MAKALAH
Analisis Dakwah dan Problematika Modernitas
(Agama, Budaya, Transformasi dan Masyarakat Industri)

Dosen Pengampu:
Anis Bachiar, M.Fil.I
Kel. 10
Husen (B01219018)
Khoirotul Nikmah (B01219023)
Muhamad Misbach Najib (B01219032)
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Analisis Dakwah
dan Problematika Modernitas”. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini
adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah dan
Filsafat Dakwah. Selama penyusunan makalah ini kami mendapatkan bimbingan dari
berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan dalam tepat
waktu.
Dalam hal ini kami menyampaikan ucapan terima kasih atas bimbingan
dan bantuan yang telah diberikan oleh:
1.
Bpk. Anis
Bachiar, M.Fil.I selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah dan Filsafat Dakwah
2.
Kedua orang tua
yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materil.
3.
Teman-teman
sepejuangan kami.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tidak terlepas dari
kekurangan. Untuk itu kami senantiasa terbuka menerima kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak guna kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini
kedepan. Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah
ini penulis mengucapkan banyak terimakasih.
Jazakumullah Khairan Katsiro.
Surabaya, 10 Ooktober 2020
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Latar Belakang
BAB I
A. Pengertian Dakwah dan Masyarakat Industri
1. Dakwah
2. Masyarakat Industri
B. Tantangan Modernitas dan Problematika
Dakwah yang Berkaitan dengan Masyarakat Industri Lanjut
C. Praktik Dakwah yang Berkaitan dengan Relasi
Agama, Budaya dan Trasformasi Sosial
BAB
II
A.
Kesimpulan
B.
Saran
Daftar Pustaka
Latar Belakang
Islam dikenal dunia sebagai Agama rahmatan lil’alamin yang membawa
keselamatan dan kedamaian, dimana keselamatan dan kedamaian ini diserukan
melalui sebuah aktivitas mulia yang tidak diajarkan dalam agama manapun kecuali
di dalam Islam. Aktivitas mulia itu adalah dakwah. Dakwah merupakan wadah
sekaligus merupakan sektor terpenting dalam pembentukan pemuda-pemuda Islam
sebagai agen of the change peyebarluasan Islam. Pemuda adalah penerima
estafet dakwah yang harus meneruskan perjalanan dakwah dan banyak lagi nilai
yang ditempelkan pada pemuda. Hal ini tentunya tidak dapat muncul begitu saja,
melainkan dilahirkan oleh realitas proses dakwah itu sendiri. Dapat dibayangkan
jika dakwah Islam tidak ada regenerasi yang akan meneruskan estafet
perjuangannya, maka dakwah Islam akan mulai surut dan kemungkaran akan
merajalela menguasai dunia. Tantangan dakwah Islam juga terkait dengan
tantangan modernitas yang ditandai dengan kreativitas manusia dalam mencari
jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia. Kebutuhan manusia yang melingkupi
seluruh dimensi material dan immaterial, mendorong manusia untuk bekerja dan
berpikir meraih kebutuhan tersebut. Modernitas sudah hadir semenjak zaman
klasik Nabi Muhammad SAW lahir sebagai bapak reformasi.
Modernitas mengalami perkembangan cukup pesat karena didorong oleh
timbul dan berkembanganya masyarakat industri yang muncul setelah terjadinya
revolusi industri. Perkembangan industri dan perdagangan yang dimungkinkan oleh
gerak kapitalisme menggambarkan kemampuan dan manfaat ilmu pengetahuan dan
filsafat bagi kehidupan praktis. Dampak dari modenitas ini menyangkut pada
sektor ekonomi, politik, sosial, budaya, dan agama. Modernitas juga ditandai
dengan hingar-bingarnya teknologi. Modernitas ditandai dengan kreativitas
manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia. Kebutuhan
manusia yang melingkupi seluruh dimensi material dan immaterial, mendorong
manusia untuk bekerja dan berpikir meraih kebutuhan tersebut.
Modernisme khususnya di Barat adalah suatu antroposentrisme yang
hampir tidak terkekang. Seperti pendapat Arnold Toynbe, seorang ahli sejarah
terkenal mengatakan “bahwa modernitas telah mulai sejak menjelang akhir abad
kelima belas masehi, ketika orang Barat berterimakasih tidak kepada Tuhan,
tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan
Kristen abad pertengahan. Kekuatan untuk keluar dari doktrin gereja telah
menggeser cara pandang masyarakat gerejani untuk berpikir rasional dan modern.
