Selasa, 09 Maret 2021

Dakwah dan Problematika Modernitas

 

MAKALAH

Analisis Dakwah dan Problematika Modernitas

(Agama, Budaya, Transformasi dan Masyarakat Industri)

 

Dosen Pengampu:

Anis Bachiar, M.Fil.I

Kel. 10

Husen                                     (B01219018)

Khoirotul Nikmah                (B01219023)

Muhamad Misbach Najib    (B01219032)

 

 

KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

 

 

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Analisis Dakwah dan Problematika Modernitas”. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah dan Filsafat Dakwah. Selama penyusunan makalah ini kami mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan dalam tepat waktu.

Dalam hal ini kami menyampaikan ucapan terima kasih atas bimbingan dan bantuan yang telah diberikan oleh:

1.      Bpk. Anis Bachiar, M.Fil.I selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah dan Filsafat Dakwah

2.      Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materil.

3.      Teman-teman sepejuangan kami.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak terlepas dari kekurangan. Untuk itu kami senantiasa terbuka menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini kedepan. Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini penulis mengucapkan banyak terimakasih.

Jazakumullah Khairan Katsiro.

 

 

 

 

 

Surabaya, 10 Ooktober 2020

 

 

 

Daftar Isi

Kata Pengantar 2

Daftar Isi 3

Latar Belakang 4

BAB I

A.    Pengertian Dakwah dan Masyarakat Industri 6

1.      Dakwah 6

2.      Masyarakat Industri 6

B.     Tantangan Modernitas dan Problematika Dakwah yang Berkaitan dengan Masyarakat Industri Lanjut 7

C.     Praktik Dakwah yang Berkaitan dengan Relasi Agama, Budaya dan Trasformasi Sosial 12

BAB II

A.    Kesimpulan 16

B.     Saran 16

Daftar Pustaka 17

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latar Belakang

Islam dikenal dunia sebagai Agama rahmatan lil’alamin yang membawa keselamatan dan kedamaian, dimana keselamatan dan kedamaian ini diserukan melalui sebuah aktivitas mulia yang tidak diajarkan dalam agama manapun kecuali di dalam Islam. Aktivitas mulia itu adalah dakwah. Dakwah merupakan wadah sekaligus merupakan sektor terpenting dalam pembentukan pemuda-pemuda Islam sebagai agen of the change peyebarluasan Islam. Pemuda adalah penerima estafet dakwah yang harus meneruskan perjalanan dakwah dan banyak lagi nilai yang ditempelkan pada pemuda. Hal ini tentunya tidak dapat muncul begitu saja, melainkan dilahirkan oleh realitas proses dakwah itu sendiri. Dapat dibayangkan jika dakwah Islam tidak ada regenerasi yang akan meneruskan estafet perjuangannya, maka dakwah Islam akan mulai surut dan kemungkaran akan merajalela menguasai dunia. Tantangan dakwah Islam juga terkait dengan tantangan modernitas yang ditandai dengan kreativitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia. Kebutuhan manusia yang melingkupi seluruh dimensi material dan immaterial, mendorong manusia untuk bekerja dan berpikir meraih kebutuhan tersebut. Modernitas sudah hadir semenjak zaman klasik Nabi Muhammad SAW lahir sebagai bapak reformasi.

Modernitas mengalami perkembangan cukup pesat karena didorong oleh timbul dan berkembanganya masyarakat industri yang muncul setelah terjadinya revolusi industri. Perkembangan industri dan perdagangan yang dimungkinkan oleh gerak kapitalisme menggambarkan kemampuan dan manfaat ilmu pengetahuan dan filsafat bagi kehidupan praktis. Dampak dari modenitas ini menyangkut pada sektor ekonomi, politik, sosial, budaya, dan agama. Modernitas juga ditandai dengan hingar-bingarnya teknologi. Modernitas ditandai dengan kreativitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia. Kebutuhan manusia yang melingkupi seluruh dimensi material dan immaterial, mendorong manusia untuk bekerja dan berpikir meraih kebutuhan tersebut.

