemampuan yang baik dalam bertutur kata sehingga dijuluki ahli retorika. Mengetahui kemampuan Livius dalam beretorika, Romawi akhirnya menjadikannya sebagai pengajar retorika bagi bangsa Romawi.  Kelak dari model pengajaran tersebut, lahirlah para retorika terkenal dari negara Romawi, antara lain Cicero dan Quintilianus. Mekanisme seperti inilah yang dilakukan bangsa Romawi terhadap negara jajahannya karena selain merampas gold (harta benda) mereka juga mencomot orang-orang terbaik dari negara jajahannya.

Teori retorika Aristoteles sangat sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi, retorika telah memperoleh dasar teoretis yang kokoh. Namun pada sisi lain, uraiannya yang lengkap dan persuasif telah membungkam para ahli retorika yang datang sesudahnya. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika. Buku Ad Herrenium, yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM, hanya mensistematisasikan dengan Romawi warisan retorika gaya Yunani. Orang-orang romawi bahkan hanya mengambil segi-segi praktisnya saja. Walaupun begitu, kekaisaran Romawi bukan saja subur dengan sekolah-sekolah retorika; tetapi juga kaya dengan orator-orator ulung: Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius. Yang disebut terakhir terkenal begitu piawai dalam berpidato sehingga para artis berusaha mempelajari gerakan dan cara penyampaiannya. Kemampuan Hortensius disempurnakan oleh Cicero. Karena dibesarkan dalam keluarga kaya dan menikah dengan istri yang memberinya kehormatan dan uang, Cicero muncul sebagai negarawan dan cendikiawan. Pernah hanya dalam dua tahun (45-44 SM), ia menulis banyak buku filsafat dan lima buah buku retorika. Dalam teori, ia tidak banyak menampilkan penemu baru. Ia banyak mengambil gagasan dari Isocrates. Ia percaya bahwa efek pidato akan baik, bila yang berpidato adalah orang baik juga. The good man speaks well. Dalam praktek, Cicero betul-betul orator yang sangat berpengaruh.[5]

Caesar, penguasa Romawi yang ditakuti, Memuji Ciocero, “Anda telah menemukan semua khazanah retorika, dan Andalah orang pertama yang menggunakan semuanya. Anda telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai dari kemenangan para jenderal. Karena sesungguhnya lebih agung memperluas batas-batas kecerdasan manusia daripada memperluas batas-batas kerajaan Romawi.[6]

B.     Ciri-ciri dan Karakteristik Retorika

1.      Romawi berbahasa latin

2.      Orang Romawi selama 200 tahun setelah buku Aristoteles yang berjudul De Arte Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika. Buku Ad Herrenium yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM hanya menyistematisasikan dengan cara Romawi warisan retorika gaya Yunani.

3.      Kekaisaran Romawi subur dengan sekolah-sekolah retorika, tetapi juga kaya dengan orator-orator ulung seperti Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius.

4.      Teknik yang digunakan pada zaman ini biasa digunakan oleh orang-orang Yunani Kuno yaitu dengan dialog dan drama.[7]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Retorika Pada Zaman Abad Pertengahan

A.    Sejarah dan Perkembangan

Abad pertengahan sering disebut juga abad kegelapan atau kemunduran retorika, termasuk bagi perkembangan retorika. Ketika agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang Kristen pada saat itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila orang memeluk agama Kristen, secara otomatis ia akan mampu menyampaikan kebenaran. St. Agustinus, yang telah mempelajari retorika sebelum masuk Kristen tahun 386, adalah kekecualian pada masa itu. Dalam On Christian Doctrine (426) ia menjelaskan bahwa para pengkhotbah harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan yang oleh Cicero disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen, yakni mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari teknik penyampaian pesan.[8]