Selaras dengan hal tersebut, Pye menegaskan betapa dalam fakta tentang
modernitas yang “given” sekarang ini, terdapat unsur-unsur budaya, yang
dilahirkan pertama kali dari Barat, lengkap dengan pengalaman barat dan budaya
itu, misalnya lingkungan agama dan budaya Kristen. Namun demikian wacana
modernitas tidak serta-merta lepas dari sejarah panjang yang mengitarinya
karena kehadiran modernitas sendiri telah dirintis sejak zaman agraris; zaman
pertanian yang identik dengan masa lalu yang tradisional.
Seiring dengan kesadaran masyarakat kota yang rasional-realistik,
dinamis-maju, maka perlu adanya perubahan paradigma terhadap pemeliharaan dan
pemanfaatan alam yang lebih menjanjikan kesejahteraan dan kemakmuran. Sementara
itu, dalam perspektif sejarah Islam, ruh dan semangat modernitas sudah hadir
semenjak zaman klasik; Nabi Muhammad SAW lahir sebagai bapak reformasi Islam;
mengubah zaman jahiliyah menjadi zaman berperadaban (masyarakat madani). Banyak
jejak yang telah ditulis sang reformer sebagai suatu yang “istimewa”, melampaui
perkembangan dan tradisi masayarakat Arab saat itu, salah satunya meletakkan
perjanjian hudaibiyah sebagai simbol kekuatan dan persatuan bangsa dan
agama-agama, mempersatukan perbedaan, menegakan keadilan, memberi peluang untuk
melakukan partisipasi, akses, kontrol, dan manfaat yang sama pada setiap anak
bangsa (laki-laki dan perempuan Madinah) dalam mematuhi segala peraturan serta
mengubur kebiasaan yang tidak beradab. Kesadaran untuk memajukan umat Islam
telah ditulis pula dalam karya besar anak muslim sebagai penerus modernitas
yang telah ditulis dan dicontohkan sang Reformer.
Oleh karena itu, telah lahir berbagai pemikiran dan karya produksi
manusia modern tentang teknologi sebagai media dakwah. Dari latar belakang
diatas sungguh jelas sekali bahwa dakwah yang bernilai bagi pembinaan pemuda
Islam sangatlah perlu dikaji. Dimana dakwah yang proporsional sesuai dengan
tuntutan masyarakat dan kemajuan teknologi serta informasi dalam menghadapi
zaman yang semakin canggih dan modern. jika dakwah yang disampaikan mengandung
nilai estetika yang tinggi , maka akan terasa indah namun tetap tegas dan
bijaksana, sehingga dakwah yang disampaikan akan dipandang sebagai proses
perubahan yang disajikan secara professional menuju peradaban yang lebih baik.
BAB I
A.
Pengertian
Dakwah dan Mayarakat Industri
1.
Dakwah
Dakwah (Arab: دعوة ,da‘wah; "ajakan") adalah kegiatan yang bersifat
menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah
sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan
masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan
atau ajakan.[1]
Sedangkan menurut istilah para ulama’ memberikan ta’rif (definisi) yang
bermacam-macam antara lain:
·
Syech Ali
Mahfudh dalam kitabnya “Hidayatul Mursyidin” mengatakan dakwah adalah: Mendorong
manusia untuk berbuat kebajikan dan mengikuti petunjuk (agama), menyeru merka
pada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan munkar agar mereka memperoleh
kebahagiaan dunia akhirat.
·
Prof. Dr. H.
Aboebakar Atjeh dalam bukunya “beberapa Catatan Mengenai Dakwah Islam’
mengatakan: Dakwah adalah seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup
sepanjang ajaran Allah yang benar, dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan
nasehat yang baik.[2]
2.
