1.1 Pembahasan
Komunikasi lintas budaya adalah terjadinya pengiriman
pesan dari seseorang yang berasal dari satu budaya yang berbeda dengan pihak
penerima pesan. Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini memberi
penekanan pada aspek perbedayaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan bagi
keberlangsungan proses komunikasi. Akulturasi mengacu pada
perubahan budaya dan psikologi disebabkan perjumpaan dengan orang yang berbeda
budaya yang juga menampakkan prilaku berbeda. Seperti, banyak kelompok di
Indonesia yang terakulturasi kedalam gaya hidup orang Barat baik dalam hal berbusana,
gaya hidup, system pemerintahan dan sebagainya. Selain itu, banyak individu
mengubah prilaku (seperti agama, bahasa, dan lain sebagainya). Proses komunikasi antar budaya melibatkan
berbagai unsur, di antaranya bahasa dan relatifitas pengalaman. Relatifitas
persepsi, perilaku non verbal, gaya komunikasi, serta nilai dan asumsi.
1)
Bahasa
Bahasa
merupakan suatu perangkat kata yang diikat oleh berbagai peraturan. Mempelajari
bahasa asing merupakan proses sederhana dengan menyubtitusikan kata-kata dan
peraturan tata bahasanya, sehingga memiliki arti yang sama. Bahasa merupakan
alat komunikasi dan juga sebagai perwakilan atas persepsi dan pemikiran. Bahasa
juga membantu kita untuk membentuk konsep dan pengelompokkan benda melalui
kategori verbal dan prototip serta membimbing kita dalam merasakan dan memaknai
pengalaman sosial kita.
2)
Persepsi
Pada
tingkat dasar persepsi, bahasa dan budaya membimbing kita dalam membentuk
gambaran tertentu. Persepsi dalam komunikasi antar budaya adalah proses
mengungkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam
lingkungan kita. Setiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda mengenai
realitas di sekelilingnya.
Pengertian
persepsi menurut para ahli, diantaranya:
·
Menurut J. Cohen persepsi adalah
pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada diluar sana.
·
Menurut Rudolph F. Ferderber persepsi adalah
proses menafsirkan informasi indrawi.
·
Menurut John R. Wenburg dan William
W.Wilmot persepsi adalah cara organisme memberi makna.
Sehingga dari
beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah inti
komunikasi dan penafsiran adalah inti persepsi yang identik dengan penyandian
balik.
3)
Perilaku non verbal
Bahasa
verbal merupakan istilah digital, dengan kata lain “kata” sebagai simbolisasi
atas fenomena tertentu. Perilaku nonverbal merupakan istilah analogi, yang
mewakili fenomena tertentu dengan menciptakan keadaan atau suasana yang
diekspresikan secara langsung. Misalnya, secara digital kita ucapkan “Aku
Mencintai mu”. Sementara, secara analogi perasaan tersebut terwakili dengan
tatapan dan sentuhan.
4)
Gaya komunikasi
Pola
kebiasaan dalam berpikir dimanifestasikan dengan perilaku komunikasi. Karena
kebiasaan berpikir kita sebagai besar ditentukan oleh kebudayaan, sehingga saat
proses pertukaran kebudayaan seharusnya kita memerhatikan perbedaan dalam gaya
komunikasi.
5)
Berbagai nilai dan asumsi
Nilai
kebudayaan merupakan suatu pola atau norma kebaikan dan keburukan yang
dihasilkan oleh masyarakat yang kemudian digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Asusmsi kebudayaan berhubungan dengan nilai kebudayaan, namun ia lebih lekat
dengan fenomena-fenomena sosial.[1]
Adapun unsur atau komponen komunikasi sebagai berikut:[2]
1. Manusia
Dalam proses komunikasi manusia tentunya melibatkan beberapa
orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai sumber
pesan dan sebagai penerima pesan. Yang dimaksud dengan sumber pesan adalah
pihak yang menginisiasi sebuah pesan, dan yang dimaksud dengan penerima pesan
adalah pihak yang menjadi target pesan. Setiap individu tidaklah menampilkan
kedua peran ini secara independen. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber
pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan. Baik sumber pesan atau
penerima pesan tidak merespon semua pesan secara seragam atau menyampaikan
pesan dengan cara yang sama. Baik sumber pesan maupun penerima pesan memiliki
karakteristik individu seperti ras, jenis kelamin, usia, budaya, nilai-nilai,
dan sikap yang mempengaruhi orang lain dalam mengirim dan menerima pesan.
2. Pesan
Pesan dalam komunikasi
antar budaya dapat berupa pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari
gagasan atau ide, pemikiran, ataupun perasaan yang sumber pesan ingin sampaikan
atau komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima
pesan. Pesan adalah sebuah isi dari interaksi yang termasuk didalamnya berupa
simbol-simbol (kata-kata atau frasa) yang digunakan untuk mengkomunikasikan
berbagai gagasan yang disertai dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, gesture,
kontak fisik, nada suara, dan kode-kode nonverbal lainnya. Pesan dapat
disampaikan secara singkat dan mudah untuk dimengerti atau bahkan disampaikan
dengan lebih panjang dan sangat kompleks
3. Media
saluran/Channel
Yang dimaksud dengan
channel adalah saluran atau media yang menjadi alur pesan dari sumber pesan
kepada penerima pesan. Sebuah pesan bergerak dari satu tempat ke tempat lain,
atau dari satu orang ke orang lain melalui sebuah media atau channel. Saluran atau
media komunikasi dapat berupa gelombang udara, gelombang suara, kabel dan
lain-lain
4. Umpan
Balik
Feedback atau umpan
balik adalah tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan
verbal ataupun tanggapan nonverbal. Idealnya, kita merespon pesan yang
disampaikan oleh orang lain dengan memberikan umpan balik sehingga sumber pesan
mengetahui bahwa pesan telah diterima. Umpan balik adalah bagian dari berbagai
situasi komunikasi. Walupun tidak memberikan respon atau diam, itupun
sebenarnya adalah bentuk umpan balik
5. Kode
Yang dimaksud dengan kode adalah sebuah
susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna di
dalam pikiran orang atau orang lain. Simbol-simbol yang dimaksud dapat berupa
kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau
menciptakan gambar, pemikiran, dan ide di dalam kikiran orang lain. Sebuah
computer umumnya membawa pesan-pesan melalui kode biner pada kabel atau serat
optic. Hal yang sama dapat kita lakukan dengan orang lain dengan menggunakan
sebuah kode yang disebut dengan bahasa. Terdapat dua kode yang digunakan dalam
komunikasi antar budaya, yaitu kode verbal dan kode nonverbal. Kode verbal
terdiri dari simbol-simbol dan susunan gramatikal. Semua bahasa adalah kode.
Kemudian, kode nonverbal terdiri atas simbol-simbol yang bukan berupa kata-kata
termasuk didalamnya bahasa tubuh, ruang dan waktu, pakaian, dan lain-lain. Kode
nonverbal bukanlah kode non-oral. Semua kode non-oral seperti gerakan tubuh
adalah kode nonverbal. Kode nonverbal meliputi kode oral seperti suara,
durasi, pitch, dan lain-lain.
6. Enconding
dan Decoding
Proses komunikasi dapat dilihat dari Encoding
dan Decoding, Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau
menyandi sebuah pesan ke dalam sebuah kode. Decoding adalah proses memberikan
makna terhadap pesan tadi.
7. Gangguang
atau Hambatan
Dalam segala sesuatu yang kita lakukan
dalam komunikasi antar budaya akan terjadi hambatan ataupun gangguan. Ganguan
adalah segala bentuk interferensi dalam proses encoding dan decoding yang
mengurangi kejelasan sebuah pean. Gangguan dapat bersifat fisik seperti suara
yang sangat keras atau sebuah perilaku yang tidak biasa misalnya seseorang yang
berdiri terlalu dekat dengan kita sehingga kita merasa tidak nyaman. Gangguan
juga dapat berupa gangguan mental, psikologis, atau semantic. Tentunya
unsur-unsur komunikasi lintas budaya tersebut juga berpengaruh dalam kegiatan
berdakwah, karena peroses dakwah tidak akan berhasil ataupun akan menemui
kesusahan jika kehilangan salah satu unsur tersebut. Contohnya adalah dakwah
akan susah dipahami jika da’i memberikan pesan/materi dakwah yang tidak sesuai
dengan pengetahuan mad’u, dan juga proses dakwah tidak akan berjalan menarik
jika da’i tidak mendapatkan feedback yang baik oleh mad’u.
1.2 Kesimpulan
Mengenal
unsur-unsur komunikasi lintas budaya bagi seorang da'i merupakan keharusan.
Karena kapasitas ini akan menjadi tiket para Da'i dalam rangka melakukan proses
adaptasi di berbagai multi budaya, terlebih di Indonesia. Dengan menguasai
unsur-unsur dan proses serta asumsi dalam perilaku dan gaya bahsa, para da'i
akan memahami perbedaan & akan mampu bersikap netral serta berjiwa moderat.
source: https://youtu.be/t2aCTkiJQhY
[1]
Wahidah Suryani, “Komunikasi Antarbudaya: Berbagi Budaya Berbagi Makna”,
Jourrnal Farabi Vol. 10 No. 1 Juni 2013, email :
wahidahsuryanidjafar@yahoo.co.id, hal 8-9.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar