Sabtu, 08 Mei 2021

Konsep dan Fenomena Corak Keberagamaan Masyarakat Nusantara



KHOIROTUL NIKMAH (B01219023) KPI/A1

1.1       Latar Belakang

Ketika Islam hadir di Nusantara ini, ia merupakan agama baru dan pendatang. Disebut agama baru karena kehadirannya lebih belakang dibanding dengan agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme. Disebut sebagai agama pendatang karena agama ini hadir dari luar negeri yaitu negara Arab. Sebagai agama baru dan pendatang saat itu, Islam harus menempuh strategi dakwah tertentu, melakukan berbagai adaptasi dan seleksi dalam menghadapi budaya dan tradisi yang berkembang di Nusantara. Dalam perkembangannya, Islam mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia sehingga Islam mengalami perkembangan pesat. Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa kemenangan Islam itu sangat fenomenal, dua raksasa agama tua yang telah eksis berabad-abad di Nusantara yaitu Hindu-Budha tersingkir sedemikian rupa, kecuali Hindu di Bali yang masih bertahan.[1] Faktanya perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal itu seringkali menimbulkan akulturasi budaya. Akulturasi budaya tidak bisa dibendung ketika Islam memasuki wilayah baru. Jika Islam bersikap keras terhadap budaya atau tradisi lokal yang terjadi justru pertentangan terhadap Islam itu sendiri bahkan peperangan dengan pemangku budaya, tradisi atau adat lokal seperti perang Padri di Sumatera.

Ekpresi Islam lokal ini cenderung berkembang sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Inilah yang dimaksud dengan corak dan warna Islam Nusantara. Ekpresi Islam yang berasal dari persentuhan ajaran-ajaran budaya lokal di Nusantara telah melahirkan berbagai identitas baru yang melekat. Identitas Islam yang baru ini menimbulkan kebingungan bagi orang-orang awam, melahirkan penolakan dari kalangan Islam skripturalis maupun formalis, tetapi menumbuhkan rasa simpati bagi kalangan Islam moderat, bahkan sangat menarik perhatian bagi para ilmuwan sosial untuk mengamati dan mencermati keunikannya masing-masing. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa Islam satu itu hanya terdapat pada al-Qur’an. Tetapi alQur’an (serta hadis) itu membutuhkan penjabaran yang rinci sehingga maksud ayat-ayatnya perlu ditafsirkan dan dijelaskan. Akhirnya menumbuhkan penjelasan dan penafsiran yang berbeda-beda hingga mengkristal menjadi bangunan mazhab maupun aliran yang bermacam-macam.[2]

1.2       Pembahasan

A.    Penegasan Kata Islam Nusantara

Ada golongan yang berkenyakinan bahwa ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad dalam konteks budaya Arab adalah “Final” sehingga harus diikuti sebagaimana adanya. Tidak ada pemisahan antara Islam dan budaya Arab. Golongan pertama ini disebut kelompok fundamentalis yang berambisi menyeragamkan seluruh budaya yang ada dunia menjadi satu sebagaimana yang dipraktekkan Nabi Muhammad. Budaya yang berbeda dianggap bukan bagian dari Islam, sehingga kelompok ini gagal menghadirkan wajah Islam yang ramah dan cenderung memaksakan kehendak kepada budaya lain, bahkan menggunakan kekerasan dalam mendakwahkan Islam.

Golongan kedua yakni kelompok substantif berpikir sebaliknya, mereka menghadirkan Islam sebagai nilai yang dapat masuk dan berkelindan secara substantif dengan konteks budaya lokal. Islam mereka pahami terletak pada nilai bukan pada bentuk fisik dari budaya itu, termasuk budaya Arab, sehingga kelompok kedua ini dianggap mendistorsi ajaran Islam dan rawan terjebak kepada sinkretisme.