Masyarakat
Industri
Mayarakat industri merupakan sebuah masyarakat yang dalam proses produksinya
didorong atau didukung oleh penggunaan teknologi yang modern, dimana penggunaan
teknologi ini bertujuan untuk menghasilkan barang dalam jumlah yang relatif
besar. Hal ini terjadi karena ditemukannya sebuah sumber energi eksternal,
selain itu urbanisasi menjadi salah satu faktor industrialisasi atau proses
perubahan dari penggunaan teknologi tradisional menuju ke penggunaan teknologi
modern.[3]
Kata Masyarakat berarti kumpulan individu yang menjalin kehidupan
bersama sebagai satu kesatuan yang besar yang saling membutuhkan, memiliki
ciri-ciri yang sama sebagai kelompok. Kata Industri berarti perusahaan yang
membuat atau menghasilkan barangbarang.[4]
Jadi Masyarakat industri berarti kumpulan individu yang menjalin kehidupan
bersama sebagai satu kesatuan yang besar yang saling membutuhkan dan
menghasilkan barang-barang tertentu.
Di era modern sekarang ini, termasuk juga di dalam masyarakat
industri kegiatan dakwah konvensional (lisan, melalui mimbar) dirasa kurang
cukup, dakwah selalu dikembangkan dan dikondisikan dengan memanfaatkan
penggunaan teknologi informasi (seperti; cetak, elektronik, dan internet).
Ajaran Islam semestinya didakwahkan dengan strategi yang tepat karena esensi
dakwah adalah memberikan informasi, menyeru dan mengajak manusia kepada jalan
Tuhannya untuk taat dan patuh pada ajarannya, serta kegiatan penghambaan yang
didasari oleh sikap sabar dan ikhlas, sehingga untuk mendukung efektifitasnya
diperlukan pula pengetahuan mendalam tentang pokok-pokok landasan tentang
dakwah, sebagaimana diisyaratkan didalam Alquran Q.S. al-Nahl (16) ayat: 125:
اُدۡعُ اِلٰى
سَبِيۡلِ رَبِّكَ بِالۡحِكۡمَةِ وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ وَجَادِلۡهُمۡ
بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ
سَبِيۡلِهٖ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ
“Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
siapa yang mendapat petunjuk.”[5]
B.
Tantangan Modernitas dan
Problematika Dakwah yang Berkaitan dengan Masyarakat Industri Lanjut.
Istilah modernitas tidak terlepas dari istilah lain yang serumpun
dengannya. Pertama, modern dalam bahasa Indonesia berarti baru, aktual, trend,
maju, dan baik. Modern juga dapat diterjemahkan sebagai sikap, cara berpikir,
dan cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Kedua, modern memiliki akar
istilah modernitas yang berarti kemodernan. Ketiga, modernisasi, proses
pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk hidup sesuai
dengan tuntutan masa kini. Istilah-istilah tersebut dekat dan akrab dengan
masyarakat saat ini. Modernitas merupakan usaha sadar manusia modern untuk
melakukan perubahan. Modernitas merupkan sebuah natur atau fitrah manusia untuk
melakukan perbaikan hidup. Modernitas dipandang sebagai sebuah kelanjutan wajar
dan logis dalam sejarah dan perkembangan kehidupan manusia. Hanya saja ketika
modernitas memiliki hubungan sejarah dengan Barat yang Kristen (given Barat),
maka menyisakan problematika bagi masyarakat Timur yang Islam.[6]
Agama merupakan undang-undang hidup yang menjanjikan kebahagian
dunia dan akhirat. Hanya saja dalam tataran praktis, manusia tidak seluruhnya
mempercayai agama yang dapat memberi janji kesempurnaan hidup. Mereka
meninggalkan agama dan mencari kebutuhan ruhani lewat alternatif lain, misalnya
kehidupan materialis dan hedonis. Fenomena tersebut merupakan tantangan dakwah.
Apalagi dakwah sejak permulaan kelahirannya memang telah menghadapi berbagai
tantangan, baik spiritual maupun intelektual. Sebagai wahyu, al-Qur’an turun
untuk merespon tantangan yang dilontarkan oleh agama-agama terdahulu, baik
Yahudi maupun Nasrani.
Selanjutnya, pada abad ke-8 hingga abad ke-10 timbul pula tantangan
lain, yaitu tantangan intelektual dan budaya, khususnya yang dimunculkan oleh
intelektualisme Helenis. Dalam menghadapi gelombang tantangan tersebut, Islam
boleh dikatakan berhasil. Bahkan, tradisi intelektualisme Helenis itu akhirnya
diintegrasikan dalam bangunan tubuh ilmu pengetahuan Islam.[7]
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri semua itu tidak lepas dari kondisi Islam
pada waktu itu, yang memang secara psikologis tegar dan secara politis kuat.