Modernisme khususnya di Barat adalah suatu antroposentrisme yang hampir tidak terkekang. Seperti pendapat Arnold Toynbe, seorang ahli sejarah terkenal mengatakan “bahwa modernitas telah mulai sejak menjelang akhir abad kelima belas masehi, ketika orang Barat berterimakasih tidak kepada Tuhan, tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan. Kekuatan untuk keluar dari doktrin gereja telah menggeser cara pandang masyarakat gerejani untuk berpikir rasional dan modern. Selaras dengan hal tersebut, Pye menegaskan betapa dalam fakta tentang modernitas yang “given” sekarang ini, terdapat unsur-unsur budaya, yang dilahirkan pertama kali dari Barat, lengkap dengan pengalaman barat dan budaya itu, misalnya lingkungan agama dan budaya Kristen. Namun demikian wacana modernitas tidak serta-merta lepas dari sejarah panjang yang mengitarinya karena kehadiran modernitas sendiri telah dirintis sejak zaman agraris; zaman pertanian yang identik dengan masa lalu yang tradisional.

Seiring dengan kesadaran masyarakat kota yang rasional-realistik, dinamis-maju, maka perlu adanya perubahan paradigma terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan alam yang lebih menjanjikan kesejahteraan dan kemakmuran. Sementara itu, dalam perspektif sejarah Islam, ruh dan semangat modernitas sudah hadir semenjak zaman klasik; Nabi Muhammad SAW lahir sebagai bapak reformasi Islam; mengubah zaman jahiliyah menjadi zaman berperadaban (masyarakat madani). Banyak jejak yang telah ditulis sang reformer sebagai suatu yang “istimewa”, melampaui perkembangan dan tradisi masayarakat Arab saat itu, salah satunya meletakkan perjanjian hudaibiyah sebagai simbol kekuatan dan persatuan bangsa dan agama-agama, mempersatukan perbedaan, menegakan keadilan, memberi peluang untuk melakukan partisipasi, akses, kontrol, dan manfaat yang sama pada setiap anak bangsa (laki-laki dan perempuan Madinah) dalam mematuhi segala peraturan serta mengubur kebiasaan yang tidak beradab. Kesadaran untuk memajukan umat Islam telah ditulis pula dalam karya besar anak muslim sebagai penerus modernitas yang telah ditulis dan dicontohkan sang Reformer.

Oleh karena itu, telah lahir berbagai pemikiran dan karya produksi manusia modern tentang teknologi sebagai media dakwah. Dari latar belakang diatas sungguh jelas sekali bahwa dakwah yang bernilai bagi pembinaan pemuda Islam sangatlah perlu dikaji. Dimana dakwah yang proporsional sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemajuan teknologi serta informasi dalam menghadapi zaman yang semakin canggih dan modern. jika dakwah yang disampaikan mengandung nilai estetika yang tinggi , maka akan terasa indah namun tetap tegas dan bijaksana, sehingga dakwah yang disampaikan akan dipandang sebagai proses perubahan yang disajikan secara professional menuju peradaban yang lebih baik.

 

 

 

 

BAB I

A.    Pengertian Dakwah dan Mayarakat Industri

1.      Dakwah

Dakwah (Arab: دعوة ,da‘wah; "ajakan") adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.[1] Sedangkan menurut istilah para ulama’ memberikan ta’rif (definisi) yang bermacam-macam antara lain:

·         Syech Ali Mahfudh dalam kitabnya “Hidayatul Mursyidin” mengatakan dakwah adalah: Mendorong manusia untuk berbuat kebajikan dan mengikuti petunjuk (agama), menyeru merka pada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan munkar agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.

·         Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam bukunya “beberapa Catatan Mengenai Dakwah Islam’ mengatakan: Dakwah adalah seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar, dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan nasehat yang baik.[2]

 

2.      Masyarakat Industri

Mayarakat industri merupakan sebuah masyarakat yang dalam proses produksinya didorong atau didukung oleh penggunaan teknologi yang modern, dimana penggunaan teknologi ini bertujuan untuk menghasilkan barang dalam jumlah yang relatif besar. Hal ini terjadi karena ditemukannya sebuah sumber energi eksternal, selain itu urbanisasi menjadi salah satu faktor industrialisasi atau proses perubahan dari penggunaan teknologi tradisional menuju ke penggunaan teknologi modern.[3]

Kata Masyarakat berarti kumpulan individu yang menjalin kehidupan bersama sebagai satu kesatuan yang besar yang saling membutuhkan, memiliki ciri-ciri yang sama sebagai kelompok. Kata Industri berarti perusahaan yang membuat atau menghasilkan barangbarang.[4] Jadi Masyarakat industri berarti kumpulan individu yang menjalin kehidupan bersama sebagai satu kesatuan yang besar yang saling membutuhkan dan menghasilkan barang-barang tertentu.

