Kamis, 30 Desember 2021

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                   Rentan Waktu

Oleh: Khoirotul Nikmah

AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SEDIKIT LAGI TARIK NAFAS!!!!!!!!!!!!

Teriakan itu memenuhi ruangan bersalin, seorang ibu yang sedang bertaruh nyawa melahirkan putri mungilnya. Pak Hanan yang menunggu dibalik pintu terlihat sangat gelisah antara bahagia dan sedih. Ia tidak sabar akan kehadiran anak ke dua nya, namun bercampur takut akan terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Ia duduk sambil mengepalkan tangan didada seolah tidak berhenti berdo’a pada sang pemilik dunia, beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan.

“Selamat pak, bayinya cantik seperti ibunya, tapi bapak harus sabar ya Tuhan lebih sayang pada istri bapak, ibu Ratih meninggal setelah 2 menit melahirkan” ujar dokter

Siapa sangka bahwa saat proses kelahiran anak keduanya itu disaksikan oleh para malaikat yang bersiap menjemput istrinya kepangkuan Ilahi. Isak tangis dan keringat dingin membuat tubuhnya bergetar tak berdaya, perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata pada saat itu. Keinginanya memiliki anak kedua setelah 23 tahun menunggu ternyata menggores nestapa duka bagai duri mawar hitam yang menusuk matanya, namun bagaimanapun pak Hanan harus tetap tegar menerima kehendak Tuhan. Pukul 22.00 WIB setelah proses administrasi rumah sakit dan pemakaman sang istri, pak Hanan membawa bayinya pulang.

BRAK!! (suara pintu terbuka keras yang menghantam tembok)

“Astaghfirullah Afnan, jam segini kamu baru pulang? dari mana saja kamu?”

“Ah bacod, mana ibu? aku mau makan, suruh dia buatkan aku makan malam!”

“Ibumu sudah meninggal jangan tanyakan dimana dia” jawab pak Hanan sembari menahan emosi

Pak Hanan adalah seorang pengusaha kaya raya yang sangat dihormati karena kedermawananya, namun keluarga mereka di uji oleh perilaku anak pertamanya yang dinilai keluar dari norma masyarakat dan nilai keagamaan. Afnan merupakan anak pertama pak Hanan dan bu Ratih, seorang lelaki yang seharusnya patut dibanggakan oleh kedua orang tuanya sebagai penerus, namun pergaulan yang suka balapan dan mabuk-mabukan membuat keluarga pak Hanan kecewa. Ia merasa gagal dalam mendidik putra sulungnya.

Mendengar kabar itu tatapan mata Afnan menjadi kosong dan mulutnya ikut membisu seolah terkejut atas apa yang didengarnya, namun rasa gengsi depan ayahnya itu membuat Afnan pura-pura tidak peduli akan situasi yang ada, ia bergegas menuju kamar dan menguncinya bersiap meluapkan deraian air mata dan darah duka.

Di sepertiga malam dengan hembusan angin yang terarah lurus bertemu dinginnya suasana sekitar pukul 02.00 WIB Aira sang putri kecil itu tidak berhenti menangis seperti merasakan sakit pada tubuhnya, hari pertama menjadi single parent bagi pak Hanan tidaklah mudah, ia dibuat gelisah dan bingung harus berbuat apa. Afnan yang mendengar suara tangisan itupun ikut terbangun dan bergegas menghampiri ayahnya.

“Ada apa sih berisik banget!” teriak Afnan kesal

“Astaghfirullah Afnan, jaga ucapanmu! adikmu panas nak” jawab pak Hanan

“Belikan kompres instan atau obat di apotik 24 jam beres kan?” suruh Afnan sembari berbalik arah kembali menuju kamar

Disituasi yang genting itu mau tidak mau pak Hanan tetap harus pergi keluar mencari obat untuk Aira, ia menerjang gelombang deru angin yang hampir membuat payungnya terbang hilang kendali. Hujan petir membuatnya hampir terjatuh karena tidak melihat batu didepanya yang memang tertutup banjir. Sesampainya di apotik ia segera memberitahu apoteker atas keluhan bayinya.

Setelah mendapatkan obat pak Hanan segera pulang untuk memberikanya pada Aira, dan selang beberapa jam panas Aira sudah mulai menurun, pak Hanan pun merasa sedikit lega. Keesokan harinya Afnan bersiap berangkat kuliah, seperti biasa ia hanya membawa tas ringan yang tidak terlihat beban buku sama sekali.

“Udah mau berangkat nak? kuliah yang bener, kamu sudah molor 2 semester loh emang kamu gak mau lulus seperti teman kamu yang lain? masa mau jadi mahasiswa abadi?” ujar pak Hanan sembari tertawa agar tidak menyinggung perasaan anaknya

“Iya ayah, bawel amat emang sejak kapan ayah peduli sama pendidikan Afnan? selama ini kan ayah sibuk kerja sama urusan ayah sendiri” jawab Afnan

“Selama ini ayah bekerja untuk kamu dan almarhum ibumu nak, bukankah tugas ayah memang mencari nafkah diluar sedangkan ibumu yang mengurus rumah beserta isinya? lalu dimana kesalahan ayah? ayah selalu memperhatikan kamu, hanya saja kamu tidak tahu” jelas pak Hanan

“Ah sudahlah tidak usah membuat citra positif pada diri sendiri, basi!” bentak Afnan sembari keluar rumah

Pak Hanan hanya bisa mengelus dada mendengar hal itu, selama ini kasih sayang dan perjuangannya yang tak kasat mata itu tidak dianggap oleh anaknya. Setiap Afnan sakit dan segala keperluanya memang dipenuhi oleh ibunya, namun dibalik itu semua pak Hanan tidak pernah memegang penghasilannya sendiri, sepenuhnya diserahkan pada bu Ratih almarhum istrinya untuk kehidupan keluarganya. Setelah kepergian sang istri pak Hanan berusaha menjadi double parent yang memerankan sosok ayah sekaligus ibu bagi Afnan dan Aira. Ia mulai belajar memasak, menyapu, menggantikan popok dan semua pekerjaan rumah lainya dari Youtube, meskipun capek dan sulit ia tetap berusaha memberikan yang terbaik.

Waktu terus berlalu, setelah maghrib pukul 18.15 WIB semua warga telah berkumpul rapi didepan teras rumah pak Hanan bersiap melaksanakan tahlilan. Saat semua khusu’ membaca yasin tiba-tiba Afnan datang berjalan melewati depan warga dengan jalan yang sempoyongan tanpa sopan santun, sontak semua mata tertuju padanya.

“Astaghfirullah Afnan, kamu pulang kuliah mabok lagi? mana mobil kamu?” tanya pak Hanan sembari menghampiri

“Kalah taruhan yah, mobilnya diambil Yoga” jawab Afnan dengan santai

“Ayah kan sudah bilang jangan bergaul dengan Yoga dan kawan-kawanya! mereka itu ada udang dibalik batu! mereka hanya memanfaatkanmu! ayah malu kamu dilihat warga seperti ini” lanjutnya dengan tegas

“Ayah tau apa soal teman aku? mereka itu selalu ada buat aku gak seperti ayah! dan ayah malu punya anak seperti aku? oke aku pergi dan gak akan sudi menginjak kembali kerumah ini!” jawab Afnan

Sembari keluar rumah, Afnan membanting semua barang didepanya dan menghentakan kaki, kejadian ini menjadi topik pembicaraan warga ditengah acara.

“Bukan begitu maksud ayah nak, tunggu!” teriak pak Hanan berusaha menghentikan Afnan

Langkah kaki Afnan terus maju tanpa menghiraukan perkataan ayahnya, hatinya terbakar membara dan ia pergi masih dalam keadaan mabuk. Ditengah perjalanan Afnan tidak melihat truk dari arah sampingnya hingga membuat Afnan terpental jatuh menatap trotoar. AAAAAAAAAAAAAHH!!! NYIIIT BRAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!! para warga yang melihat kejadian itu segera melarikannya kerumah sakit dan disusul dengan pak Hanan.

“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya pak Hanan dengan khawatir

“Afnan mengalami luka yang cukup serius, sumsum tulang belakangnya retak dan harus dilakukan operasi, jika tidak maka Afnan akan lumpuh total” jelas dokter

“Jika sumsum saya cocok, maka ambil saja milik saya dok” pinta pak Hanan

“Bapak yakin? resikonya berat pak, akan membahayakan diri bapak” kata dokter

Pak Hanan tak mampu mendengar semua itu, orang yang dimabuk cinta akan tuli dan tak menggubris pencela, begitupun rasa pak Hanan pada anaknya. Cinta yang tidak pernah sirna serta tidak peduli terhadap segala akibat, bahkan nyawapun sanggup diberikan. Setelah mereka berbincang operasi pun dilakukan, beberapa jam setelah operasi Afnan terbangun dan berhasil melewati masa kritisnya. Hari demi hari sang ayah tidak pernah meninggalkan anaknya, ia selalu merawat Afnan dengan penuh ketabahan sambil menggendong Aira sang putri kecilnya. Siang malam berlalu tiada henti disaksikan Afnan peristiwa perjuangan seorang ayah yang memadamkan panasnya keegoisan dengan kesejukan sabarnya.

Afnan tau bahwa ayahnya mendonorkan sumsum tulang untuknya, tanpa peduli rasa sakit setelah operasi. Pak Hanan sering merasa pusing, lelah, nyeri hebat bahkan hampir jatuh secara tiba-tiba. Laksana samudera yang dapat memberikan kedamaian dalam jiwa itulah sosok pak Hanan dimata Afnan saat ini. Ia sadar selama ini nafsunya dalam kesesatan sebagaimana kuda liar yang tak terkendalikan telah membawanya dalam kesengsaraan.

Ia berjanji akan menjaga dirinya dalam ketaatan Tuhan, ia sadar tiada yang lebih peduli daripada ayahnya. Dahsyatnya tipu daya musuh yang menjadi teman dapat membawa kelezatan yang mematikan. Ia berharap mampu menjadi sosok seperti pak Hanan yang rela berkorban sekalipun dibalik layar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...