Kaum Muslim menggunakan balaghah sebagai pengganti retorika. Tetapi warisan retorika Yunani, yang dicampakkan di Eropa pada Abad Pertengahan, dikaji dengan tekun oleh para ahli balaghah. Namun sayang masih kurang studi tentang kontribusi balaghah pada retorika modern. Balaghah masih hanya dipelajari di pesantren-pesantren tradisional. Pada abad pertengahan retorika semakin tereduksi dan semakin kerdil. Retorika hanya dikaitkan dngan gaya bahasa dan penyajian saja. Hal ini memunculkan aliran baru yang disebut dengan Manerisme (Mannerism). Aliran ini sangat mengutamakan gaya bahasa. Retorika bagi aliran ini tidak lebih dari penggunaan bahasa dengan gaya bahasa yang indah. Keindahan itu diperoleh melalui permainan bunyi dan irama. Demikian pentingnya bunyi dan irama bagi aliran baru ini, hingga melahirkan gaya bahasa yang aneh-aneh.[9]

Retorika pada zaman ini ditandai dengan perubahan sistem pemerintahan yang berubah dari pemerintahan yang berbentuk republik menjadi pemerintahan dengan kekuasaan absolute. Kekuasaan berada di tangan Kaisar. Dengan sistem pemerintahan yang demikian membuat kebebasan berpikir dan berbicara untuk mempersoalkan dan memperdebatkan hal-hal yang berhubungan dengan kebijaksanaan pemerintahan tidak ada lagi. Hal itu terjadi pula dalam sistem peralan, yaitu berubah menjadi lebih bersifat teknik dan terbatas. Keadaan yang demikian mengakibatkan retorika sebagai wahana untuk kegiatan pemeritahan tidak mempunyai peranan lagi. Peranan retorika hanya terbatas pada pembicaraan yang bersifat seremonial saja, umumnya digunakan untuk membicarakan masalah gaya bahasa saja. Dengan demikian, peranan retorika, baik dalam bidang pemerintahan maupun dalam peradilan semakin pudar, sehingga retorika tidak lagi mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Terdapat enam langkah pidato pada abad pertengahan ini yaitu:

1.      Exordium        : Sebuah pembukaan yang jelas, sopan tapi singkat

2.      Narratio           : Sebuah pernyataan dari fakta awal yang jelas, dipercaya dan menyenangkan

3.      Propositio        : Penyajian kasus

4.      Confirmatio     : Penyajian argumen

5.      Refutatio         : Penolakan atas keberatan

6.      Peroratio          : Ringkasan atau Rangkuman[10]

 

B.     Ciri dan Karakteristik Retorika[11]

1.      Retorika dimasukkan ke dalam jenis seni liberal dan menjadi bagian dari Trivium. Trivium merupakan seni yang diajarkan di sekolah-sekolah sebagai keterampilan skolastik yang sangat penting. Trivium memiliki tiga bagian, yakni :

a.       Logika atau dialektika (berupa kemampuan menalar, dan menemukan kebenaran).

b.      Grammar (berupa sintaksis, irama , kiasan, dan puisi)

c.       Retorika (berupa kemampuan mengekspresikan diri dengan bahasa, gaya bahasa, dan mengorganisasikan tuturan).

2.      Retorika dipisahkan kemudian digabungkan dengan dialektika. Wacana dialektika menggunakan bentuk-bentuk introgasi untuk pemeriksaan dengan pertanyaan. Wacana dialektika juga menggunakan bentuk-bentuk tanya jawab dan menggunakan silogisme secara sempurna sehingga diperoleh kebenaran untuk mengalahkan lawan. Sementara, wacana retorika menggunakan bentuk-bentuk pernyataan dan entimen yang singkat dan jelas yang mengarah pada penilaian. Setelah dipisahkan, kemudian reorika disatukan amat erat dengan dialektika. Hal ini mengakibatkan esensi dari retorika tereduksi. Unsur utama dari retorika yakni invensi (invention) dan organisasi (organitation) dikeluarkan dan dimasukan ke dalam dialektika. Jadi unsur yang ada pada retorika hanya gaya bahasa (ustyle dan penyajian delivery). Hal ini menyebabkan makna retorika menjadi lebih sempit yakni yang hanya berhubungan dengan gaya bahasa dan cara penyajian.

3.      Retorika dikaitkan dengan kemampuan menulis. Pada abad ini ada kecenderungan tidak mengutamakan kemampuan berpidato kecuali untuk kotbah-kotbah di gereja. Wacana politik, pemerintah dan kemasyarakatan banyak dilakukan dalam bentuk wacana tulis. Karena itu retorika menjadi amat penting dalam kegiatan menulis. Kemampuan menulis`dibina pada masa ini. Penggunaan retorika dalam bidang menulis merupakan perkembangan penting retorika pada abad pertengahan ini.

4.      Retorika hanya menjadi alat utama yang paling penting dalam kotbah-kotbah dan doa-doa gereja. Teori retorika dalam kotbah cenderung bebas, baik teori retorika klasik maupun teori yang berkembang pada masa itu.

5.      Retorika tidak lagi menjadi alat perpolitikan.

6.      Retorika hanya berupa gaya bahasa dan cara penyajian.

7.      Retorika pada masa ini memunculkan aliran Manarisme.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa retorika pada abad pertengahan semakin tereduksi dan kerdil. Hal ini menimbulka atau memunculkan sebuah aliran baru, yaitu aliran Manerisme (manerism). Aliran ini sangat mengutamakan gaya bahasa. Retorika bagi aliran ini tidak lebih dari penggunaan bahasa dengan gaya bahasa yang indah.

 

BAB IV

Retorika Pada Zaman Modern

A.    Sejarah dan Perkembangan

Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa pada masa keemasan Islam, ketika pemikiran Yunani tidak memperoleh iklim yang subur di Eropa, maka retorika mendapat tempat yang subur dalam bahasa Arab yang puistis. la disambut baik oleh bangsa Arab yang secara tradisional menghargai kefasihan berbicara Buku Nahj Balaghah, Ma'ani dan Bayan. Akan tetapi setelah zaman keemasan Islam berakhir, perjalanan ilmu ini menjadi tertegun sebentar, tetapi kemudian bangkit kembali dalam gerakan Renaisance di Italia. Retorika juga muncul kembali dalam rona baru. Setelah retorika mengalami kemunduran, maka dalam zaman modern (terutama dalam perkembangan agama Protestan dan Katholik) banyak muncul ahli-ahli retorika baru. Dalam perang agama di daratan Eropa pada abad ke 16 ini yang paling terkenal Martin Luther.[12]

Ada tiga aliran dalam retorika modern, yaitu:

a)      Epistemologis adalah aliran pertama dalam retorika modern yang menekankan pada proses psikologis. Epistemologi membahas “teori pengetahuan”; asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan manusia. Para pemikir epistemologis berusaha mengkaji retorika klasik dalam sorotan perkembangan psikologi kognitif, yang membahas proses mental.

b)      Aliran kedua dikenal dengan belles lettres (Bahasa Perancis yang berarti tulisan yang indah). Retorika belletris sangat mengutamakan keindahan bahasa, segisegi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Hugh Blair (1718-1800) menulis Lectures on Rhetoric and Belles Lettres. Ia menjelaskan hubungan antara retorika, sastra, dan kritik. Ia memperkenalkan fakultas cita rasa (taste), yaitu kemampuan untuk memperoleh kenikmatan dari pertemuan dengan apapun yang indah. Cita rasa, menurut Blair, mencapai kesempurnaan ketika kenikmatan inderawi dipadukan dengan rasio—ketika rasio dapat menjelaskan sumber-sumber kenikmatan. Aliran epistemologi dan belles lettres terutama memusatkan perhatian pada persiapan pidato; pada penyusunan pesan dan penggunaan bahasa.