Di era modern sekarang ini, termasuk juga di dalam masyarakat industri kegiatan dakwah konvensional (lisan, melalui mimbar) dirasa kurang cukup, dakwah selalu dikembangkan dan dikondisikan dengan memanfaatkan penggunaan teknologi informasi (seperti; cetak, elektronik, dan internet). Ajaran Islam semestinya didakwahkan dengan strategi yang tepat karena esensi dakwah adalah memberikan informasi, menyeru dan mengajak manusia kepada jalan Tuhannya untuk taat dan patuh pada ajarannya, serta kegiatan penghambaan yang didasari oleh sikap sabar dan ikhlas, sehingga untuk mendukung efektifitasnya diperlukan pula pengetahuan mendalam tentang pokok-pokok landasan tentang dakwah, sebagaimana diisyaratkan didalam Alquran Q.S. al-Nahl (16) ayat: 125:

اُدۡعُ اِلٰى سَبِيۡلِ رَبِّكَ بِالۡحِكۡمَةِ وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ‌ وَجَادِلۡهُمۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ‌ؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ‏

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”[5]

B.     Tantangan Modernitas dan Problematika Dakwah yang Berkaitan dengan Masyarakat Industri Lanjut.

Istilah modernitas tidak terlepas dari istilah lain yang serumpun dengannya. Pertama, modern dalam bahasa Indonesia berarti baru, aktual, trend, maju, dan baik. Modern juga dapat diterjemahkan sebagai sikap, cara berpikir, dan cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Kedua, modern memiliki akar istilah modernitas yang berarti kemodernan. Ketiga, modernisasi, proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Istilah-istilah tersebut dekat dan akrab dengan masyarakat saat ini. Modernitas merupakan usaha sadar manusia modern untuk melakukan perubahan. Modernitas merupkan sebuah natur atau fitrah manusia untuk melakukan perbaikan hidup. Modernitas dipandang sebagai sebuah kelanjutan wajar dan logis dalam sejarah dan perkembangan kehidupan manusia. Hanya saja ketika modernitas memiliki hubungan sejarah dengan Barat yang Kristen (given Barat), maka menyisakan problematika bagi masyarakat Timur yang Islam.[6]

Agama merupakan undang-undang hidup yang menjanjikan kebahagian dunia dan akhirat. Hanya saja dalam tataran praktis, manusia tidak seluruhnya mempercayai agama yang dapat memberi janji kesempurnaan hidup. Mereka meninggalkan agama dan mencari kebutuhan ruhani lewat alternatif lain, misalnya kehidupan materialis dan hedonis. Fenomena tersebut merupakan tantangan dakwah. Apalagi dakwah sejak permulaan kelahirannya memang telah menghadapi berbagai tantangan, baik spiritual maupun intelektual. Sebagai wahyu, al-Qur’an turun untuk merespon tantangan yang dilontarkan oleh agama-agama terdahulu, baik Yahudi maupun Nasrani.

Selanjutnya, pada abad ke-8 hingga abad ke-10 timbul pula tantangan lain, yaitu tantangan intelektual dan budaya, khususnya yang dimunculkan oleh intelektualisme Helenis. Dalam menghadapi gelombang tantangan tersebut, Islam boleh dikatakan berhasil. Bahkan, tradisi intelektualisme Helenis itu akhirnya diintegrasikan dalam bangunan tubuh ilmu pengetahuan Islam.[7] Namun demikian, tidak dapat dipungkiri semua itu tidak lepas dari kondisi Islam pada waktu itu, yang memang secara psikologis tegar dan secara politis kuat. Tantangan dan peluang dakwah yang disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali manusia modern, ditentukan oleh beberapa faktor:

1)      Dukungan politis umat Islam harus kuat.

