Minggu, 30 Mei 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal Dalam Dakwah


Komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang. Perlu disadari bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan bersosialisasi, bahkan dalam bidang pendidikan agama. Seorang da’i  harus dibekali ilmu komunikasi agar apa yang disampaikanya dapat menjadi efektif dan mad’u dapat memahami pesan dengan mudah. Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah menyampaikan, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi.[1]

Menurut KBBI Kemendikbud (online), Aktivitas adalah suatu kegiatan atau kerja yang dilakukan dalam tiap-tiap bagan perusahaan. Sedangkan Anton M. Mulyono mengungkapkan bahwa aktivitas merupakan kegiatan atau keaktifan. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik ataupun non-fisik adalah sebuah aktivitas. Menurut Sriyono, aktivitas merupakan segala kegiatan yang dilakukan baik secara jasmani atau rohani. Dari penjelasan tersebut maka bisa disimpulkan bahwa aktivitas merupakan kegiatan seseorang yang dilaksanakan baik secara jasmani ataupun rohani atau kegiatan fisik atau nonfisik.[2]

Pada dasarnya aktivitas komunikasi dakwah berdasarkan kegiatan sehari-hari. Aktivitas dakwah yang dilakukan itu menggunakan dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi yang bersifat verbal dan komunikasi yang bersifat non verbal. Komunikasi yang bersifat verbal dilakukan dengan cara lisan atau dengan kata-kata seperti pidato, khutbah, sya’ir dan sebagainya. Sedangkan komunikasi nonverbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan melalui gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan simbol-simbol tulisan seperti blog islami, wayang kulit, kaligrafi, buku sejarah islam, kisah para nabi dan sahabatnya dan sebagainya. Namun dalam Dakwah verbal lisan masih memerlukan bantuan isyarat nonverbal berupa gerakan tangan, gerakan bibir, dan gerakan wajah. Adapun strategi ini dilakukan untuk memberi pendekatan budaya dan meyakinkan mad’u.

Aktivitas komunikasi yang dilakukan seseorang atau kelompok akan menentukan efektifitas komunikasi. Perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi (mad’u) memberi perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku yang terdiri dari perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsikan khalayak. Efek ini berhubungan dengan transmisi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungan dengan emosi, sikap, atau nilai. Sedangkan efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati yang meliputi pola-pola tindakan atau kebiasaan berperilaku.[3]

Sedangkan ketika komunikasi dikaitkan dengan kebudayaan, maka beberapa pakar mendefinisikan komunikasi antarbudaya dalam berbagai sudut pandang yaitu sebagaimana berikut ini:

1.      Joseph DeVito (1997: 479) mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda.

2.      Chaley H. Dood dalam Liliweri (2013) menegaskan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.

3.      Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa dalam Liliweri (2003) menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras, antarkelas social.

Oleh karena itu kita harus dapat mengembangkan kemampuan antarbudaya untuk memahami kebudayaan tersebut, yaitu dengan beberapa hal sebagai berikut:

a.       Menghargai martabat orang lain. Apabila suatu saat anda menemukan diri anda tidak cocok dengan nilai budaya orang lain, maka anda harus mengahargai perbedaan tersebut. Berikanlah penghargaan dan perhatian kepada orang lain sesuai dengan situasi kebudayaan mereka. Usahakan untuk lebih memahami daripada mengkritik. Cobalah untuk menikmati dan merasakan orang lain sesuai dengan kebudayaan mereka.

b.      Jika anda dikritik oleh orang lain, hendaknya anda tidak tersinggung. Kalau kita mempelajari kebudayaan yang tidak kita kenal, maka biasanya kita akan dikritik oleh para anggota budaya itu. Oleh karena itu sebaiknya anda tidak tersinggung karena ritik merupakan pengetahuan tambahan agar kita bisa mawas diri dan memperbaiki hubungan dengan mereka.

c.       Hati-hati membicarakan sesuatu hal yang sensitif, misalnya masalah keuangan, kekayaan, material dan lainlain. Apabila anda berteman dengan orang dari budaya lain maka pelajari persepsi kebudayaan tersebut tentang uang, kekayaan, material dan lain-lainya itu.

d.      Berani menanggung resiko tertentu terhadap privacy. Seringkali dalam suatu kelompok karena anggotanya kurang memahami perbedaan kebudayaan maka sangat mungkin terjadi kesalahpahaman yang membuat salah satu anggota tersinggung, apalagi kalau privasi kita yang merasa terganggu. Anda bisa segera melupakan hal itu dengan berfikir bahwa mereka memang berasal dari kebudayaan lain yang kurang mengetahui bahwa hal tersebut dapat menimbulkan provokasi.

e.       Hormatilah tradisi orang lain. Karena bagi orang lain menganggap tradisi mereka masing-masing adalah merupakan tradisi yang sakral dan suci.