Tantangan dan peluang dakwah yang disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat,
tidak terkecuali manusia modern, ditentukan oleh beberapa faktor:
1)
Dukungan
politis umat Islam harus kuat.
Umat Islam
memiliki fungsi utama, terdepan dan pertama dalam menciptakan situasi dan
kondisi dakwah yang kondusif. Umat Islam memiliki posisi strategis dalam
kekuatan politik sehingga kebijakan yang diberikan merupakan kebijakan yang
berorintasi pada tumbuh dan kembang kehidupan beragama. Kenyamanan dan keamanan
dalam pelaksanaan agama karena setiap pemeluk agama merupakan pemikiran negara
yang tidak terabaikan.
2)
Dukungan
kondisi psikis/emosional umat Islam harus kuat.
Umat Islam
harus memiliki kemampuan respon psikis yang baik terhadap segala dinamika
hidup. Dakwah bukan merupakan pekerjaan yang mudah tetapi Islam mengajarkan
untuk melalui proses dan ikhtiar dengan cara yang baik dan cermat, adapun hasil
berada ditangan Tuhan. Manusia modern adalah manusia yang memiliki karakter
“keangkuhan” rasio. Tidak mudah meyakinkan agama pada mereka, kecuali dengan
kesabaran dan optimisme.
3)
Kecerdasan
spiritual umat Islam yang mendukung.
Kecerdasan
beragama, tidak hanya dalam penguasaan wawasan, tetapi juga keteladanan dalam
melakukan hablumminAllah dan hablu minannaas yang baik. Kecerdasan ini
akan mengukuhkan akidah dan optimisme hidup dalam mengemban dakwah Islam yang
banyak rintangan. Manusia modern berpikirnya rasional dan ilmiah, maka
keniscayaan yang harus disiapkan adalah umat Islam tidak melakukan
pelanggaranpelanggaran dari ajaran agama. Demikian juga memiliki kemampuan
logis-argumentatif atas apa yang disampaikan sehingga bisa diterima oleh nalar
manusia modern tersebut.
4)
Kecerdasan intelektual
umat Islam yang mapan.
Wacana ini
berkaitan dengan kemampuan manusia mengatur hidup. Umat Islam ditantang untuk
mengatur waktu dengan baik sehingga lebih kreatif dan produktif. Demikian juga
dalam menjalani berbagai profesi ketika mengisi kemajuan zaman harus on time,
tidak mengingkari janji yang telah disampaikan. Sebagai manusia zon
politicon, manusia dalam kerjapun harus disiplin, cerdas, cermat, mandiri,
dan dapat dipercaya.
5)
Ajakan terhadap
kesehatan mental berwawasan agama.
Strategi ini
dilakukan karena manusia modern memiliki kebutuhan pada kesehatan mental;
terhindar dari kesepian, kebosanan, dan kekecewaan juga psikosomatis yang
menggejala. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan melakukan konsultasi
kesehatan jiwa kepada para psikolog dan psikiater. Hal ini dimaklumi karena
manusia modern senantiasa berpikir rasional dan ilmiah sehingga dengan dua
profesi ini akan ditemuakan sebuah solusi yang ilmiah pula. Dalam hal ini, terdapat
peluang dakwah melalui keahlian umat Islam untuk menekuni dunia kesehatan
mental dengan cara pandang agama dalam memberi solusi atas sakit mental yang
banyak diderita manusia modern.
Jangan hanya “amar
makruf nahi mungkar,” melainkan
juga harus diteruskan sampai “tu‘
minu billah”. Karena segmentasi dakwah di Negara
atau wilayah yang berbeda membutuhkan metode atau cara yang berbeda pula. Bagi
Negara berkembang seperti Indonesia, akan dikatakan ‘cukup’ dengan semboyan
“mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran”. Akan tetapi bagi Negara
maju seperti Perancis, yang sangat diperlukan ialah tu ‘minu billah (beriman kepada Allah). Kurang lebih itu yang dipesankan oleh
Cendikiawan Muhammadiyah, Kuntowijoyo pada Muktamar Muhammadiyah ke-43 tahun
1995 di Aceh.
Sebagai
filosofi dakwah pada masyarakat industri lanjutan, Kunto menyederhanakan konsep
Dakwah Kemajuan dengan istilah Kebijaksanaan Kenabian. Menurutnya, pada tahap
peradaban masyarakat akhir abad 20 yang mulai bergerak dari industri ke arah
industrialisasi lanjutan yang diperlukan adalah kebijaksanaan yang berada di
tengah, tetapi jelas, berdiri sendiri, dan merupakan sebuah sistem yang utuh.