Umat Islam memiliki fungsi utama, terdepan dan pertama dalam menciptakan situasi dan kondisi dakwah yang kondusif. Umat Islam memiliki posisi strategis dalam kekuatan politik sehingga kebijakan yang diberikan merupakan kebijakan yang berorintasi pada tumbuh dan kembang kehidupan beragama. Kenyamanan dan keamanan dalam pelaksanaan agama karena setiap pemeluk agama merupakan pemikiran negara yang tidak terabaikan.

2)      Dukungan kondisi psikis/emosional umat Islam harus kuat.

Umat Islam harus memiliki kemampuan respon psikis yang baik terhadap segala dinamika hidup. Dakwah bukan merupakan pekerjaan yang mudah tetapi Islam mengajarkan untuk melalui proses dan ikhtiar dengan cara yang baik dan cermat, adapun hasil berada ditangan Tuhan. Manusia modern adalah manusia yang memiliki karakter “keangkuhan” rasio. Tidak mudah meyakinkan agama pada mereka, kecuali dengan kesabaran dan optimisme.

3)      Kecerdasan spiritual umat Islam yang mendukung.

Kecerdasan beragama, tidak hanya dalam penguasaan wawasan, tetapi juga keteladanan dalam melakukan hablumminAllah dan hablu minannaas yang baik. Kecerdasan ini akan mengukuhkan akidah dan optimisme hidup dalam mengemban dakwah Islam yang banyak rintangan. Manusia modern berpikirnya rasional dan ilmiah, maka keniscayaan yang harus disiapkan adalah umat Islam tidak melakukan pelanggaranpelanggaran dari ajaran agama. Demikian juga memiliki kemampuan logis-argumentatif atas apa yang disampaikan sehingga bisa diterima oleh nalar manusia modern tersebut.

4)      Kecerdasan intelektual umat Islam yang mapan.

Wacana ini berkaitan dengan kemampuan manusia mengatur hidup. Umat Islam ditantang untuk mengatur waktu dengan baik sehingga lebih kreatif dan produktif. Demikian juga dalam menjalani berbagai profesi ketika mengisi kemajuan zaman harus on time, tidak mengingkari janji yang telah disampaikan. Sebagai manusia zon politicon, manusia dalam kerjapun harus disiplin, cerdas, cermat, mandiri, dan dapat dipercaya.

5)      Ajakan terhadap kesehatan mental berwawasan agama.

Strategi ini dilakukan karena manusia modern memiliki kebutuhan pada kesehatan mental; terhindar dari kesepian, kebosanan, dan kekecewaan juga psikosomatis yang menggejala. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan melakukan konsultasi kesehatan jiwa kepada para psikolog dan psikiater. Hal ini dimaklumi karena manusia modern senantiasa berpikir rasional dan ilmiah sehingga dengan dua profesi ini akan ditemuakan sebuah solusi yang ilmiah pula. Dalam hal ini, terdapat peluang dakwah melalui keahlian umat Islam untuk menekuni dunia kesehatan mental dengan cara pandang agama dalam memberi solusi atas sakit mental yang banyak diderita manusia modern.

Jangan hanya “amar makruf nahi mungkar,” melainkan juga harus diteruskan sampai “tu‘ minu billah”. Karena segmentasi dakwah di Negara atau wilayah yang berbeda membutuhkan metode atau cara yang berbeda pula. Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, akan dikatakan ‘cukup’ dengan semboyan “mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran”. Akan tetapi bagi Negara maju seperti Perancis, yang sangat diperlukan ialah tu ‘minu billah (beriman kepada Allah). Kurang lebih itu yang dipesankan oleh Cendikiawan Muhammadiyah, Kuntowijoyo pada Muktamar Muhammadiyah ke-43 tahun 1995 di Aceh.

Sebagai filosofi dakwah pada masyarakat industri lanjutan, Kunto menyederhanakan konsep Dakwah Kemajuan dengan istilah Kebijaksanaan Kenabian. Menurutnya, pada tahap peradaban masyarakat akhir abad 20 yang mulai bergerak dari industri ke arah industrialisasi lanjutan yang diperlukan adalah kebijaksanaan yang berada di tengah, tetapi jelas, berdiri sendiri, dan merupakan sebuah sistem yang utuh. Mengutip Roger Graudy, penekanan masyarakat agama pada abad 20 adalah sisi transendensi. Maraknya Islamisme atau cara beragama secara kaffaah, namun pada prakteknya harus ada diversifikasi. Dimaksudkan agar setiap sektor sosial, selain kaffah juga mengenal diri mereka sendiri.

