Rentan Waktu
Oleh: Khoirotul Nikmah
AAAAAAAAAAH
HUH UUAAAAHHH, AYO BU SEDIKIT LAGI TARIK NAFAS!!!!!!!!!!!!
Teriakan
itu memenuhi ruangan bersalin, seorang ibu yang sedang bertaruh nyawa
melahirkan putri mungilnya. Pak Hanan yang menunggu dibalik pintu terlihat
sangat gelisah antara bahagia dan sedih. Ia tidak sabar akan kehadiran anak ke
dua nya, namun bercampur takut akan terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Ia
duduk sambil mengepalkan tangan didada seolah tidak berhenti berdo’a pada sang
pemilik dunia, beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan.
“Selamat
pak, bayinya cantik seperti ibunya, tapi bapak harus sabar ya Tuhan lebih
sayang pada istri bapak, ibu Ratih meninggal setelah 2 menit melahirkan” ujar dokter
Siapa
sangka bahwa saat proses kelahiran anak keduanya itu disaksikan oleh para
malaikat yang bersiap menjemput istrinya kepangkuan Ilahi. Isak tangis dan
keringat dingin membuat tubuhnya bergetar tak berdaya, perasaan yang tidak bisa
diungkapkan dengan kata pada saat itu. Keinginanya memiliki anak kedua setelah
23 tahun menunggu ternyata menggores nestapa duka bagai duri mawar hitam yang
menusuk matanya, namun bagaimanapun pak Hanan harus tetap tegar menerima kehendak
Tuhan. Pukul 22.00 WIB setelah proses administrasi rumah sakit dan pemakaman
sang istri, pak Hanan membawa bayinya pulang.
BRAK!!
(suara pintu terbuka keras yang menghantam tembok)
“Astaghfirullah
Afnan, jam segini kamu baru pulang? dari mana saja kamu?”
“Ah
bacod, mana ibu? aku mau makan, suruh dia buatkan aku makan malam!”
“Ibumu
sudah meninggal jangan tanyakan dimana dia” jawab pak Hanan sembari menahan
emosi
Pak
Hanan adalah seorang pengusaha kaya raya yang sangat dihormati karena kedermawananya,
namun keluarga mereka di uji oleh perilaku anak pertamanya yang dinilai keluar
dari norma masyarakat dan nilai keagamaan. Afnan merupakan anak pertama pak
Hanan dan bu Ratih, seorang lelaki yang seharusnya patut dibanggakan oleh kedua
orang tuanya sebagai penerus, namun pergaulan yang suka balapan dan mabuk-mabukan
membuat keluarga pak Hanan kecewa. Ia merasa gagal dalam mendidik putra sulungnya.
Mendengar
kabar itu tatapan mata Afnan menjadi kosong dan mulutnya ikut membisu seolah terkejut
atas apa yang didengarnya, namun rasa gengsi depan ayahnya itu membuat Afnan
pura-pura tidak peduli akan situasi yang ada, ia bergegas menuju kamar dan
menguncinya bersiap meluapkan deraian air mata dan darah duka.
Di
sepertiga malam dengan hembusan angin yang terarah lurus bertemu dinginnya suasana
sekitar pukul 02.00 WIB Aira sang putri kecil itu tidak berhenti menangis seperti
merasakan sakit pada tubuhnya, hari pertama menjadi single parent bagi
pak Hanan tidaklah mudah, ia dibuat gelisah dan bingung harus berbuat apa.
Afnan yang mendengar suara tangisan itupun ikut terbangun dan bergegas
menghampiri ayahnya.
“Ada
apa sih berisik banget!” teriak Afnan kesal
“Astaghfirullah
Afnan, jaga ucapanmu! adikmu panas nak” jawab pak Hanan
“Belikan
kompres instan atau obat di apotik 24 jam beres kan?” suruh Afnan sembari
berbalik arah kembali menuju kamar
Disituasi
yang genting itu mau tidak mau pak Hanan tetap harus pergi keluar mencari obat
untuk Aira, ia menerjang gelombang deru angin yang hampir membuat payungnya
terbang hilang kendali. Hujan petir membuatnya hampir terjatuh karena tidak
melihat batu didepanya yang memang tertutup banjir. Sesampainya di apotik ia
segera memberitahu apoteker atas keluhan bayinya.
Setelah
mendapatkan obat pak Hanan segera pulang untuk memberikanya pada Aira, dan
selang beberapa jam panas Aira sudah mulai menurun, pak Hanan pun merasa
sedikit lega. Keesokan harinya Afnan bersiap berangkat kuliah, seperti biasa ia
hanya membawa tas ringan yang tidak terlihat beban buku sama sekali.
