Minggu, 14 Maret 2021

Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

 KHOIROTUL NIKMAH (B01219023)

BAB I

LATAR BELAKANG

Perkembangan Islam di Indonesia atau di lokalitas yang lain tidak menampak­kan wajah Islam yang sama seperti di tanah kelahirannya, yaitu di tanah Arab. Hal tersebut disebabkan karena sudah terjadi akulturasi ajaran Islam dengan nilai-nilai budaya lokal. Inilah bentuk interkoneksi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal. Dari kajian tersebut, didapati pemahaman Islam yang bermacam-macam sehingga diperlukan suatu konsep dan strategi dakwah yang betul-betul mengena dan diterima masyarakat multikultural seperti Indonesia ini. Ide-ide kreatif dan cara pengemasan dakwah di buat semenarik mungkin agar tidak membuat para pendengar bosan dan tidak menyinggung rasa atau suku lain.

Walisongo dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Tujuan walisanga ini yaitu memasukan unsur syara' yang tidak bertentangan dengan adat.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi

1.      Dakwah

Makna kata dakwah secara istilah menurut beberapa ahli adalah:

a)      Menurut Thoha Yahya Omar. Dakwah, mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan didunia dan akherat.

b)      Menurut Aboebakar Atjeh. Dakwah adalah perintah mengajak seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik.[1]

Perintah dakwah secara baik dan lemah lembut ini telah diperintahkan oleh Allah dalam Q.S An-Nahl: 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Menurut video Habib Zaenal Abidin Al-hamid berkata:

“Siapa yang mengajak orang lain pada agama baik melalui individu, persahabatan atau secara berjama’ah hendaklah meluruskan niatnya hanya semata-mata karna Allah”

 

Ummat Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya ummat yang diturunkan oleh Allah SWT ditengah-tengah manusia, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hukum dakwah sendiri yaitu wajib bagi semua orang.[2]

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S Ali Imran: 110)


2.      Multikultural

Multikultural berasal dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya/kebudayaan), yang 19 secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya.[3] Dialektika ini melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya, verbal, bahasa dan lain-lain. Bagi sebagian orang Multikultur belum sepenuhnya dipandang sebagai suatu pemberian takdir Allah. Terkait dengan hal tersebut Al-Qur’an sudah jelas menyatakan dalam surat Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”[4]

Jadi, yang dimaksud dengan Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah agar dapat tersampaikan dengan tetap terpeliharanya situasi damai.[5]

3.      Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya. Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya. Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.[6]

Perbedaan budaya biasa hanya dikaitkan dengan ras, suku dan agama saja. Padahal perbedaan budaya juga bisa terjadi akibat perbedaan jenis kelamin, pekerjaan dan karakteristik social ekonomi lainya. Istilah-istilah dalam Komunikasi Antar Budaya

a.       Anxiety adalah perasaan gelisah, cemas, dan takut. Sedangkan

b.      uncertainty adalah ketidakmampuan untuk memprediksi atau menjelaskan perilaku orang lain, perasaan, sikap atau nilai- nilai.

Kedua hal ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antarbudaya, mereka terjadi akibat pengaruh psikokultural yang ada didalam diri.[7]

B.     Ruang Lingkup

Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok. Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya. Berikut ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi:

1.      Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik dai dengan madu yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para dai.

2.      Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur dai, materi, metode, media, madu dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.

3.      Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi dai maupun yang menjadi madu melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

4.      Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.

5.      Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.[8]

 

C.    Kesimpulan

Dakwah multicultural adalah mengajak manusia kejalan Allah dengan tidak menghilangkan budaya yang telah ada sebelumnya, karena budaya begitu melekat kuat dan mandarah daging pada setiap individu sehingga dengan berkomunikasi antar budaya menciptakan keamanan dan toleransi yang indah. Adapun ruang lingkup kita sebagai da’I harus mempelajari dan memperhatikan unsur, metode, latar belakang, karakteristik dan problematika mad’u.



[1] M Ali Aziz, Ilmu Dakwah.Edisi Revisi, (Jakarta : Kencana, 2009), h. 13

[2] Buya yahya, Al-Bahjah TV, “Apa itu dakwah” https://youtu.be/SU0zpR_pcy8

[3] Maksum, Ali.Pluralisme dan Multikulturalisme,(Malang:Aditya Media Publishing.2011).h.143

[5] Acep, Aripudin. Dakwah Antarbudaya.(Bandung : Rosda Karya : 2012) h.19

[6] Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.2.

[7] Wey Project, “Memahami Komunikasi Antar Budaya” https://youtu.be/ts_MNLPzzgk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...