Spiritualitas pada peradaban masyarakat industri lanjutan menurut Kunto, orang masih menerima spiritualitas, tapi menolak agama yang formal. Menurutnya, fenomena ini lanjutan dari antroposentrisme yang menjadikan manusia sebagai pusat mengantikan teosentrisme, yang menjadikan Tuhan sebagai pusat. Akibatnya, rasul dan Kitab Suci ditolak. Gejala ini menjadi tantangan besar untuk dakwah. Dalam peradaban ini, intelektualisme yang meliputi ilmu dan teknologi mengantikan agama sebagai “petunjuk”. Agama pada peradaban masyarakat ini berbasis data, orang tidak lagi mengacu Kitab Suci. Meskipun demikian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan intelektualisme, soalnya terletak bagaimana kita menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang menghargai akal.

Selanjutnya yang muncul pada peradaban masyarakat industri lanjut adalah berakhirnya ideologi. Baik negara yang menganut ideologi kapitalisme maupun sosialisme, atau yang lain mengalami nasib yang sama. Ideologi yang ada tersebut tumbang satu persatu. Rivalitas dakwah beralih dengan kerusakan lingkungan, masalah limbah, menipisnya ozon, wabah penyakit, dan masalah polusi. Adanya persoalan ini Kunto menganjurkan supaya agama jangan menampakkan diri sebagai ideologi alternatif, tapi sebagai alternatif dari ideologi. Artinya, Islam bukanlah ideologi penganti yang sama dengan ideologi yang lain, tapi Islam adalah ad-din dan bukan ideologi seperti yang dulu-dulu. Pandangannya yang lain adalah trend ke arah demokrasi akan menjadi umum dalam masyarakat industri lanjut. Namun tidak berjalannya demokrasi akan ditimpahkan kepada umat Islam. Melihat keadaan Amerika yang beberapa waktu lalu yang diterpa demo besar-besaran karena rasisme, Islam akan dilirik dan dibanding-bandingkan dengan sistem pemerintahan, dalam hal ini demokrasi.

Guru Besar Ilmu Budaya UGM ini juga mengingatkan bagi gerakan dakwah untuk bersiap menyambut era pasca modern atau post modern. Semboyan berkemajuan yang dimiliki oleh Muhammadiyah menjadikannya pendukung dan mempercepat datangnya era modern cum post modern. Pada waktu kemajuan disangsikan, cita-cita kemajuan itu digantikan oleh pasca modernisme atau modernisme lanjut. Menerjemahkan konsep makro menjadi mikro tentang “amar makruf nahi mungkar tu’minu billah”. Sehingga menjadi operasional bagi juru dakwah, Kuntowijoyo merinci pandangan makro tersebut menjadi tujuh pandangan mikro yang meliputi cara beragama, filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos, bahasa dan gaya hidup (fashion), upacara (festival).

Dalam filsafat adanya kontradiksi dalam pemikiran di satu pihak menimbulkan dinamika, tapi di lain pihak menyebabkan perpecahan. Cara yang bisa ditempuh untuk mendamaikan kontradiksi tersebut ialah kembalinya manusia kepada tradisi kenabian, pada transendsi. Sementara seni dalam hubungannya dengan dakwah tidak boleh ditempatkan semata-mata sebagai alat. Karena seni lebih dari sekedar komunikasi, seni juga ekspresi, impresi dan seni juga pemikiran. Menurut Kuntowijoyo, seni sebagai dakwah itu sendiri, sebagai hikmah, sebagai kebijaksanaan. Banyak orang bijaksana tetapi tidak semua orang yang bijaksana ialah orang benar. Banyak orang pandai, tetapi jarang orang bijaksana. Menyongsong dan berusaha menggapai kemajuan umat Islam, juru dakwah harus mengubah alam pikir dan yang mitos menjadi historis. Akan tetapi sampai sekarang masih banyak yang berpikir secara mistis, termasuk mitos tentang keunggulan orang Islam di masa lampau. Berpikir mistis semacam itu hanya akan meninabobokan umat Islam sendiri.

Kesimpulan dari tawaran narasi oleh Kunto tersebut adalah kata Bil Hikmah yang selama ini diartikan sebagai metode, perlu diartikan sebagai substansi. Selanjutnya adalah diperlukan kerjasama oleh Muhammadiyah untuk menghimpun kecerdasan bersama dari umat. Untuk dakwah dalam masyarakat industri lanjut, perlu untuk mengenal ciri masyarakat. Kemudian tentang Kebijaksanaan Kenabian dapat menggantikan kemajuan sebagai acuan berkebudayaan masyarakat industri lanjut. Serta, perlu untuk melengkapi istilah “dakwah amar munkar” jadi “dakwah amar ma’ruf nahi munkar iman billah.”[8]

 

 

C.    Praktik Dakwah yang Berkaitan dengan Relasi Agama, Budaya dan Trasformasi Sosial

Islam adalah agama yang “rahmatan lil alamin”. Sehingga Islam harus disebarluaskan kepada umat manusia. Jika kita memiliki sebuah ilmu, jangan hanya diamalkan untuk kehidupannya sendiri, tetapi harus disampaikan kepada orang lain.  Sebagai muslim yang beriman, kita diwajibkan untuk melaksanakan dakwah walaupun hanya satu ayat. Apalagi di era globalisasi yang serba kecukupan saat ini, banyak strategi, metode, dan media yang dapat kita lakukan untuk melaksanakan dakwah. Hadirnya media-media baru seperti surat kabar, majalah, sosial media, jurnal, film, televisi, radio, lukisan, iklan, lagu, dan sebagainya mempercepat penyebaran aktivitas dan materi dakwah. Berbeda ketika pada zaman Rasulullah dan sahabat media dakwah sangat terbatas, hanya berkisar pada dakwah qauliyah bi al-lisan dan dakwah fi’liyah bi al-uswah ditambah dengan media penggunaan surat (rasail).[9] Namun adapula yang masih menggunakan metode ceramah, misalnya dilingkungan pesantren para santri-santri di bekali public speaking dalam kegiatan muhadhoroh dengan materi-materi yang diperoleh dari kiai atau ustadz. Hal tersebut, dimaksudkan untuk melatih ketrampilan berbicara di masyarakat dan menyampaikan gagasan-gagasan tentang agama. Semua hal yang menyakut dakwah akan memiliki nilai positif. Dengan berdakwah berarti kita ikut membantu menyebarluaskan nilai-nilai toleran dan moderat yang dibawa oleh Nabi untuk disebarluaskan kepada umatnya.

Kendati demikian, apabila dakwah dilakukan dengan metode yang salah, seperti merujuk pada kekerasan, pemaksaan, atau melanggar nilai-nilai kemanusiaan maka kemuliaannya menjadi tidak berarti. Kelamaan akan berimbas pada generasi muda atau generasi millenial penerus bangsa yang lahir dalam rentang 25 tahun terakhir, karena tumbuh dan besar dalam dominasi budaya digital yang erat bersinggungan dengan penyebaran pola konsumsi dan gaya hidup serba instan. Apalagi sampai dihadapkan dengan munculnya radikalisme, terorisme, atau ekstremisme. Beberapa konflik yang berasal dari metode dakwah yang salah yaitu tersebarnya video mahasiswa IPB yang mendeklarasikan khilafah, bahwa sistem pemerintahan yang relevan dengan Indonesia ialah sistem khilafah yang berlandaskan asas Islam. Pemikiran itu, menimbulkan pendapat tentang haramnya memilih pemimpin yang beragama non-Islam. Seperti kasus pemilihan Gubernur DKI Jakarta.[10]

Peristiwa di atas merupakan sebagian kecil dari kesalahan dalam berdakwah, yang pada mulanya ditujukan agar masyarakat yang beragama Islam dapat menjalankan aktivitas keagamaan sesuai dengan syariat, namun pada realitanya justru menimbulkan kontroversi. Kemungkinan penyebabnya yaitu kurangnya pemahaman dan pengalaman ajaran Islam, cara komunikasi yang salah, tersebar berita palsu (hoax), modal ekonomi dan sosial yang rendah dan sebagainya. Apabila hal itu dibiarkan terus menerus, akan berakibat pada munculnya gerakan-gerakan baru yang berdakwah seakan-akan mengatasnamakan Islam, dan berpotensi merusak moral generasi muda melalui penanaman ideologi-ideologi yang mengarah pada bentuk-bentuk ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme serta  menimbulkan bangsa Indonesia terpecah belah. Selain itu, banyaknya informasi, apabila informan tidak memilah dan menanggapinya secara obyektif, akan menambah konflik dalam berdakwah.

Salah satu solusinya yaitu metode dakwah yang digunakan di Pondok Pesantren Kramat Kraton Pasuruan yaitu, para santri diberikan kebebasan dalam kreatifitas untuk meningkatkan daya tarik mad’u secara luas, santri diperbolehkan membuat film pendek, hadroh, kajian kitab (mujadalah). Metode dakwah diskusi, menggunakan model informal debate dengan metode brainstorming untuk berpikir dan menemukan jawabnnya sendiri. Kemudian, metode dakwah konseling, da’iyah khoiriyah menggunakan teknik non-derektif yaitu berdakwah dengan mengerti dan memahami kondisi para remaja binaannya, tujuannya yaitu mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Para santri juga dibekali kreatifitas media cetak seperti menerbitkan buletin setiap bulan dan blog dakwah online.

Munculnya komunitas dakwah Islam generasi milenial juga menjadi solusi dalam dakwah, apalagi jika bersamaan dengan ustad atau ustadzah yang di gandrungi generasi milenial, serta materi-materi yang menarik. Seperti Komunitas Kramat Media yang menjadi salah satu jawaban dari tantangan generasi milenial memahami isi, mengimplementasikan dan menyampaikan dakwah melalui film, musik dan tulisan yang sangat digemari pemuda masa kini mengakibatkan penyampaian pesan dan dakwah berkembang dengan pesat dan dinamis. Berikut link Kramat Media yang dapat diakses kapanpun dan oleh siapaun:

 

·         Link YouTube       : https://www.youtube.com/c/PondokPesantrenKramat

·         Link Blogger         : https://www.blogger.com/profile/16448714468317248064

Menurut Abdul Basid sebagai kreator Kramat Media menjelaskan bahwa esensi dakwah adalah bermakna membangun gerakan yang akan membawa manusia ke jalan Islam meliputi aqidah dan syariah, dunia dan negara, mental dan kekuatan fisik, peradaban dan umat, kebudayaan dan politik serta jihad menegakkannya di kalangan umat Islam sendiri, agar terjadi sinkronisasi antara realitas kehidupan muslim dengan aqidahnya. Di dalam dakwah terdapat jalan atau cara yang dipakai untuk menyampaikan ajaran materi dakwah Islam. Saat menyampaikan pesan dakwah,  metode sangat berperan penting, misalnya walaupun baik tetapi disampaikan lewat metode yang tidak benar pesan itu bisa saja ditolak oleh si penerima pesan.

“Dalam mengaplikasikan dakwah melalui media ini tidaklah berjalan lurus, banyak rintangan yang harus dihadapi baik dari atasan, netizen, maupun dari media itu sendiri, jadi kita harus punya jiwa 4 T (Tata, Titi, Tatas, Titis) yaitu tata= tertata, titi= teliti, tatas= kerja tuntas, dan titis= tepat sasaran. Semua itu diambil dari bahasa jawa kuno” jelasnya

