Jumat, 11 Juni 2021

Hambatan Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya di Era Modern

 

Problem atau hambatan dakwah di era modern yang cukup penting adalah menyangkut perbedaan paham yang sering membuat hubungan sosial antar pemeluk agama terganggu (radikal), bahkan dalam taraf tertentu bisa menimbulkan kerawanan sosial. Problem perbedaan ini tidak hanya terjadi dalam internal Islam saja, melainkan juga dalam tataran kehidupan antar umat beragama. Berbagai kasus ketegangan seperti di atas adalah fakta yang tidak terbantahkan. Menurut Amin Abdullah, problem perbedaan dalam agama terjadi karena interpretasi manusia akan teks suci atau devinite text yang dipercaya sebagai ungkapan langsung dari Tuhan kepada manusia, sementara prakteknya di masyarakat tidak ada tafsir tunggal yang dijadikan pedoman”.[1]

Lebih lanjut Abdullah mengurai bahwa perbedaan bisa terjadi karena banyak faktor, antara lain budaya, ekonomi, politik, pendidikan atau perbedaan tingkat peradaban. Perbedaan tafsir agama itu kemudian menjadi problem pelik tatkala ada pihak yang menganggap bahwa otoritasnya saja yang paling berhak mengintepretasikan teks suci dan hanya tafsirnya yang paling benar dan valid, sedangkan tafsir orang lain dianggap salah, yang muncul kemudian dengan semena-mena mencap bid’ah dan murtad disematkan kepada pihak lain. Padahal kebenaran hakiki hanya pada sang pemilik teks, yakni Tuhan itu sendiri. Tidak ada seorang penafsirpun yang berhak mengatasnamakan the author untuk hasil ijtihad-nya; masing-masing tafsif memiliki peluang untuk benar dan salah.[2] Bagi kelompok radikal, diturunkannya agama adalah untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal mana yang haram, serta hal-hal yang dianggap sebagai pokok agama; maka orang yang berusaha mengotak-atik konsep agama sebagaimana yang tertulis dalam teks-teks dalam kitab suci merupakan bentuk “kegenitan” intelektual.[3]

Problem dakwah yang lebih aneh lagi, justru negara ikut melakukan pelanggaran terhadap hak-hak warga negara dalam hal kebebasan agama. Misalnya, Komunitas Adat Karuhun Urang di Cigugur Jawa Barat tidak boleh melakukan perkawinan bila tidak berdasarkan agama. Terpaksa mereka melakukan pernikahan berdasarkan keyakinan yang mereka tidak kehendaki. karena untuk mendapat kartu penduduk mereka harus memilih salah satu agama yang diakui oleh negara. Undang-Undang dan peraturan yang semula dapat mengayomi keberadaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa, dipolitisir dan dipelintir sehingga tidak dapat digunakan lagi untuk melindungi para penghayat, termasuk hak-hak sipil dan budaya mereka.

Faktor lain yang menjadi hambatan dalam dakwah multikultural adalah adanya fanatisme yang berlebihan terdadap pendapat pribadi dan golongan, sehingga apriori menolak pendapat orang lain di luar kelompok atau jamaahnya. Berikutnya, adalah buruk sangka terhadap orang lain dan memandang orang lain dengan pandangan sinis. Jika kondisi seperti ini dibiarkan, maka kedamaian, keadilan, dan ketenangan akan sulit bisa terwujud. Pada akhirnya Islam yang rahmatan lil alamin hanya ada dalam konsep dan tidak akan terlahir dalam kenyataan di Indonesia yang multikultur ini. Padahal, sejarah mencatat bahwa masuknya Islam di Nusantara dilakukan secara damai dan persuasif oleh para da’i, bukan karena kekuatan militer atau dukungan pemerintah. Hal ini berbeda dengan agama Kristen atau Katolik yang datang bersama dengan kolonial Belanda. Menurut ‘Abas Mahmud sebagaimana yang dikutip oleh Alwi Syihab, Islam bisa diterima dan berkembang di kepulauan Nusantara yang penduduknya sudah menganut agama lain, oleh karena faktor keteladanan yang baik dari para da’i yang membawanya. Di setiap penjuru negeri terdapat bukti bahwa keteladanan yang baik menjadi faktor penentu penyebaran Islam,bukan dengan kekerasan.[4]

Dari uraian di atas terlihat bahwa keteladanan, pendekatan persuasif dengan menghargai nilai budaya, dan adat istiadat menjadi faktor penentu keberhasilan dakwah; bukan cara memaksa, menakut nakuti dan intimidasi yang tidak sesuai dengan semangat Islam sebagai agama damai. Dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya plural, model pendekatan dakwah para da’i pendahulu yang telah berhasil menyebarkan Islam di Nusantara perlu tetap dipelihara dan dikembangkan, sehingga nilai-nilai Islam bisa tetap hidup dan menjiwai kehidupan masyarakat.

Adapun pakar komunikasi menjelaskan 15 hambatan dalam berkomunikasi lintas budaya yaitu:[5]

1. Etnosentrisme

Etnosentrisme merupakan sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri. Contoh: Afrika Selatan pernah menganggap masyarakat berkulit putih lebih tinggi derajatnya disbanding masyarakat berkulit hitam.

2.  Stereotipe

Stereotipe adalah sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang, tanpa mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka diabaikan, dianggap homogen. Sikap stereotipe muncul karna dua sebab:

a)      Kecenderungan untuk membagi dunia kedalam dua kategori yaitu ‘aku’ dan ‘mereka’. Ketika informasi yang dimiliki mengenai ‘mereka’ kurang, maka timbul kecenderungan untuk mengganggap ‘mereka’ sebagai homogeny (disamaratakan).

b)      Kecenderungan untuk sedikit mungkin melakukan kerja kognitif dalam berpikir tentang orang lain, sehingga menimbulkan persepsi selektif terhadap orang-orang disekitar dan membuat informasi yang kita terima tidak akurat.

Stereotipe bersifat negatif, sikap ini dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan harmonis. Contoh sikap stereotipe misalnya anggapan bahwa orang berkacamata itu pintar, atau orang padang itu pelit, sedangkan orang batak itu kasar, dan semacamnya. Dengan stereotipe tersebut, bisa saja timbul permasalahan, misalnya stereotipe menganai orang pandang itu pelit, bisa saja membuat orang padang yang bersangkutan merasa tersinggung dan akhirnya timbul konflik.

3. Rasialisme

Rasialisme adalah prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS tertentu.  Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial. Contoh rasialisme misalnya bangsa Jerman yang merasa dirinya lebih unggul dari bangsa lain, semasa Jerman berada di bawah kepemimpinan Hitler. Contoh lain di Indonesia adalah konflik anti-tionghoa yang pernah terjadi sekitar tahun 1998an, dimana terjadi pengusiran besar-besaran dan bahkan pembantaian terhadap ras tionghoa.

4. Prasangka

Prasangka adalah persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat  membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain. Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa, seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Contoh prasangka misalnya prasangka terhadap ras, suku, atau agama tertentu.

Ada tiga tipe prasangka yang muncul:

·         Prasangka kognitif: berada pada ranah pemikiran, benar atau

·         Prasangka afektif: berada pada ranah perasaan, suka atau tidak suka.

·         Prasangka konatif: berada pada ranah perbuatan, misalnya deskrimninasi terhadap kelompok yang dianggap berlawanan.

Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi. Ketika hanya sebatas pada pemikiran, mungkin seseorang hanya akan menjauhi kelompok lain pada saat tertentu saja, namun ramah di saat yang lain. Tapi jika wujud prasangka tersebut hingga ranah prilaku ekstrem seperti diskriminasi, akan membatasi peluang dan akses terhadap kelompok lain akibatnya komunikasi akan sulit dilakukan.

5. Jarak Sosial

Jarak sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual. Kedua daerah tersebut bisa jadi terpisah jarak 100 tahun, meskipun berada di zaman yang sama. Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya. Seperti misalnya ketika ditempat lain telah bisa melakukan komunikasi secara online yang  lebih cepat dan mudah, maka untuk komunikasi dengan orang di wilayah yang jarak sosialnya sangat jauh, seseorang harus datang dan berbicara tatap muka secara langsung yang tentunya akan memakan waktu lama juga biaya yang mahal.

6. Persepsi

Persepsi merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda.  Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.

7. Sikap

Sikap merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap menimbulkan rasa suka atau tidak suka. Sikap seseorang terhadap budaya lain, menentukan prilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit berhasil.

8. Atribusi

Atribusi merupakan proses identifikasi penyebab prilaku orang lain yang dilakukan oleh seseorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan kebudayaannya sendiri. Apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka kebudayaan lain dapat dipandang negatif.

9. Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

10. Paralinguistik

Paralinguistik merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat.

11. Misinterpretation

Misinterpretation atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai intonasi suara, mimic wajah, dkk.

12. Motivasi

Motivasi disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

13. Experiantial

Experiental atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.

14. Emotional

Emotional disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif.

15. Competition

Competiton atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal.



[1] M. Amin Abdullah, “Kata Pengantar”, dalam Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural Cross Cultural Understanding Untuk Demokrasi dan Keadilan (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h. 15

[2] ibid,.

[3] Adian Husaini dan Nuim Hidayat, Islam Liberal: Sejarah , Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabanya (Jakarta: Gema Insani Prees,2002), h. 178.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...