Adapun faktor penghambat aktivitas komunikasi dakwah ini adalah:

a.       Hambatan Sosio-antro-Psikologis proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional. Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi dan masalah yang muncul dimasyarakat.

b.      Hambatan semantic. Faktor semantis menyangkut bahasa baik lisan maupun tulisan yang dipergunakan komunikator sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasinya seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan semantis ini, sebab salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian.

c.       Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Seperti suara microfon yang krotokan, ketikan huruf yang buram tidak jelas dan double pada buku, suara yang hilang-muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang sulit dicari sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada storyboard, dan lain-lain.[4]

d.      Hambatan ekologis disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan. Contohnya adalah suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir dan lain-lain pada saat da’i sedang menyampaikan materi.[5]



[1] Toto Asmara, Komunikasi dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) cet ke-2 hal. 6

[4] Onong Uchjana efendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya),2009, hlm. 11

[5] Ibid., hlm 12

Minggu, 16 Mei 2021

Unsur dan Proses Komunikasi Antar Budaya



1.1  Pembahasan

Komunikasi lintas budaya adalah terjadinya pengiriman pesan dari seseorang yang berasal dari satu budaya yang berbeda dengan pihak penerima pesan. Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini memberi penekanan pada aspek perbedayaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan bagi keberlangsungan proses komunikasi. Akulturasi mengacu pada perubahan budaya dan psikologi disebabkan perjumpaan dengan orang yang berbeda budaya yang juga menampakkan prilaku berbeda. Seperti, banyak kelompok di Indonesia yang terakulturasi kedalam gaya hidup orang Barat baik dalam hal berbusana, gaya hidup, system pemerintahan dan sebagainya. Selain itu, banyak individu mengubah prilaku (seperti agama, bahasa, dan lain sebagainya). Proses komunikasi antar budaya melibatkan berbagai unsur, di antaranya bahasa dan relatifitas pengalaman. Relatifitas persepsi, perilaku non verbal, gaya komunikasi, serta nilai dan asumsi.

1)      Bahasa

Bahasa merupakan suatu perangkat kata yang diikat oleh berbagai peraturan. Mempelajari bahasa asing merupakan proses sederhana dengan menyubtitusikan kata-kata dan peraturan tata bahasanya, sehingga memiliki arti yang sama. Bahasa merupakan alat komunikasi dan juga sebagai perwakilan atas persepsi dan pemikiran. Bahasa juga membantu kita untuk membentuk konsep dan pengelompokkan benda melalui kategori verbal dan prototip serta membimbing kita dalam merasakan dan memaknai pengalaman sosial kita.

2)      Persepsi

Pada tingkat dasar persepsi, bahasa dan budaya membimbing kita dalam membentuk gambaran tertentu. Persepsi dalam komunikasi antar budaya adalah proses mengungkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Setiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas di sekelilingnya.

Pengertian persepsi menurut para ahli, diantaranya:

·         Menurut J. Cohen persepsi adalah pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada diluar sana.

·         Menurut Rudolph F. Ferderber persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi.

·         Menurut John R. Wenburg dan William W.Wilmot persepsi adalah cara organisme memberi makna.

Sehingga dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah inti komunikasi dan penafsiran adalah inti persepsi yang identik dengan penyandian balik.

3)      Perilaku non verbal

Bahasa verbal merupakan istilah digital, dengan kata lain “kata” sebagai simbolisasi atas fenomena tertentu. Perilaku nonverbal merupakan istilah analogi, yang mewakili fenomena tertentu dengan menciptakan keadaan atau suasana yang diekspresikan secara langsung. Misalnya, secara digital kita ucapkan “Aku Mencintai mu”. Sementara, secara analogi perasaan tersebut terwakili dengan tatapan dan sentuhan.

4)      Gaya komunikasi

Pola kebiasaan dalam berpikir dimanifestasikan dengan perilaku komunikasi. Karena kebiasaan berpikir kita sebagai besar ditentukan oleh kebudayaan, sehingga saat proses pertukaran kebudayaan seharusnya kita memerhatikan perbedaan dalam gaya komunikasi.

5)      Berbagai nilai dan asumsi

Nilai kebudayaan merupakan suatu pola atau norma kebaikan dan keburukan yang dihasilkan oleh masyarakat yang kemudian digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Asusmsi kebudayaan berhubungan dengan nilai kebudayaan, namun ia lebih lekat dengan fenomena-fenomena sosial.[1]

Adapun unsur atau komponen komunikasi sebagai berikut:[2]

1.      Manusia

Dalam proses komunikasi manusia tentunya melibatkan beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai sumber pesan dan sebagai penerima pesan. Yang dimaksud dengan sumber pesan adalah pihak yang menginisiasi sebuah pesan, dan yang dimaksud dengan penerima pesan adalah pihak yang menjadi target pesan. Setiap individu tidaklah menampilkan kedua peran ini secara independen. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan. Baik sumber pesan atau penerima pesan tidak merespon semua pesan secara seragam atau menyampaikan pesan dengan cara yang sama. Baik sumber pesan maupun penerima pesan memiliki karakteristik individu seperti ras, jenis kelamin, usia, budaya, nilai-nilai, dan sikap yang mempengaruhi orang lain dalam mengirim dan menerima pesan.

2.      Pesan

Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide, pemikiran, ataupun perasaan yang sumber pesan ingin sampaikan atau komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan. Pesan adalah sebuah isi dari interaksi yang termasuk didalamnya berupa simbol-simbol (kata-kata atau frasa) yang digunakan untuk mengkomunikasikan berbagai gagasan yang disertai dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, gesture, kontak fisik, nada suara, dan kode-kode nonverbal lainnya. Pesan dapat disampaikan secara singkat dan mudah untuk dimengerti atau bahkan disampaikan dengan lebih panjang dan sangat kompleks

3.      Media saluran/Channel

Yang dimaksud dengan channel adalah saluran atau media yang menjadi alur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Sebuah pesan bergerak dari satu tempat ke tempat lain, atau dari satu orang ke orang lain melalui sebuah media atau channel. Saluran atau media komunikasi dapat berupa gelombang udara, gelombang suara, kabel dan lain-lain

4.      Umpan Balik

Feedback atau umpan balik adalah tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan nonverbal. Idealnya, kita merespon pesan yang disampaikan oleh orang lain dengan memberikan umpan balik sehingga sumber pesan mengetahui bahwa pesan telah diterima. Umpan balik adalah bagian dari berbagai situasi komunikasi. Walupun tidak memberikan respon atau diam, itupun sebenarnya adalah bentuk umpan balik

5.      Kode

Yang dimaksud dengan kode adalah sebuah susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna di dalam pikiran orang atau orang lain. Simbol-simbol yang dimaksud dapat berupa kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau menciptakan gambar, pemikiran, dan ide di dalam kikiran orang lain. Sebuah computer umumnya membawa pesan-pesan melalui kode biner pada kabel atau serat optic. Hal yang sama dapat kita lakukan dengan orang lain dengan menggunakan sebuah kode yang disebut dengan bahasa. Terdapat dua kode yang digunakan dalam komunikasi antar budaya, yaitu kode verbal dan kode nonverbal. Kode verbal terdiri dari simbol-simbol dan susunan gramatikal. Semua bahasa adalah kode. Kemudian, kode nonverbal terdiri atas simbol-simbol yang bukan berupa kata-kata termasuk didalamnya bahasa tubuh, ruang dan waktu, pakaian, dan lain-lain. Kode nonverbal bukanlah kode non-oral. Semua kode non-oral seperti gerakan tubuh adalah kode nonverbal. Kode nonverbal meliputi kode oral seperti suara, durasi, pitch, dan lain-lain.

6.      Enconding dan Decoding

Proses komunikasi dapat dilihat dari Encoding dan Decoding, Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau menyandi sebuah pesan ke dalam sebuah kode. Decoding adalah proses memberikan makna terhadap pesan tadi.

7.      Gangguang atau Hambatan

Dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam komunikasi antar budaya akan terjadi hambatan ataupun gangguan. Ganguan adalah segala bentuk interferensi dalam proses encoding dan decoding yang mengurangi kejelasan sebuah pean. Gangguan dapat bersifat fisik seperti suara yang sangat keras atau sebuah perilaku yang tidak biasa misalnya seseorang yang berdiri terlalu dekat dengan kita sehingga kita merasa tidak nyaman. Gangguan juga dapat berupa gangguan mental, psikologis, atau semantic. Tentunya unsur-unsur komunikasi lintas budaya tersebut juga berpengaruh dalam kegiatan berdakwah, karena peroses dakwah tidak akan berhasil ataupun akan menemui kesusahan jika kehilangan salah satu unsur tersebut. Contohnya adalah dakwah akan susah dipahami jika da’i memberikan pesan/materi dakwah yang tidak sesuai dengan pengetahuan mad’u, dan juga proses dakwah tidak akan berjalan menarik jika da’i tidak mendapatkan feedback yang baik oleh mad’u.

 

1.2 Kesimpulan

Mengenal unsur-unsur komunikasi lintas budaya bagi seorang da'i merupakan keharusan. Karena kapasitas ini akan menjadi tiket para Da'i dalam rangka melakukan proses adaptasi di berbagai multi budaya, terlebih di Indonesia. Dengan menguasai unsur-unsur dan proses serta asumsi dalam perilaku dan gaya bahsa, para da'i akan memahami perbedaan & akan mampu bersikap netral serta berjiwa moderat.

 

source: https://youtu.be/t2aCTkiJQhY



[1] Wahidah Suryani, “Komunikasi Antarbudaya: Berbagi Budaya Berbagi Makna”, Jourrnal Farabi Vol. 10 No. 1 Juni 2013, email : wahidahsuryanidjafar@yahoo.co.id, hal 8-9.

Sabtu, 08 Mei 2021

Konsep dan Fenomena Corak Keberagamaan Masyarakat Nusantara



KHOIROTUL NIKMAH (B01219023) KPI/A1

1.1       Latar Belakang

Ketika Islam hadir di Nusantara ini, ia merupakan agama baru dan pendatang. Disebut agama baru karena kehadirannya lebih belakang dibanding dengan agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme. Disebut sebagai agama pendatang karena agama ini hadir dari luar negeri yaitu negara Arab. Sebagai agama baru dan pendatang saat itu, Islam harus menempuh strategi dakwah tertentu, melakukan berbagai adaptasi dan seleksi dalam menghadapi budaya dan tradisi yang berkembang di Nusantara. Dalam perkembangannya, Islam mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia sehingga Islam mengalami perkembangan pesat. Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa kemenangan Islam itu sangat fenomenal, dua raksasa agama tua yang telah eksis berabad-abad di Nusantara yaitu Hindu-Budha tersingkir sedemikian rupa, kecuali Hindu di Bali yang masih bertahan.[1] Faktanya perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal itu seringkali menimbulkan akulturasi budaya. Akulturasi budaya tidak bisa dibendung ketika Islam memasuki wilayah baru. Jika Islam bersikap keras terhadap budaya atau tradisi lokal yang terjadi justru pertentangan terhadap Islam itu sendiri bahkan peperangan dengan pemangku budaya, tradisi atau adat lokal seperti perang Padri di Sumatera.

Ekpresi Islam lokal ini cenderung berkembang sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Inilah yang dimaksud dengan corak dan warna Islam Nusantara. Ekpresi Islam yang berasal dari persentuhan ajaran-ajaran budaya lokal di Nusantara telah melahirkan berbagai identitas baru yang melekat. Identitas Islam yang baru ini menimbulkan kebingungan bagi orang-orang awam, melahirkan penolakan dari kalangan Islam skripturalis maupun formalis, tetapi menumbuhkan rasa simpati bagi kalangan Islam moderat, bahkan sangat menarik perhatian bagi para ilmuwan sosial untuk mengamati dan mencermati keunikannya masing-masing. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa Islam satu itu hanya terdapat pada al-Qur’an. Tetapi alQur’an (serta hadis) itu membutuhkan penjabaran yang rinci sehingga maksud ayat-ayatnya perlu ditafsirkan dan dijelaskan. Akhirnya menumbuhkan penjelasan dan penafsiran yang berbeda-beda hingga mengkristal menjadi bangunan mazhab maupun aliran yang bermacam-macam.[2]

1.2       Pembahasan

A.    Penegasan Kata Islam Nusantara

Ada golongan yang berkenyakinan bahwa ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad dalam konteks budaya Arab adalah “Final” sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Tidak ada pemisahan antara Islam dan budaya Arab. Golongan pertama ini disebut kelompok fundamentalis yang berambisi menyeragamkan seluruh budaya yang ada dunia menjadi satu sebagaimana yang dipraktekkan Nabi Muhammad. Budaya yang berbeda dianggap bukan bagian dari Islam, sehingga kelompok ini gagal menghadirkan wajah Islam yang ramah dan cenderung memaksakan kehendak kepada budaya lain, bahkan menggunakan kekerasan dalam mendakwahkan Islam.