Mengutip Roger Graudy, penekanan masyarakat agama pada abad 20 adalah sisi
transendensi. Maraknya Islamisme atau cara beragama secara kaffaah, namun pada prakteknya harus ada
diversifikasi. Dimaksudkan agar setiap sektor sosial, selain kaffah juga
mengenal diri mereka sendiri.
Spiritualitas
pada peradaban masyarakat industri lanjutan menurut Kunto, orang masih menerima
spiritualitas, tapi menolak agama yang formal. Menurutnya, fenomena ini
lanjutan dari antroposentrisme yang menjadikan manusia sebagai pusat
mengantikan teosentrisme, yang menjadikan Tuhan sebagai pusat. Akibatnya, rasul
dan Kitab Suci ditolak. Gejala ini menjadi tantangan besar untuk dakwah. Dalam
peradaban ini, intelektualisme yang meliputi ilmu dan teknologi mengantikan
agama sebagai “petunjuk”. Agama pada peradaban masyarakat ini berbasis data,
orang tidak lagi mengacu Kitab Suci. Meskipun demikian, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan dengan intelektualisme, soalnya terletak bagaimana kita
menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang menghargai akal.
Selanjutnya
yang muncul pada peradaban masyarakat industri lanjut adalah berakhirnya
ideologi. Baik negara yang menganut ideologi kapitalisme maupun sosialisme,
atau yang lain mengalami nasib yang sama. Ideologi yang ada tersebut tumbang
satu persatu. Rivalitas dakwah beralih dengan kerusakan lingkungan, masalah
limbah, menipisnya ozon, wabah penyakit, dan masalah polusi. Adanya persoalan
ini Kunto menganjurkan supaya agama jangan menampakkan diri sebagai ideologi
alternatif, tapi sebagai alternatif dari ideologi. Artinya, Islam bukanlah
ideologi penganti yang sama dengan ideologi yang lain, tapi Islam adalah ad-din dan bukan ideologi seperti yang
dulu-dulu. Pandangannya yang lain adalah trend ke arah demokrasi akan menjadi
umum dalam masyarakat industri lanjut. Namun tidak berjalannya demokrasi akan
ditimpahkan kepada umat Islam. Melihat keadaan Amerika yang beberapa waktu lalu
yang diterpa demo besar-besaran karena rasisme, Islam akan dilirik dan
dibanding-bandingkan dengan sistem pemerintahan, dalam hal ini demokrasi.
Guru Besar
Ilmu Budaya UGM ini juga mengingatkan bagi gerakan dakwah untuk bersiap menyambut
era pasca modern atau post modern. Semboyan berkemajuan yang dimiliki oleh
Muhammadiyah menjadikannya pendukung dan mempercepat datangnya era modern cum post modern. Pada waktu kemajuan
disangsikan, cita-cita kemajuan itu digantikan oleh pasca modernisme atau
modernisme lanjut. Menerjemahkan konsep makro menjadi mikro tentang “amar makruf nahi mungkar tu’minu billah”. Sehingga menjadi operasional bagi juru
dakwah, Kuntowijoyo merinci pandangan makro tersebut menjadi tujuh pandangan
mikro yang meliputi cara beragama, filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos, bahasa
dan gaya hidup (fashion), upacara (festival).
Dalam
filsafat adanya kontradiksi dalam pemikiran di satu pihak menimbulkan dinamika,
tapi di lain pihak menyebabkan perpecahan. Cara yang bisa ditempuh untuk
mendamaikan kontradiksi tersebut ialah kembalinya manusia kepada tradisi
kenabian, pada transendsi. Sementara seni dalam hubungannya dengan dakwah tidak
boleh ditempatkan semata-mata sebagai alat. Karena seni lebih dari sekedar
komunikasi, seni juga ekspresi, impresi dan seni juga pemikiran. Menurut
Kuntowijoyo, seni sebagai dakwah itu sendiri, sebagai hikmah, sebagai
kebijaksanaan. Banyak orang bijaksana tetapi tidak semua orang yang bijaksana
ialah orang benar. Banyak orang pandai, tetapi jarang orang bijaksana. Menyongsong
dan berusaha menggapai kemajuan umat Islam, juru dakwah harus mengubah alam
pikir dan yang mitos menjadi historis. Akan tetapi sampai sekarang masih banyak
yang berpikir secara mistis, termasuk mitos tentang keunggulan orang Islam di
masa lampau. Berpikir mistis semacam itu hanya akan meninabobokan umat Islam
sendiri.