Dalam Bloger Kramat Media berisi La Tahzan (motivasi), Humairo (kewanitaan), Siroh (tapak tilas para mujtahid atau sejarah islam), Ilmu Alat (nahwu, shorrof, balaghah, dan mantiq), Forum Fiqih (pembahasan hukum fiqhiyah), Islam Sehat (kesehatan islam ala Rasulullah maupun ulama’ salafunassholih), dan Ubudiyah (pembahasan mengenai permasalahan ibadah sehari-hari). Dakwah dalam Kehidupan Remaja merupakan jawaban pada zaman. Materi yang dipersiapkan hendaknya mudah dicerna, remaja mempunyai bahasa sendiri dalam bahasa sehari-hari, bahkan kadangkala punya ambisi menggunakan bahasa popular walaupun mereka sendiri kurang memahami. Materi yang diperlukan untuk suatu kelompok remaja belum tentu cocok untuk kelompok remaja yang berbeda. Untuk itu pemilihan materi haruslah tepat, apakah itu untuk remaja apakah itu remaja yang berlatar belakang ekonomi lemah, juga apakah pendengar itu heterogen, artinya berbagai tingkat dan mutu pengetahuannya ataukah sejenis. Dengan beraneka latar belakang kehidupan remaja, akan lebih memacu seorang da’i untuk memiliki keterampilan menyusun materi.

Selain itu, metode penyampaian materi dengan tulisan dapat memasuki psikologi seseorang. Tidak hanya ceramah, konten dakwah generasi milenial harus banyak unsur virtualnya. Misalnya, quote, meme, komik skrip, infografis, dan video seiring dengan tren vlog. Kini media sosial digunakan oleh sebagian besar pengguna muda untuk menonton video dibandingkan untuk bersosialisasi. Dengan begitu, peluang bagi portal media Islam harus menyajikan dakwah dalam bentuk yang menarik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

A.    Kesimpulan

Dakwah di jaman sekarang mempunyai kegiatan yang beragam, apalagi di jaman masyarakat industri atau revolusi industri ke 4. Tentunya teknologi berkembang sangat luar biasa, sekaligus membawa efek positif dan negatif bagi manusia. Karena itulah umat islam saat ini dituntut untuk lebih kreatif dalam berdakwah, terlebih dengan memanfaatkan keberadaan media sosial dengan sebaik mungkin. Sekarang kita bisa menggunakan metode dakwah apapun baik metode dakwah bilkhikmah atau bilmedsos tapi kenyataannya sekarang medsos lebih digemari oleh semua kalangan dimulai dari anak kecil sampai orang berusia. Kita sebagai pendakwah harus bisa bertransformasi dalam hal apapun seperti relasi agama, budaya, dan sosial.Modernitas menjadi ancaman tersendiri bagi pendakwah karena akan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan beragama masyarakat industri meskipun penelitian ini sering disertai dengan banyak contoh kasus, namun tidak berarti hal ini mengandung kebenaran yang bersifat menyeluruh atau universal.

B.     Saran

Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Wikipedia.org

Hasan Mohammad, dan Pengembangan Dakwah, (Surabaya, Pena Salsabila 2013), 10

Kompasiana.com

Zain-Badudu, Kamus Umum Bahasa Indonesia, h. 532.

Tafsirweb.com

Ejornal.iainpurwokerto.ac.id

PutroSuadi, Mohammad Arkoun Tentang Islam Modernitas(Jakarta: Paramadina, 1995), h. 3.

http://m.muhammadiyah.or.id

SurianiJulis, “Komunikasi Dakwah Di Era Cyber,” Jurnal An-nida’: Jurnal Pemikiran Islam 41, no. 2 (2017): 252–265.

Muthmainah Sitti, “Peran Dakwah Dalam Mengatasi Konflik-Konflik Sosial Masa Kini,” Jurnal Dakwah Tabligh 15, no. 2 (2014): 245–257.

 



[1] Wikipedia.org

[2] Mohammad Hasan, Metodologi dan Pengembangan Dakwah, (Surabaya, Pena Salsabila 2013), 10

[3] Kompasiana.com

[4] Badudu-Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, h. 532.

[5] Tafsirweb.com

[6] Ejornal.iainpurwokerto.ac.id

[7] Suadi Putro, Mohammad Arkoun Tentang Islam Modernitas(Jakarta: Paramadina, 1995), hal. 3.

[9] Julis Suriani, “Komunikasi Dakwah Di Era Cyber,” Jurnal An-nida’: Jurnal Pemikiran Islam 41, no. 2 (2017): 252–265.

[10] Sitti Muthmainah, “Peran Dakwah Dalam Mengatasi Konflik-Konflik Sosial Masa Kini,” Jurnal Dakwah Tabligh 15, no. 2 (2014): 245–257.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...