Minggu, 30 Mei 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal Dalam Dakwah


Komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang. Perlu disadari bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan bersosialisasi, bahkan dalam bidang pendidikan agama. Seorang da’i  harus dibekali ilmu komunikasi agar apa yang disampaikanya dapat menjadi efektif dan mad’u dapat memahami pesan dengan mudah. Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah menyampaikan, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi.[1]

Menurut KBBI Kemendikbud (online), Aktivitas adalah suatu kegiatan atau kerja yang dilakukan dalam tiap-tiap bagan perusahaan. Sedangkan Anton M. Mulyono mengungkapkan bahwa aktivitas merupakan kegiatan atau keaktifan. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik ataupun non-fisik adalah sebuah aktivitas. Menurut Sriyono, aktivitas merupakan segala kegiatan yang dilakukan baik secara jasmani atau rohani. Dari penjelasan tersebut maka bisa disimpulkan bahwa aktivitas merupakan kegiatan seseorang yang dilaksanakan baik secara jasmani ataupun rohani atau kegiatan fisik atau nonfisik.[2]

Pada dasarnya aktivitas komunikasi dakwah berdasarkan kegiatan sehari-hari. Aktivitas dakwah yang dilakukan itu menggunakan dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi yang bersifat verbal dan komunikasi yang bersifat non verbal. Komunikasi yang bersifat verbal dilakukan dengan cara lisan atau dengan kata-kata seperti pidato, khutbah, sya’ir dan sebagainya. Sedangkan komunikasi nonverbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan melalui gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan simbol-simbol tulisan seperti blog islami, wayang kulit, kaligrafi, buku sejarah islam, kisah para nabi dan sahabatnya dan sebagainya. Namun dalam Dakwah verbal lisan masih memerlukan bantuan isyarat nonverbal berupa gerakan tangan, gerakan bibir, dan gerakan wajah. Adapun strategi ini dilakukan untuk memberi pendekatan budaya dan meyakinkan mad’u.

Aktivitas komunikasi yang dilakukan seseorang atau kelompok akan menentukan efektifitas komunikasi. Perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi (mad’u) memberi perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku yang terdiri dari perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsikan khalayak. Efek ini berhubungan dengan transmisi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungan dengan emosi, sikap, atau nilai. Sedangkan efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati yang meliputi pola-pola tindakan atau kebiasaan berperilaku.[3]

Sedangkan ketika komunikasi dikaitkan dengan kebudayaan, maka beberapa pakar mendefinisikan komunikasi antarbudaya dalam berbagai sudut pandang yaitu sebagaimana berikut ini:

1.      Joseph DeVito (1997: 479) mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda.

2.      Chaley H. Dood dalam Liliweri (2013) menegaskan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.

3.      Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa dalam Liliweri (2003) menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras, antarkelas social.

Oleh karena itu kita harus dapat mengembangkan kemampuan antarbudaya untuk memahami kebudayaan tersebut, yaitu dengan beberapa hal sebagai berikut:

a.       Menghargai martabat orang lain. Apabila suatu saat anda menemukan diri anda tidak cocok dengan nilai budaya orang lain, maka anda harus mengahargai perbedaan tersebut. Berikanlah penghargaan dan perhatian kepada orang lain sesuai dengan situasi kebudayaan mereka. Usahakan untuk lebih memahami daripada mengkritik. Cobalah untuk menikmati dan merasakan orang lain sesuai dengan kebudayaan mereka.

b.      Jika anda dikritik oleh orang lain, hendaknya anda tidak tersinggung. Kalau kita mempelajari kebudayaan yang tidak kita kenal, maka biasanya kita akan dikritik oleh para anggota budaya itu. Oleh karena itu sebaiknya anda tidak tersinggung karena ritik merupakan pengetahuan tambahan agar kita bisa mawas diri dan memperbaiki hubungan dengan mereka.

c.       Hati-hati membicarakan sesuatu hal yang sensitif, misalnya masalah keuangan, kekayaan, material dan lainlain. Apabila anda berteman dengan orang dari budaya lain maka pelajari persepsi kebudayaan tersebut tentang uang, kekayaan, material dan lain-lainya itu.

d.      Berani menanggung resiko tertentu terhadap privacy. Seringkali dalam suatu kelompok karena anggotanya kurang memahami perbedaan kebudayaan maka sangat mungkin terjadi kesalahpahaman yang membuat salah satu anggota tersinggung, apalagi kalau privasi kita yang merasa terganggu. Anda bisa segera melupakan hal itu dengan berfikir bahwa mereka memang berasal dari kebudayaan lain yang kurang mengetahui bahwa hal tersebut dapat menimbulkan provokasi.

e.       Hormatilah tradisi orang lain. Karena bagi orang lain menganggap tradisi mereka masing-masing adalah merupakan tradisi yang sakral dan suci.

Adapun faktor penghambat aktivitas komunikasi dakwah ini adalah:

a.       Hambatan Sosio-antro-Psikologis proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional. Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi dan masalah yang muncul dimasyarakat.

b.      Hambatan semantic. Faktor semantis menyangkut bahasa baik lisan maupun tulisan yang dipergunakan komunikator sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasinya seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan semantis ini, sebab salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian.

c.       Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Seperti suara microfon yang krotokan, ketikan huruf yang buram tidak jelas dan double pada buku, suara yang hilang-muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang sulit dicari sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada storyboard, dan lain-lain.[4]

d.      Hambatan ekologis disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan. Contohnya adalah suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir dan lain-lain pada saat da’i sedang menyampaikan materi.[5]



[1] Toto Asmara, Komunikasi dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) cet ke-2 hal. 6

[4] Onong Uchjana efendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya),2009, hlm. 11

[5] Ibid., hlm 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...