Kesimpulan
dari tawaran narasi oleh Kunto tersebut adalah kata Bil Hikmah yang selama ini diartikan sebagai
metode, perlu diartikan sebagai substansi. Selanjutnya adalah diperlukan
kerjasama oleh Muhammadiyah untuk menghimpun kecerdasan bersama dari umat.
Untuk dakwah dalam masyarakat industri lanjut, perlu untuk mengenal ciri
masyarakat. Kemudian tentang Kebijaksanaan Kenabian dapat menggantikan kemajuan
sebagai acuan berkebudayaan masyarakat industri lanjut. Serta, perlu untuk
melengkapi istilah “dakwah
amar munkar” jadi “dakwah amar ma’ruf nahi munkar iman billah.”[8]
C.
Praktik Dakwah yang Berkaitan
dengan Relasi Agama, Budaya dan Trasformasi Sosial
Islam adalah agama yang “rahmatan lil alamin”. Sehingga Islam harus
disebarluaskan kepada umat manusia. Jika kita memiliki sebuah ilmu, jangan
hanya diamalkan untuk kehidupannya sendiri, tetapi harus disampaikan kepada
orang lain. Sebagai muslim yang beriman,
kita diwajibkan untuk melaksanakan dakwah walaupun hanya satu ayat. Apalagi di
era globalisasi yang serba kecukupan saat ini, banyak strategi, metode, dan
media yang dapat kita lakukan untuk melaksanakan dakwah. Hadirnya media-media
baru seperti surat kabar, majalah, sosial media, jurnal, film, televisi, radio,
lukisan, iklan, lagu, dan sebagainya mempercepat penyebaran aktivitas dan
materi dakwah. Berbeda ketika pada zaman Rasulullah dan sahabat media dakwah
sangat terbatas, hanya berkisar pada dakwah qauliyah bi al-lisan dan dakwah
fi’liyah bi al-uswah ditambah dengan media penggunaan surat (rasail).[9]
Namun adapula yang masih menggunakan metode ceramah, misalnya dilingkungan
pesantren para santri-santri di bekali public speaking dalam kegiatan
muhadhoroh dengan materi-materi yang diperoleh dari kiai atau ustadz. Hal
tersebut, dimaksudkan untuk melatih ketrampilan berbicara di masyarakat dan
menyampaikan gagasan-gagasan tentang agama. Semua hal yang menyakut dakwah akan
memiliki nilai positif. Dengan berdakwah berarti kita ikut membantu
menyebarluaskan nilai-nilai toleran dan moderat yang dibawa oleh Nabi untuk
disebarluaskan kepada umatnya.
Kendati demikian, apabila dakwah dilakukan dengan metode yang
salah, seperti merujuk pada kekerasan, pemaksaan, atau melanggar nilai-nilai
kemanusiaan maka kemuliaannya menjadi tidak berarti. Kelamaan akan berimbas pada
generasi muda atau generasi millenial penerus bangsa yang lahir dalam rentang
25 tahun terakhir, karena tumbuh dan besar dalam dominasi budaya digital yang
erat bersinggungan dengan penyebaran pola konsumsi dan gaya hidup serba instan.
Apalagi sampai dihadapkan dengan munculnya radikalisme, terorisme, atau
ekstremisme. Beberapa konflik yang berasal dari metode dakwah yang salah yaitu
tersebarnya video mahasiswa IPB yang mendeklarasikan khilafah, bahwa sistem
pemerintahan yang relevan dengan Indonesia ialah sistem khilafah yang
berlandaskan asas Islam. Pemikiran itu, menimbulkan pendapat tentang haramnya
memilih pemimpin yang beragama non-Islam. Seperti kasus pemilihan Gubernur DKI
Jakarta.[10]
Peristiwa di atas merupakan sebagian kecil dari kesalahan dalam berdakwah,
yang pada mulanya ditujukan agar masyarakat yang beragama Islam dapat
menjalankan aktivitas keagamaan sesuai dengan syariat, namun pada realitanya
justru menimbulkan kontroversi. Kemungkinan penyebabnya yaitu kurangnya
pemahaman dan pengalaman ajaran Islam, cara komunikasi yang salah, tersebar
berita palsu (hoax), modal ekonomi dan sosial yang rendah dan sebagainya.