Golongan kedua yakni kelompok substantif berpikir sebaliknya, mereka menghadirkan Islam sebagai nilai yang dapat masuk dan berkelindan secara substantif dengan konteks budaya lokal. Islam mereka pahami terletak pada nilai bukan pada bentuk fisik dari budaya itu, termasuk budaya Arab, sehingga kelompok kedua ini dianggap mendistorsi ajaran Islam dan rawan terjebak kepada sinkretisme.

Golongan ketiga yakni mereka yang berupaya membuat sintesa menengahi kedua kelompok terdahulu. Kelompok ketiga ini menyatakan bahwa ada dari sisi Islam yang bersifat literal yang perlu dipraktekan apa adanya dalam setiap konteks apapun namun ada juga sisi Islam yang bersifat substantif. Islam Nusantara memposisikan diri pada kelompok ketiga ini yakni melihat Islam secara substantif namun sekaligus tidak menafikan bagian yang literal dari Islam.[3]

Penyematan istilah “Islam Nusantara” memiliki perbedaan dari “Islam di Nusantara”. Nusantara pada istilah yang pertama adalah sifat, Sementara istilah kedua Islam di Nusantara menunjukkan Nusantara hanya sebagai tempat saja yang tidak memiliki hubungan dengan Islam. Oleh karena itu “Islam Nusantara” dapat dipahami Islam dengan corak, warna, kekhasan, keunikan, karakter, budaya Nusantara. Istilah Nusantara di sini tidak menunjuk pada satu model, corak, atau budaya yang seragam, namun menunjuk pada keanekaragaman budaya, suku, adat istiadat dan keyakinan yang ada di pulau-pulau Nusantara.

 

B.     Konsep dan Fenomena Awal Islam Nusantara

Dengan menggunakan prinsip “Adhesi” bukan “Konversi”. “Adhesi” adalah perubahan keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama, sedangkan “Konversi” mengisyaratkan perubahan yang total dan ketertundukan yang penuh pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal. Wali Sanga di Jawa mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dengan ekstrimisme melainkan dalam bentuk kompromi terhadap kepercayaan lokal yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian dan trik-trik supernatural lainnya.[4]

Kesuksesan islamisasi di tanah Jawa pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim dari Champa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi yang diperistri Raja Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan para juru dakwah (wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan jaringan kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat. Kekuatan gerakan ini terletak pada:

1)      Ajaran sufisme “sintetis mistis”

Sufisme yang dimaksud adalah ajaran wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan) sehingga tidak terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak arwah di mana-mana, dan dalam memandang benda-benda alam terpengaruh aura ketuhanan.

2)      Aslimilasi dalam Pendidikan

Asimilisasi pendidikan adalah pembangunan pesantren yang mendidik generasi-generasi pelanjut dakwah Islam, dalam konteks Raden Rakhmat (Sunan Ampel) terlihat peran anak dan muridnya dalam perkembangan Islam di Jawa, seperti Sunan Bonang dan Raden Fatah sebagai sultan dari kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak.

3)      Dakwah lewat seni dan budaya

Gerakan dalam seni dan budaya dalam bentuk wayang yang disesuaikan dengan kisah dan nafas Islam, juga keterlibatan para wali dalam menyusun tembang, kidung, musik, hingga permainan anak-anak yang bernafaskan Islam.

 