c)      Aliran ketiga disebut gerakan elokusionis, menekankan pada teknik penyampaian pidato. Misalnya Gilbert Austin memberikan petunjuk praktis penyampaian pidato, seperti mengenai bagaimana pembicara mengarahkan kontak mata kepada pendengar, bagaimana pembicara mengatur suaranya. James Burgh menjelaskan 71 emosi dan cara mengungkapkannya. Dalam perkembangannya, gerakan elokusionis dikritik karena terlalu memusatkan perhatian kepada teknik. Ketika mengikuti kaum elokusionis, pembicara tidak lagi berbicara dan bergerak secara alami, namun menjadi artifisial. Walau demikian, kaum elokusionis telah berhasil melakukan penelitian empiris sebelum merumuskan “resep-resep” penyampaian pidato. Retorika kini tidak lagi ilmu berdasarkan semata-mata “otak-atik-otak” atau hasil perenungan rasional saja, namun dirumuskan dari hasil penelitian empiris.[13]

Pada abad ke-20 retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun mulai digeser oleh istilah-istilah lainnya seperti speech, speech communication, atau public speaking. Sebagian tokoh retorika modern antara lain adalah James A Winans, Charles Henry Woolbert, William Noorwood Brigance, dan Alan H Monroe. Monroe banyak meneliti proses motivasi (motivating process). Kontribusinya yang terbesar adalah dalam hal cara organisasi pesan. Menurut Monroe, pesan harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya motivated sequence.[14]

Dalam hal ini, Asdi S. Dipodjojo mendambakan dalam ungkapannya bahwa pada zaman yang maju ini alangkah baiknya, jika kemampuan berkomunikasi lisan yang didapatnya dari pengamatan itu dikembangkan dan disempurnakan dengan harapan agar komunikasi lisan itu lebih berdaya guna dan berhasil guna, serta diperkenalkan beberapa macam bentuk dan pengorganisasian kegiatan komunikasi lisan. Dengan retorika seseorang tidak hanya menjadi mahir berpidato dan mencari kebenaran tetapi juga bisa keberhasilan negoisasi.[15]

Negara-negara yang berjasa mengembangkan ilmu retorika pada zaman modern adalah Perancis, Inggris, Amerika dan Jerman Barat. Berikut ini diuraikan perkembangan di masing-masing negara tersebut.[16]

B.     Ciri dan Karakteristik Retorika

1.      Retorika telah berekembang pada era modern dan dengan memanfaatkan kajian-kajian empiris tentang retorika dalam kehidupan

2.      Aliran pertama retorika dalam masa modern, yang menekankan proses psikologis, dikenal dengan aliran epistemologis.

3.      Aliran retorika modern kedua dikenal sebagai gerakan belles letters. Retorika belletris sangat mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Aliran ketiga disebut gerakan elokusionis, menekankan pada teknik penyampaian pidato.

4.      Pada abad ke-20, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun bergeser menjadi speech, speech communication atau oral communication atau public speaking.[17]

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Sejarah retorika sangat panjang. Retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun sebagai seni yang dipelajari mulai abad ke-5 Sebelum Masehi (SM) ketika kaum Sophis di Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengertahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Retorika sudah tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad ke 4 dan 5 sebelum Masehi pada saat kerajaan yunani kuno sudah ada ahli pidato terkenal, seperti Solon yang hidup pada tahun 640-560 sebelum masehi, Peristratos hidup tahun 600-527 sebelum masehi dan Thenustokles hidup tahun 525-460 sebelum masehi. Pada zaman Romawi, teori retorika Aristoteles sangat sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi, retorika telah memperoleh dasar teoretis yang kokoh. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika. Kemudian pada abad pertengahan sering disebut juga abad kegelapan atau kemunduran retorika, termasuk bagi perkembangan retorika. Ketika agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang Kristen pada saat itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Dan hingga dalam zaman modern (terutama dalam perkembangan agama Protestan dan Katholik) banyak muncul ahli-ahli retorika baru.

B.     Saran

Retorika merupakan hal penting yang harus kita pelajari sebab dengan menguasai retorika yang bagus kita akan dengan mudah meyakinkan, mempengaruhi dan menyampaikan maksud kita kepada orang lain, mempertahankan gagasan, ide-ide dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang logis. Seseorang yang memiliki kemampuan beretorika dengan bagus ketika ia menjadi seorang pembicara maka ia akan menarik, tidak membosankan karena ia mampu memahami keadaan para pendengar serta berbicara dengan tidak bertele-tele, setiap ide dan gagasanya tersusun dengan rapi sesuai dengan herarkinya.

 

Daftar Pustaka

Dhanik Sulistyarini, 2020. Buku Ajar Retorika. Banten: CV. AA Rizky.

 

HMJKPI, “Sejarah Perkembangan Retorika”. http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/sejarah-perkembangan-retorika.html. (3 Maret 2021)

 

Jalaludin Rakhmat, 1994. Retorika Modern. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Moh. Ali Azis, 2019. Public Speaking : Gaya Dan Teknik Pidato Dakwah. Jakarta: Kencana.

 

Artikel Kami, “Perkembangan Retorika Pada Zaman Romawi”, https://www.artikelkami.com/2016/01/perkembangan-retorika-zaman-romawi.html. (3 Maret 2021)

 

Nyoman, Desak, “Retorika pada Abad Pertengahan”.  http://elamikabahasadansastra.blogspot.com/2015/10/retorika-pada-abad-pertengahan.html#:~:text=Perbedaan%20retorika%20pada%20masa%20Yunani,kecuali%20untuk%20berkotbah%20di%20gereja. (5 maret 2021)

 

Rajiyem, Sejarah dan Perkembangan Retorika, Humaniora, Vol.17, No. 2 Juni 2005, Halaman 149

 

Siti Ani Munasaroh, “Sejarah dan Perkembangan Retorika”. http://dakwahalakita.blogspot.com/2016/11/makalah.html. (5 Maret 2021)

 

Suisyanto, 2020. Retorika Dakwah dalam Perspektif Al-Quran. Yogyakarta: Samudra Biru.

 

Sunarto, 2019. Retorika Dakwah. Surabaya: Jaudar Pers.

 

 

 



[1] Suisyanto, Retorika Dakwah dalam Perspektif Al-Quran  (Yogyakarta: Samudra Biru, 2020) hal. 10-11

[2] HMJKPI, “Sejarah Perkembangan Retorika”, diakses dari http://kpi-staipersis.blogspot.com/2007/07/sejarah-perkembangan-retorika.html, pada tanggal 3 Maret 2021 pukul 14.30

[3]  Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 3.

[4] Suisyanto, Op. Cit., hlm. 12

[5] Moh. Ali Azis, Public Speaking : Gaya Dan Teknik Pidato Dakwah (Jakarta: Kencana, 2019), hlm. 10.

[6] Artikel Kami, “Perkembangan Retorika Pada Zaman Romawi”, diakses dari https://www.artikelkami.com/2016/01/perkembangan-retorika-zaman-romawi.html, pada tanggal 3 Maret 2021 pukul 14.30

[7] Dhanik Sulistyarini dkk, Buku Ajar Retorika (Banten: CV. AA Rizky 2020) hal. 29

[8] Dhanik Sulistyarini dkk, Op. Cit., hal. 30

[9] Ibid.,

[10] Suisyanto, Op. Cit., hal 13

[12] Sunarto, Retorika Dakwah (Surabaya: Jaudar Pers, edisi 2019) hal. 15

[13] Dhanik Sulistyarini dkk, Op. Cit., hal 33

[14] Ibid., hal 34

[15] Sunarto, Op. Cit., hal 18

[16] Siti Ani Munasaroh, “Sejarah dan Perkembangan Retorika”, diakses dari http://dakwahalakita.blogspot.com/2016/11/makalah.html pada tanggal 5 Maret 2021 pukul 11.28

[17] Rajiyem, Sejarah dan Perkembangan Retorika, Humaniora, Vol.17, No. 2 Juni 2005, Halaman 149

 

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...