Apabila hal itu dibiarkan terus menerus, akan berakibat pada munculnya
gerakan-gerakan baru yang berdakwah seakan-akan mengatasnamakan Islam, dan
berpotensi merusak moral generasi muda melalui penanaman ideologi-ideologi yang
mengarah pada bentuk-bentuk ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme serta menimbulkan bangsa Indonesia terpecah belah.
Selain itu, banyaknya informasi, apabila informan tidak memilah dan
menanggapinya secara obyektif, akan menambah konflik dalam berdakwah.
Salah satu solusinya yaitu metode dakwah yang digunakan di Pondok
Pesantren Kramat Kraton Pasuruan yaitu, para santri diberikan kebebasan dalam kreatifitas
untuk meningkatkan daya tarik mad’u secara luas, santri diperbolehkan membuat
film pendek, hadroh, kajian kitab (mujadalah). Metode dakwah diskusi,
menggunakan model informal debate dengan metode brainstorming untuk berpikir
dan menemukan jawabnnya sendiri. Kemudian, metode dakwah konseling, da’iyah
khoiriyah menggunakan teknik non-derektif yaitu berdakwah dengan mengerti dan
memahami kondisi para remaja binaannya, tujuannya yaitu mampu menyelesaikan
masalah yang dihadapi. Para santri juga dibekali kreatifitas media cetak
seperti menerbitkan buletin setiap bulan dan blog dakwah online.
Munculnya komunitas dakwah Islam generasi milenial juga menjadi
solusi dalam dakwah, apalagi jika bersamaan dengan ustad atau ustadzah yang di
gandrungi generasi milenial, serta materi-materi yang menarik. Seperti
Komunitas Kramat Media yang menjadi salah satu jawaban dari tantangan generasi
milenial memahami isi, mengimplementasikan dan menyampaikan dakwah melalui film,
musik dan tulisan yang sangat digemari pemuda masa kini mengakibatkan
penyampaian pesan dan dakwah berkembang dengan pesat dan dinamis. Berikut link
Kramat Media yang dapat diakses kapanpun dan oleh siapaun:
·
Link YouTube : https://www.youtube.com/c/PondokPesantrenKramat
·
Link Blogger : https://www.blogger.com/profile/16448714468317248064
Menurut Abdul Basid sebagai kreator Kramat Media menjelaskan bahwa esensi
dakwah adalah bermakna membangun gerakan yang akan membawa manusia ke jalan
Islam meliputi aqidah dan syariah, dunia dan negara, mental dan kekuatan fisik,
peradaban dan umat, kebudayaan dan politik serta jihad menegakkannya di
kalangan umat Islam sendiri, agar terjadi sinkronisasi antara realitas
kehidupan muslim dengan aqidahnya. Di dalam dakwah terdapat jalan atau cara
yang dipakai untuk menyampaikan ajaran materi dakwah Islam. Saat menyampaikan
pesan dakwah, metode sangat berperan
penting, misalnya walaupun baik tetapi disampaikan lewat metode yang tidak
benar pesan itu bisa saja ditolak oleh si penerima pesan.
“Dalam mengaplikasikan dakwah melalui media ini tidaklah berjalan
lurus, banyak rintangan yang harus dihadapi baik dari atasan, netizen, maupun
dari media itu sendiri, jadi kita harus punya jiwa 4 T (Tata, Titi, Tatas,
Titis) yaitu tata= tertata, titi= teliti, tatas= kerja tuntas, dan titis= tepat
sasaran. Semua itu diambil dari bahasa jawa kuno” jelasnya
Dalam Bloger Kramat Media berisi La Tahzan (motivasi), Humairo
(kewanitaan), Siroh (tapak tilas para mujtahid atau sejarah islam), Ilmu Alat
(nahwu, shorrof, balaghah, dan mantiq), Forum Fiqih (pembahasan hukum fiqhiyah),
Islam Sehat (kesehatan islam ala Rasulullah maupun ulama’ salafunassholih), dan
Ubudiyah (pembahasan mengenai permasalahan ibadah sehari-hari). Dakwah dalam
Kehidupan Remaja merupakan jawaban pada zaman. Materi yang dipersiapkan
hendaknya mudah dicerna, remaja mempunyai bahasa sendiri dalam bahasa
sehari-hari, bahkan kadangkala punya ambisi menggunakan bahasa popular walaupun
mereka sendiri kurang memahami. Materi yang diperlukan untuk suatu kelompok
remaja belum tentu cocok untuk kelompok remaja yang berbeda. Untuk itu
pemilihan materi haruslah tepat, apakah itu untuk remaja apakah itu remaja yang
berlatar belakang ekonomi lemah, juga apakah pendengar itu heterogen, artinya
berbagai tingkat dan mutu pengetahuannya ataukah sejenis. Dengan beraneka latar
belakang kehidupan remaja, akan lebih memacu seorang da’i untuk memiliki
keterampilan menyusun materi.