C.    Konsep dan Fenomena Pertengahan Islam Nusantara

Lahirnya Neo-Sufisme. Neo-sufisme secara singkat dapat dikatakan sebagai upaya penegasan kembali nilai-nilai Islam yang utuh, yakni kehidupan yang berkeseimbangan dalam segala aspek kehidupan dan dalam segi ekspresi kemanusiaan.[5] Dulu sufisme tidak tertarik untuk memikirkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, bahkan lebih tertumpu ke arah aspek-aspek peribadatan saja. Dari sudut lain, terdapat pula kelompok muslimin (bahkan mayoritasnya) yang lebih mengutamakan aspek-aspek formal-lahiriah ajaran agama melalui pendekatan eksoterik-rasional. Dari banyak usaha percobaan menyatukan antara dua pandangan yang berbeda orientasi itu, maka al-Ghazali telah mengutarakan konsep yang dikenal sebagai syariat, tarekat, hakekat dan makrifat yang terpadu secara utuh.[6] Adapun konsep neo-sufisme oleh Fazlur Rahman sesungguhnya menghendaki agar umat Islam mampu melakukan tawazun (keseimbangan) antara pemenuhan kepentingan akhirat dan kepentingan dunia, serta umat Islam harus mampu memformulasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Kebangkitan kembali tasawuf di dunia Islam dengan istilah baru yaitu Neo-Sufisme nampaknya tidak boleh dipisahkan dari apa yang disebut sebagai kebangkitan agama.

 

D.    Konsep dan Fenomena Modern Islam Nusantara

Tiga sumber utama dari modernisme adalah teori dan praktik kapitalisme, industrialisasi dan negara bangsa. Pada tahap ini Islam Nusantara sudah terlibat aktif dalam politik kebangsaan dan juga dalam fenomena sosial budaya. Di era modern ini wajah Islam Nusantara mengalami banyak kemajuan dan perubahan yang berarti, salah satu yang mengembirakan adalah munculnya generasi Islam yang berpikir progresif dan terbuka kepada konteks zaman yang diwarnai oleh globalisasi serta arus informasi dan digitalisasi. Nilai-nilai pruralisme dan wacana hak asasi manusia serta lingkungan hidup menjadi agenda yang kini makin lama makin sering menjadi agenda bersama agama-agama di mana Islam terlibat aktif di dalamnya. Namun di sisi lain Islam Nusantara juga sedang bergumul dengan menguatnya semangat fundamentalisme agama yang berdampak pada aksi terorisme dan berbagai kekerasan yang membajak agama. Hal ini tidak terlepas dari isu-isu politik internasional dan lokal ditambah lagi dengan kepentingan-kepentingan politik partisan dan pragmatis dimana nilai-nilai substantif dari agama justru dikorbankan. Di era ini Islam Nusantara berhadapan dengan tantangan mengkontekstualisasikan nilai-nilai Islam dengan perkembangan zaman modern, suatu zaman yang dikuasai oleh teknologi informatika. Tanpa penguasaan ilmu dan teknologi informatika tersebut maka umat Islam dapat menjadi umat yang terjajah lagi secara kultural dan psikologis oleh bangsa-bangsa yang didominasi peradaban teknologi tinggi.[7]

 

1.3       Kesimpulan

Islam Nusantara yang menandai corak keberagamaan telah melewati proses panjang dalam aktivitas dakwah para pendahulu yang mampu mengkomunikasikan pesan-pesan Islami di tengah budaya local masyarakat yang jauh sebelumnya telah memiliki seperangkat tradisi dan ritual kepercayaan non-Islami. Kajian dengan pendekatan fenomenologis dan analisis wacana terhadap berbagai sumber  literatur dan media sosial, mengungkapkan fakta bahwa karakteristik keberagamaan Islam Nusantara dapat menginspirasi gagasan-gagasan inklusif, dinamis, dan dialogis bagi pelaku dakwah sebagai model pengembangan dakwah dengan pola komunikasi lintas budaya. Mengingat dunia yang semakin global menjadikan sikap-sikap yang lahir dari corak Islam Nusantara mampu melintasi ragam budaya yang berbeda dalam dakwah dan syiar Islam dan menggabungkan ilmu sosial dengan ilmu dakwah yang biasa disebut sebagai sosiologi dakwah.



[1] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan Sebuah refleksi Sejarah (Bandung,:Mizan,2009), 62

[2] Azyumardi Azra, “Jaringan Islam Nusantara”, dalam Akhmad Sahal (eds.), Ibid.,171-172.

[3] Khabibi Muhammad Luthfi, “Islam Nusantara: Relasi Islam dan Budaya Lokal” dalam (Shahih Vol I, No.I, Januari-Juni 2016: LP2M IAIN Surakarta), 2

[4] ibid., 20-22

[5] Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. Konteks Berteologi di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm.

[6] Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, (Kuwait: Daar al-Bayan, 1970), hlm. 31

[7] Armahedi Mahzar, “Dari Reformasi ke Transformisme Islam: Refleksi Integritas Tentang Angkatan 80- an” dalam ‘Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia’(Bandung:PT.Remaja Rosdakarya:1990),219

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...