“Udah
mau berangkat nak? kuliah yang bener, kamu sudah molor 2 semester loh emang
kamu gak mau lulus seperti teman kamu yang lain? masa mau jadi mahasiswa
abadi?” ujar pak Hanan sembari tertawa agar tidak menyinggung perasaan anaknya
“Iya
ayah, bawel amat emang sejak kapan ayah peduli sama pendidikan Afnan? selama
ini kan ayah sibuk kerja sama urusan ayah sendiri” jawab Afnan
“Selama
ini ayah bekerja untuk kamu dan almarhum ibumu nak, bukankah tugas ayah memang
mencari nafkah diluar sedangkan ibumu yang mengurus rumah beserta isinya? lalu
dimana kesalahan ayah? ayah selalu memperhatikan kamu, hanya saja kamu tidak
tahu” jelas pak Hanan
“Ah
sudahlah tidak usah membuat citra positif pada diri sendiri, basi!” bentak
Afnan sembari keluar rumah
Pak
Hanan hanya bisa mengelus dada mendengar hal itu, selama ini kasih sayang dan
perjuangannya yang tak kasat mata itu tidak dianggap oleh anaknya. Setiap Afnan
sakit dan segala keperluanya memang dipenuhi oleh ibunya, namun dibalik itu semua
pak Hanan tidak pernah memegang penghasilannya sendiri, sepenuhnya diserahkan
pada bu Ratih almarhum istrinya untuk kehidupan keluarganya. Setelah kepergian sang
istri pak Hanan berusaha menjadi double parent yang memerankan sosok
ayah sekaligus ibu bagi Afnan dan Aira. Ia mulai belajar memasak, menyapu,
menggantikan popok dan semua pekerjaan rumah lainya dari Youtube, meskipun
capek dan sulit ia tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Waktu
terus berlalu, setelah maghrib pukul 18.15 WIB semua warga telah berkumpul rapi
didepan teras rumah pak Hanan bersiap melaksanakan tahlilan. Saat semua khusu’
membaca yasin tiba-tiba Afnan datang berjalan melewati depan warga dengan jalan
yang sempoyongan tanpa sopan santun, sontak semua mata tertuju padanya.
“Astaghfirullah
Afnan, kamu pulang kuliah mabok lagi? mana mobil kamu?” tanya pak Hanan sembari
menghampiri
“Kalah
taruhan yah, mobilnya diambil Yoga” jawab Afnan dengan santai
“Ayah
kan sudah bilang jangan bergaul dengan Yoga dan kawan-kawanya! mereka itu ada
udang dibalik batu! mereka hanya memanfaatkanmu! ayah malu kamu dilihat warga
seperti ini” lanjutnya dengan tegas
“Ayah
tau apa soal teman aku? mereka itu selalu ada buat aku gak seperti ayah! dan
ayah malu punya anak seperti aku? oke aku pergi dan gak akan sudi menginjak
kembali kerumah ini!” jawab Afnan
Sembari
keluar rumah, Afnan membanting semua barang didepanya dan menghentakan kaki,
kejadian ini menjadi topik pembicaraan warga ditengah acara.
“Bukan
begitu maksud ayah nak, tunggu!” teriak pak Hanan berusaha menghentikan Afnan
Langkah
kaki Afnan terus maju tanpa menghiraukan perkataan ayahnya, hatinya terbakar
membara dan ia pergi masih dalam keadaan mabuk. Ditengah perjalanan Afnan tidak
melihat truk dari arah sampingnya hingga membuat Afnan terpental jatuh menatap
trotoar. AAAAAAAAAAAAAHH!!! NYIIIT BRAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!! para warga yang
melihat kejadian itu segera melarikannya kerumah sakit dan disusul dengan pak
Hanan.
“Bagaimana
keadaan anak saya dok?” tanya pak Hanan dengan khawatir
“Afnan
mengalami luka yang cukup serius, sumsum tulang belakangnya retak dan harus
dilakukan operasi, jika tidak maka Afnan akan lumpuh total” jelas dokter
“Jika
sumsum saya cocok, maka ambil saja milik saya dok” pinta pak Hanan
“Bapak
yakin? resikonya berat pak, akan membahayakan diri bapak” kata dokter
Pak
Hanan tak mampu mendengar semua itu, orang yang dimabuk cinta akan tuli dan tak
menggubris pencela, begitupun rasa pak Hanan pada anaknya. Cinta yang tidak
pernah sirna serta tidak peduli terhadap segala akibat, bahkan nyawapun sanggup
diberikan. Setelah mereka berbincang operasi pun dilakukan, beberapa jam
setelah operasi Afnan terbangun dan berhasil melewati masa kritisnya. Hari demi
hari sang ayah tidak pernah meninggalkan anaknya, ia selalu merawat Afnan
dengan penuh ketabahan sambil menggendong Aira sang putri kecilnya. Siang malam
berlalu tiada henti disaksikan Afnan peristiwa perjuangan seorang ayah yang
memadamkan panasnya keegoisan dengan kesejukan sabarnya.
Afnan
tau bahwa ayahnya mendonorkan sumsum tulang untuknya, tanpa peduli rasa sakit
setelah operasi. Pak Hanan sering merasa pusing, lelah, nyeri hebat bahkan
hampir jatuh secara tiba-tiba. Laksana samudera yang dapat memberikan kedamaian
dalam jiwa itulah sosok pak Hanan dimata Afnan saat ini. Ia sadar selama ini
nafsunya dalam kesesatan sebagaimana kuda liar yang tak terkendalikan telah
membawanya dalam kesengsaraan.
Ia
berjanji akan menjaga dirinya dalam ketaatan Tuhan, ia sadar tiada yang lebih
peduli daripada ayahnya. Dahsyatnya tipu daya musuh yang menjadi teman dapat membawa
kelezatan yang mematikan. Ia berharap mampu menjadi sosok seperti pak Hanan yang
rela berkorban sekalipun dibalik layar.