Selain itu, metode penyampaian materi dengan tulisan dapat memasuki
psikologi seseorang. Tidak hanya ceramah, konten dakwah generasi milenial harus
banyak unsur virtualnya. Misalnya, quote, meme, komik skrip, infografis, dan
video seiring dengan tren vlog. Kini media sosial digunakan oleh sebagian besar
pengguna muda untuk menonton video dibandingkan untuk bersosialisasi. Dengan
begitu, peluang bagi portal media Islam harus menyajikan dakwah dalam bentuk
yang menarik.
BAB II
A.
Kesimpulan
Dakwah di jaman sekarang mempunyai kegiatan yang beragam, apalagi
di jaman masyarakat industri atau revolusi industri ke 4. Tentunya teknologi berkembang
sangat luar biasa, sekaligus membawa efek positif dan negatif bagi manusia.
Karena itulah umat islam saat ini dituntut untuk lebih kreatif dalam berdakwah,
terlebih dengan memanfaatkan keberadaan media sosial dengan sebaik mungkin.
Sekarang kita bisa menggunakan metode dakwah apapun baik metode dakwah
bilkhikmah atau bilmedsos tapi kenyataannya sekarang medsos lebih digemari oleh
semua kalangan dimulai dari anak kecil sampai orang berusia. Kita sebagai
pendakwah harus bisa bertransformasi dalam hal apapun seperti relasi agama,
budaya, dan sosial.Modernitas menjadi ancaman tersendiri bagi pendakwah karena
akan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan beragama masyarakat industri
meskipun penelitian ini sering disertai dengan banyak contoh kasus, namun tidak
berarti hal ini mengandung kebenaran yang bersifat menyeluruh atau universal.
B.
Saran
Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat
banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah
tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang membangun dari
para pembaca
Daftar Pustaka
Wikipedia.org
Hasan Mohammad, dan Pengembangan Dakwah, (Surabaya, Pena
Salsabila 2013), 10
Kompasiana.com
Zain-Badudu, Kamus Umum Bahasa Indonesia, h. 532.
Tafsirweb.com
Ejornal.iainpurwokerto.ac.id
PutroSuadi, Mohammad Arkoun Tentang Islam Modernitas(Jakarta:
Paramadina, 1995), h. 3.
SurianiJulis, “Komunikasi Dakwah Di Era Cyber,” Jurnal An-nida’:
Jurnal Pemikiran Islam 41, no. 2 (2017): 252–265.
Muthmainah Sitti, “Peran Dakwah Dalam Mengatasi Konflik-Konflik
Sosial Masa Kini,” Jurnal Dakwah Tabligh 15, no. 2 (2014): 245–257.
[1] Wikipedia.org
[2] Mohammad Hasan, Metodologi dan Pengembangan Dakwah,
(Surabaya, Pena Salsabila 2013), 10
[3] Kompasiana.com
[4] Badudu-Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, h. 532.
[5] Tafsirweb.com
[6] Ejornal.iainpurwokerto.ac.id
[7] Suadi Putro, Mohammad Arkoun Tentang Islam Modernitas(Jakarta:
Paramadina, 1995), hal. 3.
[9] Julis
Suriani, “Komunikasi Dakwah Di Era Cyber,” Jurnal An-nida’: Jurnal Pemikiran
Islam 41, no. 2 (2017): 252–265.
[10] Sitti Muthmainah, “Peran Dakwah Dalam
Mengatasi Konflik-Konflik Sosial Masa Kini,” Jurnal Dakwah Tabligh 15, no. 2
(2014): 245–257.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar