Komunikasi
tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun
sebagai anggota masyarakat. komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau
pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang. Perlu
disadari bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan
bersosialisasi, bahkan dalam bidang pendidikan agama. Seorang da’i harus dibekali ilmu komunikasi agar apa yang
disampaikanya dapat menjadi efektif dan mad’u dapat memahami pesan dengan mudah.
Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah menyampaikan, mendidik, menghibur,
dan mempengaruhi.[1]
Menurut KBBI Kemendikbud (online), Aktivitas adalah suatu
kegiatan atau kerja yang dilakukan dalam tiap-tiap bagan perusahaan. Sedangkan Anton
M. Mulyono mengungkapkan bahwa aktivitas merupakan kegiatan atau keaktifan.
Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik
fisik ataupun non-fisik adalah sebuah aktivitas. Menurut Sriyono, aktivitas
merupakan segala kegiatan yang dilakukan baik secara jasmani atau rohani. Dari
penjelasan tersebut maka bisa disimpulkan bahwa aktivitas merupakan kegiatan
seseorang yang dilaksanakan baik secara jasmani ataupun rohani atau kegiatan
fisik atau nonfisik.[2]
Pada
dasarnya aktivitas komunikasi dakwah berdasarkan kegiatan sehari-hari. Aktivitas
dakwah yang dilakukan itu menggunakan dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi
yang bersifat verbal dan komunikasi yang bersifat non verbal. Komunikasi yang
bersifat verbal dilakukan dengan cara lisan atau dengan kata-kata seperti
pidato, khutbah, sya’ir dan sebagainya. Sedangkan komunikasi nonverbal
merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan melalui gerak isyarat,
bahasa tubuh, ekspresi wajah dan simbol-simbol tulisan seperti blog islami,
wayang kulit, kaligrafi, buku sejarah islam, kisah para nabi dan sahabatnya dan
sebagainya. Namun dalam Dakwah verbal lisan masih memerlukan bantuan isyarat
nonverbal berupa gerakan tangan, gerakan bibir, dan gerakan wajah. Adapun strategi
ini dilakukan untuk memberi pendekatan budaya dan meyakinkan mad’u.
Aktivitas
komunikasi yang dilakukan seseorang atau kelompok akan menentukan efektifitas
komunikasi. Perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi (mad’u)
memberi perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku yang terdiri dari
perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Efek kognitif terjadi apabila ada
perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsikan khalayak. Efek
ini berhubungan dengan transmisi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, atau
informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan,
disenangi, atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungan dengan emosi, sikap,
atau nilai. Sedangkan efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat
diamati yang meliputi pola-pola tindakan atau kebiasaan berperilaku.[3]
Sedangkan
ketika komunikasi dikaitkan dengan kebudayaan, maka beberapa pakar
mendefinisikan komunikasi antarbudaya dalam berbagai sudut pandang yaitu
sebagaimana berikut ini:
1. Joseph
DeVito (1997: 479) mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya mengacu pada
komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang
memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda.
2. Chaley
H. Dood dalam Liliweri (2013) menegaskan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi
komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi,
antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang
kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.
3. Andrea
L. Rich dan Dennis M. Ogawa dalam Liliweri (2003) menjelaskan bahwa komunikasi
antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan,
misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras, antarkelas social.
Oleh
karena itu kita harus dapat mengembangkan kemampuan antarbudaya untuk memahami
kebudayaan tersebut, yaitu dengan beberapa hal sebagai berikut:
a. Menghargai
martabat orang lain. Apabila suatu saat anda menemukan diri anda tidak cocok
dengan nilai budaya orang lain, maka anda harus mengahargai perbedaan tersebut.
Berikanlah penghargaan dan perhatian kepada orang lain sesuai dengan situasi
kebudayaan mereka. Usahakan untuk lebih memahami daripada mengkritik. Cobalah untuk
menikmati dan merasakan orang lain sesuai dengan kebudayaan mereka.
b. Jika
anda dikritik oleh orang lain, hendaknya anda tidak tersinggung. Kalau kita
mempelajari kebudayaan yang tidak kita kenal, maka biasanya kita akan dikritik
oleh para anggota budaya itu. Oleh karena itu sebaiknya anda tidak tersinggung
karena ritik merupakan pengetahuan tambahan agar kita bisa mawas diri dan
memperbaiki hubungan dengan mereka.
c. Hati-hati
membicarakan sesuatu hal yang sensitif, misalnya masalah keuangan, kekayaan,
material dan lainlain. Apabila anda berteman dengan orang dari budaya lain maka
pelajari persepsi kebudayaan tersebut tentang uang, kekayaan, material dan
lain-lainya itu.
d. Berani
menanggung resiko tertentu terhadap privacy. Seringkali dalam suatu kelompok
karena anggotanya kurang memahami perbedaan kebudayaan maka sangat mungkin
terjadi kesalahpahaman yang membuat salah satu anggota tersinggung, apalagi
kalau privasi kita yang merasa terganggu. Anda bisa segera melupakan hal itu
dengan berfikir bahwa mereka memang berasal dari kebudayaan lain yang kurang
mengetahui bahwa hal tersebut dapat menimbulkan provokasi.
e. Hormatilah
tradisi orang lain. Karena bagi orang lain menganggap tradisi mereka
masing-masing adalah merupakan tradisi yang sakral dan suci.
Adapun
faktor penghambat aktivitas komunikasi dakwah ini adalah:
a. Hambatan
Sosio-antro-Psikologis proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional.
Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi dan masalah yang
muncul dimasyarakat.
b. Hambatan
semantic. Faktor semantis menyangkut bahasa baik lisan maupun tulisan yang
dipergunakan komunikator sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan
perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasinya seorang komunikator
harus benar-benar memperhatikan gangguan semantis ini, sebab salah ucap atau
salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian.
c. Hambatan
mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Seperti
suara microfon yang krotokan, ketikan huruf yang buram tidak jelas dan double pada
buku, suara yang hilang-muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang
sulit dicari sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada storyboard, dan
lain-lain.[4]
d. Hambatan
ekologis disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya
komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan. Contohnya adalah suara riuh
orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir dan lain-lain pada
saat da’i sedang menyampaikan materi.[5]