Golongan ketiga yakni mereka yang berupaya membuat sintesa menengahi kedua kelompok terdahulu. Kelompok ketiga ini menyatakan bahwa ada dari sisi Islam yang bersifat literal yang perlu dipraktekan apa adanya dalam setiap konteks apapun namun ada juga sisi Islam yang bersifat substantif. Islam Nusantara memposisikan diri pada kelompok ketiga ini yakni melihat Islam secara substantif namun sekaligus tidak menafikan bagian yang literal dari Islam.[3]

Penyematan istilah “Islam Nusantara” memiliki perbedaan dari “Islam di Nusantara”. Nusantara pada istilah yang pertama adalah sifat, Sementara istilah kedua Islam di Nusantara menunjukkan Nusantara hanya sebagai tempat saja yang tidak memiliki hubungan dengan Islam. Oleh karena itu “Islam Nusantara” dapat dipahami Islam dengan corak, warna, kekhasan, keunikan, karakter, budaya Nusantara. Istilah Nusantara di sini tidak menunjuk pada satu model, corak, atau budaya yang seragam, namun menunjuk pada keanekaragaman budaya, suku, adat istiadat dan keyakinan yang ada di pulau-pulau Nusantara.

 

B.     Konsep dan Fenomena Awal Islam Nusantara

Dengan menggunakan prinsip “Adhesi” bukan “Konversi”. “Adhesi” adalah perubahan keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama, sedangkan “Konversi” mengisyaratkan perubahan yang total dan ketertundukan yang penuh pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal. Wali Sanga di Jawa mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dengan ekstrimisme melainkan dalam bentuk kompromi terhadap kepercayaan lokal yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian dan trik-trik supernatural lainnya.[4]

Kesuksesan islamisasi di tanah Jawa pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim dari Champa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi yang diperistri Raja Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan para juru dakwah (wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan jaringan kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat. Kekuatan gerakan ini terletak pada:

1)      Ajaran sufisme “sintetis mistis”

Sufisme yang dimaksud adalah ajaran wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan) sehingga tidak terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak arwah di mana-mana, dan dalam memandang benda-benda alam terpengaruh aura ketuhanan.

2)      Aslimilasi dalam Pendidikan

Asimilisasi pendidikan adalah pembangunan pesantren yang mendidik generasi-generasi pelanjut dakwah Islam, dalam konteks Raden Rakhmat (Sunan Ampel) terlihat peran anak dan muridnya dalam perkembangan Islam di Jawa, seperti Sunan Bonang dan Raden Fatah sebagai sultan dari kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak.

3)      Dakwah lewat seni dan budaya

Gerakan dalam seni dan budaya dalam bentuk wayang yang disesuaikan dengan kisah dan nafas Islam, juga keterlibatan para wali dalam menyusun tembang, kidung, musik, hingga permainan anak-anak yang bernafaskan Islam.

 

C.    Konsep dan Fenomena Pertengahan Islam Nusantara

Lahirnya Neo-Sufisme. Neo-sufisme secara singkat dapat dikatakan sebagai upaya penegasan kembali nilai-nilai Islam yang utuh, yakni kehidupan yang berkeseimbangan dalam segala aspek kehidupan dan dalam segi ekspresi kemanusiaan.[5] Dulu sufisme tidak tertarik untuk memikirkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, bahkan lebih tertumpu ke arah aspek-aspek peribadatan saja. Dari sudut lain, terdapat pula kelompok muslimin (bahkan mayoritasnya) yang lebih mengutamakan aspek-aspek formal-lahiriah ajaran agama melalui pendekatan eksoterik-rasional. Dari banyak usaha percobaan menyatukan antara dua pandangan yang berbeda orientasi itu, maka al-Ghazali telah mengutarakan konsep yang dikenal sebagai syariat, tarekat, hakekat dan makrifat yang terpadu secara utuh.[6] Adapun konsep neo-sufisme oleh Fazlur Rahman sesungguhnya menghendaki agar umat Islam mampu melakukan tawazun (keseimbangan) antara pemenuhan kepentingan akhirat dan kepentingan dunia, serta umat Islam harus mampu memformulasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Kebangkitan kembali tasawuf di dunia Islam dengan istilah baru yaitu Neo-Sufisme nampaknya tidak boleh dipisahkan dari apa yang disebut sebagai kebangkitan agama.

 

D.    Konsep dan Fenomena Modern Islam Nusantara

Tiga sumber utama dari modernisme adalah teori dan praktik kapitalisme, industrialisasi dan negara bangsa. Pada tahap ini Islam Nusantara sudah terlibat aktif dalam politik kebangsaan dan juga dalam fenomena sosial budaya. Di era modern ini wajah Islam Nusantara mengalami banyak kemajuan dan perubahan yang berarti, salah satu yang mengembirakan adalah munculnya generasi Islam yang berpikir progresif dan terbuka kepada konteks zaman yang diwarnai oleh globalisasi serta arus informasi dan digitalisasi. Nilai-nilai pruralisme dan wacana hak asasi manusia serta lingkungan hidup menjadi agenda yang kini makin lama makin sering menjadi agenda bersama agama-agama di mana Islam terlibat aktif di dalamnya. Namun di sisi lain Islam Nusantara juga sedang bergumul dengan menguatnya semangat fundamentalisme agama yang berdampak pada aksi terorisme dan berbagai kekerasan yang membajak agama. Hal ini tidak terlepas dari isu-isu politik internasional dan lokal ditambah lagi dengan kepentingan-kepentingan politik partisan dan pragmatis dimana nilai-nilai substantif dari agama justru dikorbankan. Di era ini Islam Nusantara berhadapan dengan tantangan mengkontekstualisasikan nilai-nilai Islam dengan perkembangan zaman modern, suatu zaman yang dikuasai oleh teknologi informatika. Tanpa penguasaan ilmu dan teknologi informatika tersebut maka umat Islam dapat menjadi umat yang terjajah lagi secara kultural dan psikologis oleh bangsa-bangsa yang didominasi peradaban teknologi tinggi.[7]

 

1.3       Kesimpulan

Islam Nusantara yang menandai corak keberagamaan telah melewati proses panjang dalam aktivitas dakwah para pendahulu yang mampu mengkomunikasikan pesan-pesan Islami di tengah budaya local masyarakat yang jauh sebelumnya telah memiliki seperangkat tradisi dan ritual kepercayaan non-Islami. Kajian dengan pendekatan fenomenologis dan analisis wacana terhadap berbagai sumber  literatur dan media sosial, mengungkapkan fakta bahwa karakteristik keberagamaan Islam Nusantara dapat menginspirasi gagasan-gagasan inklusif, dinamis, dan dialogis bagi pelaku dakwah sebagai model pengembangan dakwah dengan pola komunikasi lintas budaya. Mengingat dunia yang semakin global menjadikan sikap-sikap yang lahir dari corak Islam Nusantara mampu melintasi ragam budaya yang berbeda dalam dakwah dan syiar Islam dan menggabungkan ilmu sosial dengan ilmu dakwah yang biasa disebut sebagai sosiologi dakwah.



[1] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan Sebuah refleksi Sejarah (Bandung,:Mizan,2009), 62

[2] Azyumardi Azra, “Jaringan Islam Nusantara”, dalam Akhmad Sahal (eds.), Ibid.,171-172.

[3] Khabibi Muhammad Luthfi, “Islam Nusantara: Relasi Islam dan Budaya Lokal” dalam (Shahih Vol I, No.I, Januari-Juni 2016: LP2M IAIN Surakarta), 2

[4] ibid., 20-22

[5] Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. Konteks Berteologi di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm.

[6] Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, (Kuwait: Daar al-Bayan, 1970), hlm. 31

[7] Armahedi Mahzar, “Dari Reformasi ke Transformisme Islam: Refleksi Integritas Tentang Angkatan 80- an” dalam ‘Kontroversi Pemikiran Islam di Indonesia’(Bandung:PT.Remaja Rosdakarya:1990),219

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen : Perjuangan dibalik Layar

                                                               Rentan Waktu Oleh: Khoirotul Nikmah AAAAAAAAAAH HUH UUAAAAHHH, AYO BU SED...